Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat berpidato di acara PBB di Jenewa, 17 Februari 2026.(AFP/VALENTIN FLAURAUD)
16:18
1 April 2026

Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi

- Pemerintah Iran mengakui adanya pertukaran pesan dengan Amerika Serikat (AS) di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah. 

Meski demikian, Teheran membantah keras bahwa komunikasi tersebut merupakan sebuah bentuk negosiasi formal untuk mengakhiri konflik.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa pesan-pesan tersebut disampaikan baik secara langsung melalui utusan khusus maupun lewat perantara negara-negara di kawasan.

“Saya menerima pesan langsung dari Steve Witkoff (utusan khusus AS), seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti bahwa kami sedang dalam negosiasi,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.

“Tidak ada kebenaran dalam klaim adanya negosiasi dengan pihak mana pun di Iran. Semua pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima olehnya, dan ada komunikasi antar lembaga keamanan,” sambungnya.

Baca juga: China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar

Kepercayaan pada AS berada pada titik nol

Araghchi menjelaskan, mereka tidak pernah memiliki pengalaman baik dalam bernegosiasi dengan AS.

Sebab, beberapa tahun yang lalu mereka pernah mencapai kesepakatan, hanya untuk kemudian AS menarik diri darinya, merujuk pada Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015.

“Kami tidak yakin bahwa negosiasi dengan AS akan membuahkan hasil apa pun. Tingkat kepercayaan berada di angka nol, kami tidak melihat kejujuran,” jelas dia.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya juga mengayakan bahwa AS tidak percaya pada diplomasi, karena Iran diserang dua kali selama negosiasi dengan Washington.

Meskipun Iran memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung, ia menegaskan perlunya jaminan untuk mencegah terulangnya agresi.

Baca juga: Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz

Rencana Iran di Selat Hormuz

Sementara itu, Araghchi menjelaskan, wajar bagi negaranya untuk menggunakan Selat Hormuz secara strategis.

“Selat ini hanya ditutup untuk kapal-kapal milik mereka yang sedang berperang dengan kita. Itu normal selama perang. Kita tidak bisa membiarkan musuh kita menggunakan perairan teritorial kita untuk perdagangan,” ujarnya.

“Kapal-kapal yang terkait dengan negara lain karena masalah keamanan, karena harga asuransi yang tinggi, atau alasan lain apa pun, mereka telah memutuskan untuk tidak menggunakan selat tersebut,” sambungnya.

Menurutnya, apa yang akan terjadi pada keamanan Selat Hormuz setelah perang akan menjadi keputusan Oman dan Iran, tetapi jalur itu dapat menjadi jalur air yang damai.

Baca juga: Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz

Iran tak takut serangan darat AS

Ilustrasi Selat Hormuz.Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz.

Di tengah laporan tentang kemungkinan operasi darat AS, ia menegaskan kembali bahwa Teheran tidak takut.

“Kami sedang menunggu mereka. Saya rasa mereka tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Akan ada banyak kekuatan yang menunggu mereka," tuturnya.

“Kami tahu betul bagaimana cara membela diri. Dalam perang darat, kami bahkan bisa melakukannya dengan lebih baik. Kami sepenuhnya siap menghadapi segala jenis serangan darat. Kami berharap mereka tidak melakukan kesalahan seperti itu,” tambahnya.

Araghchi juga mengklarifikasi kepada Al Jazeera bahwa Teheran belum menanggapi proposal 15 poin yang dikirim oleh AS.

Pihaknya juga belum mengajukan proposal atau syarat apa pun.

Tag:  #iran #akui #jalin #kontak #dengan #tapi #bantah #negosiasi

KOMENTAR