Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
Ilustrasi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) (Pexels/Pixabay)
08:24
8 Mei 2026

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit akibat infeksi virus dengue ini kini tidak lagi muncul hanya pada musim tertentu, melainkan dapat terjadi sepanjang tahun. 

Perubahan pola cuaca, suhu udara yang semakin tinggi, hingga tingginya mobilitas masyarakat membuat penyebaran dengue semakin sulit diprediksi. 

Dalam situasi tersebut, momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi pengingat penting bahwa pencegahan merupakan langkah utama dalam melindungi masyarakat dari penyakit menular, termasuk DBD.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. 

Bahkan, siklus lonjakan kasus yang dahulu terjadi sekitar 10 tahunan kini menjadi lebih cepat, yakni sekitar tiga tahun atau kurang. DBD juga tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi turut memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional. 

Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan total pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Di tengah meningkatnya kasus tersebut, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 untuk memperkuat edukasi dan akses layanan kesehatan terkait pencegahan DBD. 

Kolaborasi ini mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan, kampanye publik digital, hingga akses konsultasi dokter mengenai langkah pencegahan dengue, termasuk vaksinasi.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, menekankan bahwa dengue tidak hanya menjadi ancaman bagi anak-anak, tetapi juga kelompok usia dewasa, terutama usia produktif. 

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap DBD lebih sering menyerang anak-anak, padahal risiko pada orang dewasa tetap tinggi dan dapat berdampak luas terhadap aktivitas sehari-hari maupun produktivitas keluarga.

“Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga," kata dia.

Selain itu, lanjut dr. Sukamto, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Karena itu, pencegahan sejak awal dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko kondisi yang lebih serius.

Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. 

"Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, yang menilai DBD memiliki karakteristik unik karena perjalanan penyakitnya sering kali sulit diprediksi.

“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran,” ujarnya.

Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang memerlukan perhatian khusus. Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, sementara proporsi kematian terbesar terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.

Faktor daya tahan tubuh yang masih berkembang dan keterlambatan mengenali gejala turut memengaruhi tingginya risiko tersebut. Karena itu, Prof. Hartono menegaskan pentingnya langkah pencegahan yang dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif.

Ia juga menjelaskan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan, termasuk imunisasi dengue yang kini direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan terbaru BPOM.

“Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” katanya.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius hingga mengancam jiwa. 

Hingga kini, belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan dengue sehingga penanganannya masih berfokus pada pengelolaan gejala.

“Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Ia menilai kemitraan dengan Halodoc menjadi langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi masyarakat mengenai pencegahan dengue.

Sementara itu, CEO dan Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengatakan pihaknya berkomitmen mempermudah akses layanan kesehatan terpercaya, termasuk edukasi dan langkah preventif terkait DBD.

“Mengingat besarnya beban penyakit ini, kemitraan kami dengan Takeda hadir untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal IV 2025,” katanya.

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu membuat risiko penyebaran DBD semakin tinggi. Karena itu, pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terintegrasi mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan. 

Momentum Pekan Imunisasi Dunia pun menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan perlu dimulai sebelum penyakit datang, agar masyarakat dapat terlindungi secara lebih optimal dari ancaman DBD.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #pekan #imunisasi #dunia #jadi #pengingat #kini #mengancam #anak #hingga #dewasa

KOMENTAR