Nuklir Iran Ternyata Belum Lumpuh Total, Perundingan dengan AS Kian Alot
Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan kerusakan di situs nuklir Iran di Isfahan, setelah diserang bom Amerika Serikat pada Minggu (22/6/2025).(MAXAR TECHNOLOGIES via AFP)
17:06
12 April 2026

Nuklir Iran Ternyata Belum Lumpuh Total, Perundingan dengan AS Kian Alot

Program nuklir Iran dilaporkan tetap bertahan meski dihantam serangan intensif Amerika Serikat dan Israel selama beberapa pekan terakhir.

Kerusakan memang terjadi pada sejumlah fasilitas penting, namun tidak cukup untuk melumpuhkan keseluruhan kemampuan nuklir Teheran.

Kondisi ini memberi Iran posisi tawar baru dalam perundingan dengan Washington setelah tercapai gencatan senjata pada pekan ini.

Baca juga: AS Disalahkan atas Gagalnya Negosiasi, Dinilai Mendikte Iran

Program nuklir tak sepenuhnya lumpuh

Setelah lima pekan serangan berat dari AS dan Israel, Iran disebut masih memiliki sebagian besar elemen penting untuk membuat bom nuklir, menurut laporan The Wall Street Journal, Sabtu (11/4/2026).

Sejumlah fasilitas penelitian dan laboratorium memang hancur, termasuk lokasi produksi yellowcake—bahan mentah untuk uranium yang diperkaya.

Namun, para ahli menilai Iran kemungkinan masih menyimpan sentrifugal dan memiliki fasilitas bawah tanah yang dapat digunakan untuk pengayaan uranium.

Selain itu, cadangan uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata juga tetap utuh, dengan sekitar 1.000 pon material, separuhnya dikubur dalam terowongan di bawah situs nuklir Isfahan menurut badan atom PBB.

Cadangan uranium jadi kartu tawar

Keberhasilan mempertahankan stok uranium ini menjadi faktor penting dalam negosiasi Iran dengan AS. Mantan pejabat Gedung Putih Eric Brewer mengatakan, Iran tidak akan mudah melepaskan aset strategis tersebut.

“Iran tidak akan menyerahkan itu dengan mudah. Tuntutannya akan lebih tinggi daripada saat perundingan Februari untuk menyerahkan material tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa Iran sempat memberi sinyal kesiapan untuk menyerahkan uranium yang diperkaya, namun penghentian total pengayaan tetap menjadi garis merah bagi Washington.

Serangan fokus lumpuhkan infrastruktur

Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan enam lubang di situs nuklir Iran di Fordo atau Fordow, setelah serangan Amerika Serikat menggunakan bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), Minggu (22/6/2025).MAXAR TECHNILOGIES via AFP Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan enam lubang di situs nuklir Iran di Fordo atau Fordow, setelah serangan Amerika Serikat menggunakan bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), Minggu (22/6/2025).

Sebagian besar kerusakan terhadap program nuklir Iran terjadi dalam perang 12 hari tahun lalu.

Saat itu, AS menjatuhkan bom penghancur bunker ke fasilitas Fordow dan Natanz, serta menghancurkan bangunan terkait nuklir di Isfahan dengan rudal Tomahawk.

Dalam lima pekan terakhir, AS lebih fokus menyerang stok dan peluncur rudal Iran serta aset militer konvensional lainnya.

Israel di sisi lain menargetkan langsung program nuklir, termasuk laboratorium, universitas, fasilitas di luar Teheran, hingga lokasi militer Parchin yang diduga digunakan untuk uji bahan peledak tinggi.

Israel juga menyasar ilmuwan nuklir Iran, meski tidak merinci jumlah maupun identitas target.

Baca juga: AS Belum Tuntas Hancurkan Armada Iran, Kapal Kecil IRGC Masih Kuasai Hormuz

Fasilitas tersembunyi masih jadi misteri

Meski serangan masif dilakukan, Iran diduga masih memiliki fasilitas tersembunyi yang sulit dijangkau.

Terowongan di Isfahan diyakini menyimpan lokasi pengayaan yang belum pernah diperiksa, sementara kompleks bawah tanah di Pickaxe Mountain dekat Natanz disebut cukup kuat untuk menahan bahkan senjata paling canggih AS.

Presiden AS Donald Trump sempat mempertimbangkan operasi militer untuk merebut cadangan uranium Iran, namun rencana itu dinilai terlalu berisiko dan berpotensi memperpanjang perang.

Kebuntuan negosiasi nuklir

Perundingan AS–Iran pada Februari gagal mencapai kesepakatan. Iran hanya menawarkan untuk menurunkan kadar uranium yang diperkaya dari 60 persen menjadi maksimal 20 persen.

Padahal, uranium 60 persen hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mencapai tingkat senjata, sementara dari 20 persen memerlukan waktu beberapa minggu.

Sebagai perbandingan, kesepakatan nuklir 2015 membatasi pengayaan Iran di level 3,67 persen selama 15 tahun.

AS tetap bersikeras Iran harus menghentikan pengayaan sepenuhnya, sementara Iran menolak tuntutan tersebut.

Kerusakan pada tahap pembuatan senjata

Ketidakpastian terbesar saat ini adalah sejauh mana serangan telah merusak kemampuan Iran dalam membuat hulu ledak nuklir. Para ahli menilai proses ini sangat kompleks dan membutuhkan ilmuwan berpengalaman.

David Albright, mantan inspektur senjata, menyebut kerusakan pada aspek ini kemungkinan cukup signifikan.

“Di sisi pembuatan senjata, kerusakannya tampak seperti membuat lubang-lubang, menciptakan hambatan dalam proses panjang dan bertingkat untuk membuat senjata nuklir itu sendiri. Kerusakan tersebut tampaknya signifikan,” katanya.

Meski demikian, para ahli hampir yakin Iran belum pernah benar-benar membuat hulu ledak nuklir. Namun dengan kemampuan yang masih tersisa, ancaman tersebut belum sepenuhnya hilang.

Baca juga: Sosok di Balik Video AI Bergaya Lego Pro-Iran yang Beredar di Media Sosial

Tag:  #nuklir #iran #ternyata #belum #lumpuh #total #perundingan #dengan #kian #alot

KOMENTAR