Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi sate ayam(Dok. Sajian Sedap/Tipabg Tan)
15:36
29 Mei 2026

Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter

Perayaan Idul Adha identik dengan berbagai olahan daging kurban, mulai dari sate, gulai, tongseng, hingga aneka makanan bersantan lainnya.

Pada momen ini, banyak keluarga menikmati hidangan daging selama beberapa hari berturut-turut, termasuk anak-anak.

Namun, tidak sedikit orangtua yang khawatir anak terlalu banyak mengonsumsi daging saat Idul Adha.

Kekhawatiran ini biasanya berkaitan dengan risiko kolesterol tinggi, konsumsi lemak berlebih, hingga keamanan jeroan untuk anak.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A menjelaskan bahwa pada dasarnya anak tetap boleh makan olahan daging kurban selama konsumsinya tidak berlebihan.

“Kalau misalnya ditanya aman atau tidak, sebetulnya secara garis besar aman. Terutama apabila dikonsumsinya dalam jumlah cukup dan tidak berlebihan,” ujar dr. Prajnya dalam siaran kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dikutip Jumat (29/5/2026).

Anak tetap membutuhkan daging untuk tumbuh kembang

Menurut dr. Prajnya, daging sapi maupun kambing sebenarnya memiliki banyak kandungan gizi penting yang dibutuhkan anak.

Daging mengandung protein dengan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh.

Selain itu, daging juga mengandung zat besi heme yang lebih mudah diserap tubuh dibanding zat besi dari sayuran.

“Daging sapi dan daging kambing itu mengandung protein yang baik, zat besi, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan anak,” jelasnya.

Karena itu, konsumsi daging tidak selalu identik dengan dampak buruk bagi kesehatan, selama porsinya tetap terkontrol.

Baca juga: Dokter Ingatkan Pentingnya Aktivitas Fisik setelah Idul Adha, Cegah Kolesterol Naik

Risiko jika anak terlalu banyak makan daging dan santan

Meski aman, orangtua tetap perlu memperhatikan jumlah dan cara pengolahan daging yang dikonsumsi anak selama Idul Adha.

Dokter Prajnya menjelaskan bahwa risiko kesehatan biasanya muncul ketika anak terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, terutama dari santan, gorengan, dan bagian daging berlemak.

“Kondisi yang bisa terjadi salah satunya adalah dislipidemia, yaitu peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh,” kata dia.

Kolesterol dan lemak yang menumpuk dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, meski pada anak kasusnya lebih jarang dibanding orang dewasa.

Selain itu, konsumsi jeroan berlebihan juga perlu dibatasi karena mengandung lemak dan purin cukup tinggi.

Benarkah daging kambing lebih berbahaya?

Di masyarakat, daging kambing sering dianggap lebih berisiko memicu kolesterol dibanding daging sapi. Namun menurut Prajnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dalam kondisi yang sama-sama tanpa lemak, daging kambing justru memiliki kandungan lemak lebih rendah dibanding daging sapi.

“Kalau membandingkan daging sapi dan kambing tanpa lemak, sebenarnya daging sapi memiliki kadar lemak lebih banyak dibanding daging kambing,” ujar dia.

Karena itu, yang lebih penting diperhatikan adalah bagian daging yang dipilih dan cara memasaknya.

Bagian daging dan jeroan yang perlu dibatasi

Prajnya mengatakan bagian seperti otak dan sumsum sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering, terutama pada anak yang lebih besar.

“Kalau otak dan sumsum sebaiknya sesekali saja karena kandungan lemak dan kolesterolnya cukup tinggi,” katanya.

Sementara itu, jeroan lain seperti hati, paru, dan usus tetap boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas.

Meski demikian, pada anak usia di bawah dua tahun, konsumsi lemak tidak perlu terlalu dibatasi karena otak anak masih berkembang pesat dan membutuhkan lemak sebagai salah satu nutrisi penting.

Baca juga: Hati-hati Kolesterol Naik Usai Idul Adha, Daging Kurban Bisa Jadi Pemicu

Cara memasak juga berpengaruh

Selain jenis daging, metode memasak juga memengaruhi kadar lemak dalam makanan.

Menurut dr. Prajnya, makanan yang digoreng atau menggunakan santan cenderung meningkatkan asupan lemak lebih tinggi dibanding makanan rebus atau kukus.

“Kalau secara umum, yang paling baik itu direbus atau dikukus,” ujarnya.

Sementara makanan bakar seperti sate memang tidak langsung meningkatkan kolesterol, tetapi tetap sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.

Apakah anak boleh makan sate saat Idul Adha?

Prajnya menegaskan anak tetap boleh menikmati sate, gulai, maupun olahan daging lainnya saat Idul Adha sebagai bagian dari momen spesial keluarga.

Namun, orangtua disarankan tetap menjaga variasi makanan dan tidak memberikan menu daging berlebihan setiap hari.

“Kalau hanya saat Lebaran atau momen tertentu tentu masih aman. Yang perlu hati-hati kalau konsumsinya setiap hari dan berlebihan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar orangtua tetap menerapkan pola makan seimbang, memperbanyak sayur dan buah, serta memastikan anak tetap aktif bergerak selama libur Idul Adha.

Tag:  #amankah #anak #makan #sate #gulai #saat #idul #adha #penjelasan #dokter

KOMENTAR