Saudi Nyatakan 5 Diplomat Iran Persona Non Grata, Apa Pemicunya?
Hubungan Arab Saudi dan Iran kembali memanas. Pemerintah Arab Saudi secara resmi mengusir atase militer Iran beserta empat staf Kedutaan Besar Iran di Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan regional sejak akhir Februari 2026.
Langkah diplomatik ini menandai memburuknya hubungan kedua negara, yang sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca-Kesepakatan Beijing.
Riyadh menyebut keputusan tersebut diambil setelah serangkaian serangan yang dinilai mengancam keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Baca juga: Iran Balas Serangan di Natanz: Jebol Pertahanan Israel, Lukai 100-an Orang
Berikut fakta-fakta terkait pengusiran diplomat Iran dari Arab Saudi.
Diberi waktu 24 jam untuk angkat kaki
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyampaikan nota diplomatik kepada pemerintah Iran pada Sabtu (21/3/2026).
“Kerajaan Arab Saudi telah memberitahukan Atase Militer di Kedutaan Besar, Asisten Atase Militer, dan tiga anggota staf misi untuk meninggalkan Kerajaan sebagai persona non grata, dan bahwa mereka harus meninggalkan Kerajaan dalam waktu 24 jam,” demikian pernyataan yang dikutip dari Iran International, Minggu (22/3/2026).
Status persona non grata merupakan mekanisme dalam hukum diplomatik internasional yang digunakan negara penerima untuk menyatakan bahwa seorang pejabat asing tidak lagi dapat diterima.
Dengan status itu, kelima staf kedutaan Iran diwajibkan meninggalkan wilayah Arab Saudi dalam waktu satu hari.
Saudi menilai Iran langgar prinsip hubungan antarnegara
Bagi Riyadh, pengusiran ini bukan sekadar keputusan administratif, melainkan respons langsung atas tindakan yang dipandang melanggar kedaulatan negara dan prinsip hubungan bertetangga yang baik.
Dirangkum dari Al Arabiya, Minggu (22/3/2026), pemerintah Saudi menilai serangan yang menyasar wilayahnya serta negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menunjukkan bahwa komitmen damai antara kedua pihak semakin rapuh.
Baca juga: Analis China Ungkap Cara Iran Tembak F-35, Jet Tempur Siluman Tercanggih AS
Arab Saudi juga menilai tindakan Iran bertentangan dengan narasi yang selama ini kerap dikedepankan Teheran, termasuk soal penghormatan terhadap nilai-nilai Islam dan hubungan antarsesama negara Muslim.
Menurut Riyadh, serangan yang menyasar fasilitas sipil dan ekonomi tidak bisa dibenarkan.
Arab Saudi bahkan merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 untuk menegaskan bahwa tindakan Iran dianggap sebagai provokasi serius yang berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang terhadap hubungan bilateral.
Bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas
Banner di Valiasr Square di Teheran menggambarkan estafet kepemimpinan dari Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri), Ayatollah Ali Khamenei (tengah), menuju anaknya, Ayatollah Mojtaba Khamenei (kanan) sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, saat difoto pada 10 Maret 2026.
Pengusiran diplomat Iran terjadi di tengah memanasnya konflik regional di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat tajam sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Sebagai respons, Iran dilaporkan melancarkan serangan berulang menggunakan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Arab Saudi sebelumnya melaporkan telah mencegat empat drone di Provinsi Timur dan menghadang rudal yang mengarah ke wilayahnya.
Insiden-insiden itu memperkuat kekhawatiran Riyadh bahwa konflik yang semula berpusat pada Iran dan Israel kini semakin meluas ke negara-negara Teluk.
Baca juga: Iran Ancam Serang Tempat Wisata Musuh, Perang Bisa Meluas ke Luar Timteng
Saudi jadi negara Teluk kedua yang mengusir diplomat Iran
Arab Saudi menjadi negara Teluk kedua yang mengambil langkah tegas terhadap perwakilan militer Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (22/3/2026), Qatar lebih dulu mengusir atase militer dan keamanan Iran pada pekan yang sama.
Langkah Doha diambil setelah serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan luas pada fasilitas gas alam cair (LNG) di Ras Laffan.
Baik Saudi maupun Qatar kini menunjukkan sikap yang semakin keras dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan nasional, keselamatan warga, dan perlindungan infrastruktur strategis mereka.
Kedua negara menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan hak mempertahankan diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB.
Tag: #saudi #nyatakan #diplomat #iran #persona #grata #pemicunya