Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, secara mengejutkan memecat perwira tinggi Angkatan Darat, Jenderal Randy George. Langkah drastis ini diambil saat Gedung Putih juga tengah mendiskusikan kemungkinan pemecatan Menteri Angkatan Darat di tengah situasi serangan ke Iran yang sedang berlangsung.
Kedua manuver ini diprediksi akan menjadi perombakan militer terbesar pada masa perang dalam beberapa dekade terakhir.
Hegseth secara langsung meminta Jenderal Randy George, yang baru saja menjalani separuh masa jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, untuk segera mundur dan pensiun.
Informasi ini disampaikan oleh seorang pejabat Pentagon kepada The Atlantic. Di saat yang sama, para pejabat di Gedung Putih juga sedang mendiskusikan masa depan Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll, yang dikenal sebagai teman dekat Wakil Presiden JD Vance.
Seorang pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa Driscoll diperkirakan akan segera meninggalkan jabatannya dalam waktu dekat.
Meskipun Hegseth dan Presiden Donald Trump berulang kali memuji kinerja militer dalam perang melawan Iran, posisi George dipandang melemah sejak kedatangan Hegseth di Pentagon.
Mantan pembawa acara Fox News yang dikenal sebagai seorang Kristen garis keras itu memang telah memecat sejumlah pejabat senior yang terkait dengan pemerintahan sebelumnya atau mereka yang mendukung inisiatif keberagaman yang ia anggap sebagai “omong kosong.”
Persaingan internal juga mewarnai dinamika di pucuk pimpinan militer. Hegseth dan Driscoll, yang keduanya merupakan veteran Angkatan Darat dengan ambisi politik, dilaporkan telah terlibat dalam persaingan selama setahun terakhir.
Namun, waktu pemecatan George dan ketidakpastian masa depan Driscoll menimbulkan risiko besar, terutama karena terjadi pada hari ke-33 serangan melawan Iran. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menciptakan ketidakstabilan di angkatan bersenjata terbesar Amerika Serikat.
Saat ini, setidaknya 50.000 tentara beserta puluhan kapal dan kapal selam telah dikerahkan di kawasan Teluk. Pasukan darat, termasuk Angkatan Darat, diprediksi akan memainkan peran penting dalam operasi tersebut.
Sejauh ini, fokus serangan masih berada pada sektor udara dan laut, sementara Presiden Trump tengah mempertimbangkan serangan lebih lanjut di Iran, termasuk potensi penyitaan uranium yang diperkaya atau penguasaan Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran.
Ketegangan di lapangan semakin nyata dengan kedatangan anggota Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat di wilayah tersebut selama seminggu terakhir.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, tercatat 13 anggota militer Amerika telah tewas dalam tugas. Baik Hegseth maupun George sebelumnya sempat melakukan perjalanan ke pangkalan Angkatan Udara Dover di Delaware saat jenazah para korban tewas kembali ke tanah air.
Selain masalah personel, Amerika Serikat juga menghadapi tantangan logistik dan finansial yang besar. Miliaran dolar telah dihabiskan untuk membeli amunisi yang dioperasikan oleh Angkatan Darat guna menangkal serangan pesawat tak berawak dan rudal balistik Iran.
Hal ini membuat George—dan kini penggantinya—memiliki tugas berat untuk menemukan cara mengisi kembali persenjataan mahal tersebut di tengah kecamuk perang.
Kecepatan pemecatan yang dilakukan Hegseth di bidang militer dianggap melampaui standar pimpinan Pentagon lainnya di era modern, termasuk jika dibandingkan dengan dua dekade perang di Irak dan Afghanistan.
Sejak menjabat, Hegseth telah memecat Kepala Staf Gabungan, laksamana tertinggi Angkatan Laut AS, hingga jenderal nomor dua di Angkatan Udara, bersama dengan puluhan perwira tinggi dan pengacara militer di seluruh angkatan.
Hingga saat ini, Hegseth belum memberikan alasan rinci secara publik atas rentetan kepergian para pejabat tersebut. Juru bicara Hegseth, Sean Parnell, dalam sebuah pernyataan resmi membenarkan laporan CBS News mengenai kepergian George sebagai aturan yang “segera berlaku.”
Adanya pembersihan besar-besaran terhadap pejabat senior ini membuat banyak pihak di Pentagon menyimpulkan bahwa mereka yang berani angkat bicara atau mempertanyakan kebijakan pemerintah berisiko kehilangan pekerjaan.
“Tiga tahun yang lalu hal ini akan menjadi masalah besar,” kata seorang mantan pejabat saat membahas kepergian George.
Ia menambahkan, “Tetapi Hegseth telah memecat ketua mepala staff gabungan dan kepala operasi angkatan laut; Adalah masalah besar jika dia bertahan menjabat selama ini.”
Hegseth sendiri berulang kali menegaskan bahwa militer AS melaksanakan rencana serangan ke Iran lebih cepat dari jadwal dengan menyerang ribuan sasaran.
Namun, upaya perang tersebut dilaporkan terhambat oleh kurangnya kejelasan mengenai tujuan strategis, ketahanan rezim Iran, serta guncangan ekonomi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran.
Presiden Trump menyatakan bahwa perang kemungkinan akan berlanjut selama dua atau tiga minggu ke depan. Namun, jangka waktu tersebut dianggap terlalu optimis oleh banyak analis militer.
Selain itu, agenda pergantian rezim di Iran yang awalnya disebut Trump harus mengikuti kebijakan AS, hingga saat ini masih belum terwujud di lapangan.
Tag: #perombakan #besar #militer #pete #hegseth #pecat #jenderal #randy #george #tengah #perang #iran