Sekutu Trump Sebut Kemenangan atas Iran Overklaim, Terlalu Dini dan Rapuh
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menirukan gaya menembakkan senjata saat berbicara tentang perang Iran di ruangan konferensi pers Gedung Putih, Washington DC, Senin (6/4/2026).(AFP/KENT NISHIMURA)
18:12
9 April 2026

Sekutu Trump Sebut Kemenangan atas Iran Overklaim, Terlalu Dini dan Rapuh

- Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Washington telah menang total atas Iran memicu kekhawatiran di kalangan sekutu dekatnya dan sejumlah pejabat senior AS. 

Trump mengeklaim bahwa AS telah mencapai tujuannya usai mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (8/4/2026).

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam konferensi persnya juga menyebut operasi militer selama lima minggu terakhir sebagai sebuah kemenangan. 

Baca juga: Iran Kini Jadi Penjaga Gerbang Selat Hormuz, Bisa Dikte Harga Minyak

Leavitt menyatakan, kemampuan Iran untuk membangun rudal balistik dan drone jarak jauh telah mundur bertahun-tahun, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Kamis (9/4/2026).

"Ranjau laut mereka sebagian besar telah hancur dan angkatan udara mereka secara operasional sudah tidak relevan," ujar Leavitt, Rabu.

Senada dengan Leavitt, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa militer "Negeri Paman Sam" telah mencapai setiap target yang direncanakan.

"Militer AS mencapai setiap tujuan, sesuai rencana, sesuai jadwal, tepat seperti yang ditetapkan sejak hari pertama," kata Hegseth.

Meskipun pemerintahan Trump berkeras berada di atas angin, sejumlah pejabat memperingatkan bahwa Teheran masih memiliki kemampuan militer berbahaya.

Baca juga: Geram Dibombardir, UEA Desak Iran Bayar Ganti Rugi

Di antara kemampuan Iran tersebut adalah bisa memblokade kapal-kapal di Selat Hormuz dan menyerang pasukan AS di kawasan tersebut.

Sejumlah pejabat juga menilai, klaim-klaim yang terlontar dari pemerintahan AS terlalu dini mengingat gencatan senjata yang ada saat ini masih sangat rapuh.

Realitas lapangan lebih kompleks

Di satu sisi, data dari internal militer juga menunjukkan gambaran yang lebih kompleks, sebagaimana dilansir Wall Street Journal

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengungkapkan, serangan AS memang menghancurkan sekitar 80 persen pertahanan udara Iran dan lebih dari 1.500 target, termasuk 80 persen pabrik rudal.

Meski demikian, seorang pejabat AS lainnya mencatat bahwa meski lebih dari separuh peluncur rudal Iran telah hancur, jumlah yang besar masih tersimpan jauh di bawah tanah. 

Baca juga: Waspada Ranjau Laut, Iran Umumkan Rute Alternatif di Selat Hormuz

Selain itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) masih memiliki puluhan kapal kecil yang mengancam Selat Hormuz.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh pernyataan Behnam Ben Taleblu, Direktur Senior Program Iran di Foundation for Defense of Democracies.

"Iran memang telah dilemahkan dan kemampuannya telah menurun, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar hancur total," jelas Taleblu.

Isu utama yang juga menjadi sorotan adalah cadangan uranium yang diperkaya. Caine menyebutkan bahwa 20 persen basis industri nuklir Iran masih tersisa. 

Meski demikian, fasilitas nuklir di Isfahan dan Natanz diduga masih menyimpan cadangan uranium yang, jika diolah kembali, bisa menjadi bahan bom nuklir.

Baca juga: Nyaris Gagal, Pakistan Jadi “Penyelamat” di Menit Terakhir Gencatan Senjata AS-Iran

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.IRNA Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.

Senator Lindsey Graham, sekutu Trump, mendesak agar seluruh cadangan uranium tersebut diambil alih oleh AS.

Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz juga masih tegang. Iran baru-baru ini menyatakan hanya akan mengizinkan sekitar 12 kapal melintas per hari dengan pungutan biaya.

"Jika ada kapal yang mencoba transit tanpa izin, (kapal itu) akan dihancurkan," bunyi rekaman dari Angkatan Laut Iran yang ditinjau oleh media.

Mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich yang dikenal dekat dengan Trump, turut menyuarakan skeptisismenya terhadap stabilitas kesepakatan ini.

"Kekhawatiran nomor satu saya saat ini adalah melihat selama empat hingga enam minggu ke depan, apakah kita membohongi diri sendiri karena kehilangan keberanian, atau apakah kita mendapatkan kesepakatan nyata dengan taring nyata yang melibatkan perubahan nyata," ujar Gingrich.

Baca juga: Netanyahu Gagal Total Tumbangkan Iran, Trump Pilih Damai dengan Teheran

Tag:  #sekutu #trump #sebut #kemenangan #atas #iran #overklaim #terlalu #dini #rapuh

KOMENTAR