Di Tengah Blokade, Gedung Putih Ungkap Prospek Cerah Kesepakatan Damai dengan Iran
- Meski perundingan damai putaran pertama gagal mencapai kesepakatan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) optimistis mencapai kesepakatan damai dengan Iran dalam perundingan putaran kedua.
Optimisme tersebut diperkuat dengan kedatangan delegasi Pakistan di Teheran, Pakistan, pada Rabu (15/4/2026).
Delegasi yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir tersebut membawa pesan baru dari Washington setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan dimulainya kembali negosiasi.
Baca juga: Uni Eropa Susun Strategi Hadapi Krisis Energi akibat Perang Iran
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa pembicaraan lanjutan sangat mungkin akan digelar di Islamabad, Pakistan.
"Diskusi tersebut sedang berlangsung. Kami merasa optimis dengan prospek kesepakatan tersebut," ujar Leavitt kepada wartawan, sebagaimana dilansir AFP.
Optimisme ini juga didorong oleh aktivitas diplomatik intensif Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, termasuk pertemuannya dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin putaran pertama perundingan, mengungkapkan bahwa Iran ditawari sebuah kesepakatan besar.
Tawaran ini bertujuan mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari tersebut sekaligus menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Di sisi lain, Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan sipil.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa hak mereka untuk memperkaya uranium tidak dapat diganggu gugat meskipun level pengayaannya dapat dinegosiasikan.
Baca juga: Gambaran Trump tentang Perang di Iran Tak Sesuai Realita?
Blokade laut dan ancaman militer
Di lapangan, situasi tetap panas. Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) mengeklaim telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar dari Iran melalui penerapan blokade.
"Sepuluh kapal yang mencoba berlayar keluar dari pelabuhan Iran selama 48 jam pertama blokade telah diputar balik, dan tidak ada satu pun kapal yang berhasil lolos," lapor Centcom.
Menanggapi hal ini, Ali Abdollahi, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa kegagalan AS mencabut blokade akan memicu pelanggaran gencatan senjata.
Ancaman lebih keras datang dari Mohsen Rezaei, mantan panglima Korps Garda Revolusi Iran.
"Kapal-kapal Anda akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami jika AS memutuskan untuk mengawasi jalur pelayaran utama tersebut," tegas Rezaei melalui televisi pemerintah.
Baca juga: FIFA Pastikan Iran Ikut Piala Dunia 2026
Dampak ekonomi global
Ketidakpastian ini mulai berdampak pada ekonomi dunia.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan masa-masa sulit di depan mata jika perang tidak segera diselesaikan dan harga minyak tetap tinggi.
Dia khawatir risiko inflasi akan merembet ke harga pangan.
Di tengah kemelut AS-Iran, muncul perkembangan mengejutkan dari hubungan Israel dan Lebanon.
Keduanya sepakat untuk membuka negosiasi langsung setelah pertemuan tingkat tinggi tatap muka pertama mereka sejak 1993 di Washington DC.
Trump menyatakan kedua pemimpin negara tersebut akan berbicara pada Kamis (16/4/2026) ini.
AS berharap perdamaian Israel-Lebanon ini dapat mendukung penyelesaian konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Baca juga: Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang
Tag: #tengah #blokade #gedung #putih #ungkap #prospek #cerah #kesepakatan #damai #dengan #iran