Israel Mulai Khawatir dengan Trump, Takut Ambil Kesepakatan Buruk dengan Iran
- Israel khawatir Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mencapai kesepakatan dengan Iran sebelum membahas beberapa isu kunci yang menjadi tujuan awal perang.
Menurut beberapa sumber kepada CNN, kesepakatan yang membiarkan program nuklir Teheran tetap utuh sebagian sambil mengabaikan isu-isu rudal balistik dan dukungan untuk proksi regional akan menyebabkan Israel memandang perang tersebut belum selesai.
Baca juga: Utusan AS: Negara Teluk Harus Membuat Pilihan, Iran atau Israel?
“Kekhawatiran utama (Israel) adalah Trump akan bosan dengan negosiasi dan membuat kesepakatan, kesepakatan apa pun, dengan konsesi di menit-menit terakhir,” kata seorang sumber Israel dilansir CNN, Rabu (13/5/2026).
Para pejabat AS telah meyakinkan Israel bahwa persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran akan dibahas dalam kesepakatan.
Namun, sumber tersebut mengatakan, pengecualian rudal balistik dan jaringan proksi Teheran dari pembicaraan tersebut adalah masalah besar.
Baca juga: Israel Kirim Pertahanan Udara Iron Dome ke UEA untuk Tahan Serangan Iran
Israel khawatir dengan keputusan Trump
“Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan mencapai kesepakatan yang buruk. Israel berusaha memengaruhinya sebisa mungkin,” kata seorang pejabat Israel.
Namun Netanyahu tetap berhati-hati dalam memberikan tekanan, karena khawatir dianggap membawa Trump kembali ke perang.
Gedung Putih mengatakan kepada CNN bahwa Trump memberikan kepercayaan penuh kepada utusan Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner.
Para pejabat Israel khawatir bahwa pencabutan tekanan ekonomi, bahkan jika sebagian, dapat menstabilkan rezim Iran yang tengah kelemahan.
Baca juga: Ketika Penggembala Kambing Nyaris Bongkar Pangkalan Rahasia Israel di Gurun Irak...
Mantan penasihat keamanan nasional Netanyahu, Meir Ben Shabbat, menulis akhir pekan lalu di surat kabar Israel Makor Rishon bahwa setiap kesepakatan harus menghindari pemulihan rezim.
Dia juga malah menunjuk pada pernyataan Trump baru-baru ini bahwa "mungkin kita lebih baik tanpa kesepakatan sama sekali" sebagai hasil yang lebih baik daripada kesepakatan yang tidak memenuhi tujuan Israel.
Lembaga keamanan Israel secara khusus prihatin dengan kesepakatan sementara yang akan memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz, dan mengurangi tekanan ekonomi terhadap Iran tanpa menyentuh sama sekali masalah nuklir.
Baca juga: Komandan Militer Akui Tentara Israel Sedang Kolaps dari dalam
Ada kesenjangan Trump dan Netanyahu
Donald Trump tertangkap mikrofon saat meluapkan kekesalannya karena tidak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Iran menembakkan lebih dari 1.000 rudal balistik ke Israel dan negara-negara Teluk selama perang yang dimulai Februari 2026, ditambah serangan bertubi-tubi menggunakan drone.
Kesepakatan parsial yang gagal mengatasi beberapa kemampuan utama Iran sekaligus mengurangi tekanan ekonomi dapat menstabilkan rezim dan aliran dana yang besar, kata para pejabat.
Kekhawatiran ini menyoroti perbedaan pandangan antara Trump, yang tampaknya enggan melanjutkan perang, dan Netanyahu, yang khawatir perang akan berakhir tanpa mencapai tujuan awal.
Baca juga: Tanpa Hizbullah, Negosiasi Israel-Lebanon Disebut Kehilangan Aktor Utama
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan Iran sangat menyadari realitas mereka saat ini tidak dapat dipertahankan, sambil menegaskan bahwa Trump memegang kendali penuh dalam negosiasi.
“Rudal balistik mereka telah dihancurkan, fasilitas produksi mereka telah dibongkar, angkatan laut mereka telah ditenggelamkan, dan proksi mereka telah dilemahkan,” katanya kepada CNN.
“Sekarang, mereka dicekik secara ekonomi oleh Operasi Economic Fury dan kehilangan 500 juta dollar AS (Rp 8,7 triliun) per hari berkat blokade pelabuhan Iran yang dilakukan oleh Militer AS.”
Baca juga: Iran Ubah Strategi Propaganda, Andalkan Meme dan AI untuk Serang AS-Israel
AS-Israel mempersempit tujuan perang
Di awal perang, Trump menyatakan bahwa AS ingin menghancurkan program rudal balistik Iran, mengakhiri dukungannya terhadap proksi regional, dan menutup fasilitas nuklirnya.
Namun, setelah 10 minggu, negosiasi berfokus pada uranium, khususnya pengayaan uranium hingga tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Penyempitan tujuan perang juga tergambar jelas dalam pernyataan publik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri.
Baca juga: Drone Serat Optik Hizbullah Bikin Israel Kelabakan di Lebanon
Dalam pidatonya di Yerusalem pada Februari, menjelang perang Iran, ia menetapkan lima syarat untuk kesepakatan yang dapat diterima.
Antara lain, penghapusan semua uranium yang diperkaya, pembongkaran kemampuan pengayaan, penanganan rudal balistik, pembongkaran jaringan proksi regional Iran, dan inspeksi nuklir yang kuat.
Namun, pekan lalu, dalam pidato video di hadapan rapat Kabinet Keamanan Israel, ia mempersempit daftar tersebut menjadi satu.
Baca juga: Demi Lawan Iran, Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Irak
Ilustrasi pengayaan uranium Iran. Sentrifugal lokal buatan dalam negeri ditampilkan dalam pameran nuklir Iran di Teheran, Rabu (8/2/2023).
“Tujuan terpenting adalah penghapusan material (uranium) yang diperkaya dari Iran, semua material yang diperkaya, dan pembongkaran kemampuan pengayaan uranium Iran,” katanya.
Pernyataan tersebut tanpa menyebutkan rudal balistik atau dukungan untuk kelompok proksi, seperti Hizbullah di Lebanon atau Hamas di Gaza.
Salah satu sumber yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan bahwa Israel memahami bahwa rudal dan proksi mungkin tidak akan dibahas.
Itu tampaknya tidak termasuk dalam draf diplomatik awal, sehingga Netanyahu memprioritaskan uranium sebagai ancaman yang paling mendesak.
Baca juga: Rudal Hizbullah Gempur Markas Militer Israel, Balas Kematian Komandan Pasukan Elite
Negosiasi alot AS-Israel dan Iran
Kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang masih jauh dari kepastian, dengan masih terdapat perbedaan signifikan dalam posisi kedua pihak.
Khususnya mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Teheran.
Iran bersikeras bahwa perjanjian pendahuluan hanya mencakup pencabutan sanksi dan selat tersebut, sementara masalah nuklir akan dibahas pada tahap selanjutnya.
Di sisi lain, pihak Israel tetap mempersiapkan kemungkinan bahwa pertempuran akan berlanjut.
Namun, pemerintahan Trump masih mendorong jalur diplomatik, dan tampaknya tidak ingin memulai kembali konflik yang telah menyebabkan harga bensin di AS melonjak.
Tag: #israel #mulai #khawatir #dengan #trump #takut #ambil #kesepakatan #buruk #dengan #iran