NATO Tak Mau Bantu AS Blokade Hormuz, Ogah Terseret Konflik
Negara-negara anggota NATO melontarkan kritik keras terhadap rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz.
Langkah tersebut diambil setelah pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan pada akhir pekan lalu.
Berlawanan dengan klaim Trump bahwa negara lain akan ikut terlibat, sekutu-sekutu utama justru menegaskan tidak akan mendukung kebijakan tersebut.
Baca juga: Khawatir Iran Pakai “Kartu As Kedua”, Arab Saudi Tak Setuju AS Blokade Hormuz
Sekutu NATO tolak ikut blokade
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak mendukung langkah tersebut.
“Kami tidak mendukung blokade ini,” ujarnya kepada BBC.
“Menurut saya sangat penting bahwa selat itu dibuka kembali sepenuhnya, dan itulah yang telah menjadi fokus upaya kami dalam beberapa minggu terakhir, dan akan terus kami lakukan.”
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan juga menyerukan agar Selat Hormuz dibuka kembali melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menyebut keputusan Trump untuk memblokade kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran dapat menjerumuskan ke dalam bahaya yang lebih besar.
“Ini hanyalah satu lagi episode dalam spiral penurunan yang menyeret kita semua,” kata Robles.
Pemerintah Spanyol, bersama Perdana Menteri Pedro Sanchez, bahkan menolak melibatkan aset militer mereka dalam konflik tersebut.
Starmer menambahkan bahwa penutupan selat tersebut “sangat merusak” dan Inggris bersama Perancis akan menggelar pertemuan untuk menyusun rencana multinasional independen guna melindungi pelayaran internasional setelah konflik berakhir.
AS kirim sinyal berubah sikap
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan Amerika “tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas ke dan dari pelabuhan non-Iran di Selat Hormuz.”
Menurut laporan Asia Times, Selasa (14/4/2026), pernyataan ini dinilai sebagai langkah mundur dari pernyataan awal Trump yang mengancam akan memberlakukan “blokade total.”
Namun, Trump tetap mengulang ancamannya dalam wawancara dengan Fox News. Ia bahkan menargetkan kapal-kapal yang pernah membayar biaya kepada Iran untuk melintas, dengan menuduh Teheran melakukan “pemerasan.”
Ketegangan ini meningkat setelah negosiator Iran menuduh Wakil Presiden JD Vance tidak beritikad baik dalam pembicaraan gencatan senjata, sementara Vance menilai Iran tidak akan mematuhi tuntutan AS terkait program nuklirnya.
Baca juga: Blokade Hormuz Dimulai, Trump Ancam Tenggelamkan Kapal yang Halangi Operasi
Harga energi global melonjak
Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi sejak 2022, seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 100 dollar AS per barel di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Blokade ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik 7,7 persen menjadi 102,52 dollar AS (sekitar Rp 1,7 juta) per barrel, sementara minyak mentah AS melonjak hampir 8 persen ke 104,02 dollar AS per barrel. Kontrak gas grosir Inggris untuk Mei juga naik 11,7 persen.
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata dua pekan sempat menekan harga energi di bawah 100 dollar AS per barrel. Namun, ancaman baru dari Trump kembali memicu lonjakan harga.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital perdagangan energi global.
Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan, reaksi pasar menunjukkan risiko yang nyata.
“Reaksi pasar ini menegaskan realitas sederhana namun kuat: risiko Hormuz bukan sekadar teori; ini bersifat struktural dan nyata,” ujarnya kepada The Guardian.
“Dalam kondisi saat ini, setiap tambahan risiko pada pasar minyak membawa dampak inflasi bagi ekonomi global.”
Risiko eskalasi
Ancaman blokade juga berpotensi memengaruhi sekutu AS sendiri. Analis Responsible Statecraft, Kelley Beaucar Vlahos, menyebut bahwa langkah tersebut bisa berdampak pada negara sekutu.
“Filipina adalah sekutu perjanjian dan mendapatkan 98 persen sumber energinya melalui selat tersebut,” tulisnya. Ia juga mencatat kapal Jepang pengangkut LNG sempat melintasi jalur itu dua pekan lalu.
Direktur Program Global South di Quincy Institute, Sarang Shidore, menilai blokade ini sebagai langkah berbahaya.
“Ini adalah langkah lain menuju dunia di mana yang kuat menjadi penentu,” katanya.
“Pelanggaran hukum ditumpuk di atas pelanggaran lainnya.”
Dari pihak Iran, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa negaranya masih memiliki “kapasitas besar yang belum digunakan” untuk melawan blokade.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan memperingatkan warga AS akan segera “merindukan harga bensin 4–5 dollar AS (Rp 68.514 hingga Rp 85.642) per galon.”
Profesor hukum internasional dari Australian National University, Donald Rothwell, memperingatkan bahwa blokade tersebut dapat menggagalkan gencatan senjata yang rapuh.
“Secara hukum, jika AS memberlakukan blokade maka gencatan senjata berakhir dan permusuhan kembali dimulai,” tulisnya.
Baca juga: Tak Ikut Blokade Hormuz, Perancis-Inggris Bakal Tetap Bantu Amankan Selat