Vaksin Influenza Trivalen Jadi Rekomendasi Baru WHO, Ini Penjelasannya
- Penyakit influenza sering disalahartikan oleh masyarakat sebagai selesma atau batuk pilek biasa (common cold) karena gejalanya memang mirip.
Padahal, infeksi saluran pernapasan akut ini sangat menular dan dapat mengancam nyawa, terutama bagi orang dewasa, individu dengan penyakit penyerta (komorbid), serta kalangan lanjut usia (lansia).
World Health Organization (WHO) bahkan mencatat bahwa penyakit ini memicu sekitar 290.000 hingga 650.000 kasus kematian setiap tahunnya di tingkat global.
"Influenza bukan selesma. Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala," ucap Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Virus Influenza Terus Bermutasi, Lindungi Tubuh dengan Vaksin Flu
Sementara pada pasien influenza, demam tinggi kerap terjadi secara tiba-tiba, dan biasanya berakhir dalam tiga sampai empat hari. Pasien juga kerap mengalami sakit kepala.
"Kemudian, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut," ungkap dr. Iris.
Alasan perubahan formulasi vaksin influenza global
Saat ini, rekomendasi komposisi vaksin influenza mengalami pergeseran. WHO tidak lagi mendeteksi sirkulasi virus influenza B/Yamagata secara alami sejak tahun 2020.
Mereka pun merekomendasikan penggunaan vaksin influenza trivalen (TIV), menggantikan formulasi quadrivalent (QIV).
Baca juga: Ramai Disebut Superflu, Begini Cara Mencegah Influenza A Tipe H3N2
Vaksin trivalen difokuskan untuk memberikan perlindungan terhadap tiga strain virus yang terdeteksi masih aktif menyebar, yakni influenza A (H1N1), influenza A (H3N2), dan influenza B/Victoria.
"Transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent merupakan bentuk penyesuaian ilmiah terhadap perkembangan epidemiologi virus influenza global," jelas dia.
Menurut dr. Iris, ini bukanlah pengurangan proteksi, melainkan optimalisasi berdasarkan strain yang saat ini sedang beredar.
"Efektivitas vaksin lebih ditentukan oleh kesesuaian galur (strain) dengan virus yang beredar, bukan semata jumlah galurnya. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan komposisi vaksin," tegar dr. Iris.
Baca juga: Dinkes DKI: Vaksin Influenza Bisa Cegah Super Flu, Tersedia di RSUD
Rendahnya angka vaksinasi influenza di Indonesia
Fakta di lapangan menunjukkan, tingkat kesadaran perlindungan influenza di Indonesia masih berstatus mengkhawatirkan.
Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno (kedua dari kiri), Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (kedua dari kanan), dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI (kanan), dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI mengungkapkan, cakupan vaksinasi pada kelompok dewasa di Tanah Air baru menyentuh angka 0,5 per 1.000 populasi.
Pencapaian ini tertinggal sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia lainnya.
Singapura mencatatkan angka 90 per 1.000 populasi, Jepang mencapai 250 per 1.000 populasi, dan Korea memimpin dengan 311 per 1.000 populasi.
Baca juga: Kemenkes Mulai Vaksin Campak untuk Ratusan Ribu Nakes
Rendahnya partisipasi ini salah satunya didorong oleh minimnya pemahaman masyarakat, yang sering menunda vaksinasi karena menganggap influenza bukan penyakit serius.
Padahal, kekebalan tubuh terhadap virus ini membutuhkan pembaruan rutin. Virus influenza pun terus mengalami mutasi, sehingga komposisi vaksin juga diperbarui secara berkala.
"Dengan vaksinasi tahunan, perlindungan terhadap galur virus yang sedang beredar dapat tetap optimal. Ini khususnya penting bagi dewasa dengan faktor risiko dan kelompok lansia," kata dr. Sukamto.
Selain jadwal rutin tahunan, imunitas tambahan menjadi kebutuhan penting bagi pelancong yang merencanakan perjalanan ke wilayah berisiko tinggi, seperti negara dengan empat musim.
Tingginya interaksi di area publik membuat pelancong lebih rentan terpapar virus, sehingga penyuntikan sangat disarankan untuk dilakukan dua minggu sebelum keberangkatan.
Baca juga: Imunitas Bisa Menurun, Dokter Sarankan Vaksin Campak untuk Dewasa
Mendorong kesadaran masyarakat melalui edukasi preventif
Melihat ancaman komplikasi yang terus mengintai dan rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia, edukasi kesehatan preventif harus terus digencarkan.
Dalam hal ini, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), turut berpartisipasi dengan menghadirkan vaksin influenza trivalen yang sejalan dengan standar medis global.
Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno, mengatakan, kehadiran vaksin ini diharapkan dapat membantu menekan angka rawat inap sekaligus melindungi produktivitas masyarakat.
"Sebagai perusahaan kesehatan, kami berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan bagi masyarakat dan menghadirkan vaksin influenza trivalent yang selaras dengan rekomendasi WHO," ungkap dia.
Baca juga: Hoaks Vaksin Bikin Orangtua Ragu, Cakupan Imunisasi Terancam Turun
Tag: #vaksin #influenza #trivalen #jadi #rekomendasi #baru #penjelasannya