Iran Hidupkan Lagi Skenario Perang 1980-an, Siaga Merah Hadapai Invasi Darat AS
- Iran dilaporkan tengah memperkuat pertahanan militernya secara besar-besaran guna mengantisipasi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat (AS).
Langkah ini mencakup penguatan benteng di pulau-pulau strategis hingga mobilisasi massa yang melibatkan perekrutan anak-anak.
Persiapan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan ribuan personel Marinir dan pasukan lintas udara ke Timur Tengah.
Baca juga: Usai Diamcam Trump, Iran Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur AS dan Israel
Meski Washington belum secara resmi mengumumkan invasi darat, pengerahan pasukan tersebut memberi AS opsi untuk melakukan serangan darat, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Kamis (2/4/2026).
Fokus utama pertahanan Iran saat ini berada di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyatakan, langkah-langkah pengamanan telah ditingkatkan setelah kunjungan kerjanya ke lokasi tersebut.
Seorang pejabat Iran menyebutkan bahwa strategi pertahanan mencakup pemasangan sistem rudal berpemandu, ranjau di sepanjang garis pantai, serta pemasangan jebakan di berbagai fasilitas strategis.
Analis militer juga meyakini adanya jaringan terowongan yang digali di pulau-pulau tersebut sebagai tempat penyimpanan amunisi dan peluncuran serangan balik.
"Iran bermaksud membuat setiap pendaratan AS semahal dan semustahil mungkin secara politik," ujar Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House.
Menurut Vakil, Iran kemungkinan besar akan menggunakan taktik serangan kawanan menggunakan drone untuk memberikan efek kejut sebelum memperluas pembalasan ke negara-negara tetangga.
Baca juga: Terbakar Saat Perang Iran, USS Gerald R Ford Berangkat Lagi Usai Diperbaiki di Kroasia
Bisa meluas ke tetangga
Teheran telah memberi sinyal bahwa mereka tidak akan membatasi medan perang hanya di wilayahnya sendiri.
Kepada negara-negara tetangga, Iran mengancam akan menyerang platform minyak lepas pantai, pembangkit listrik, hingga fasilitas desalinasi air jika wilayah mereka diinvasi.
Gleb Irisov, mantan perwira Angkatan Udara Rusia yang pernah bekerja sama dengan pasukan Iran di Suriah, menilai bahwa medan tempur di pesisir akan sangat mematikan bagi pasukan penyerang.
"AS perlu mendaratkan lebih dari 100.000 tentara di seluruh garis pantai untuk melindungi pulau-pulau dan selat tersebut. Cara lain hanya akan berakhir dengan jatuhnya korban massal di pihak Amerika," kata Irisov.
Senada dengan hal tersebut, pengamat pertahanan yang berbasis di Teheran, Mohammad Hassan Sangtarash, memperingatkan bahwa operasi AS untuk merebut pulau-pulau Iran justru akan semakin mengacaukan stabilitas Selat Hormuz.
Baca juga: AS Kembali Ditolak Negara Eropa Saat Mau Pakai Wilayah Udara untuk Perang Iran
Mobilisasi massa da rekrut anak-anak
Di dalam negeri, rezim Teheran mulai menggerakkan sentimen patriotisme yang mengingatkan pada masa Perang Iran-Irak tahun 1980-an.
Melalui pesan singkat kepada warga, pemerintah meluncurkan kampanye "Janfada" atau "Pengorbanan" untuk merekrut relawan guna melawan pasukan AS.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan secara terbuka merekrut anak-anak berusia mulai 12 tahun untuk layanan pendukung seperti memasak, perawatan medis, hingga menjaga pos pemeriksaan.
"Mengingat sambutan antusias dari masyarakat, kami memutuskan untuk menciptakan lingkungan di mana semua pihak dapat berperan membela tanah air berdasarkan keahlian dan kemampuan mereka," ungkap Rahim Nadali, Wakil Direktur Kebudayaan dan Seni IRGC.
Baca juga: Usai Ancaman “Zaman Batu” Trump, AS Runtuhkan Jembatan Strategis Iran
Para anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer di Teluk untuk memulai rangkaian simulasi militer di Selat Hormuz pada 16 Februari 2026.
Meski jumlah pasti relawan sulit diverifikasi, media lokal Fars mengeklaim jutaan warga telah mendaftarkan diri.
Ancaman invasi darat tampaknya berhasil menyatukan rakyat Iran yang sebelumnya terbelah secara politik.
Isu kedaulatan wilayah menjadi titik temu bagi pendukung maupun penentang rezim.
Azam Jangravi, seorang aktivis yang melarikan diri dari Iran, mengaku bahwa ia awalnya mendukung kampanye pengeboman terhadap pemimpin Iran, namun berubah pikiran saat ada ancaman pendudukan wilayah.
"Integritas wilayah adalah garis merah bagi sebagian besar warga Iran, baik mereka yang mendukung rezim maupun yang menentangnya," tegas Jangravi.
Baca juga: Israel Dihujani Rudal Iran Usai Trump Pidato
Tag: #iran #hidupkan #lagi #skenario #perang #1980 #siaga #merah #hadapai #invasi #darat