Temuan Janggal dari Tragedi 82 Tewas di Tambang China, Ada Pintu Palsu
- Penyelidikan awal atas ledakan tambang di China, tragedi terdahsyat di sana dalam 15 tahun terakhir, mengungkap berbagai temuan mengejutkan.
Pihak berwenang menemukan adanya terowongan tanpa tanda, hilangnya alat pelacak lokasi pekerja, hingga penggunaan pintu palsu untuk mengelabuhi petugas.
Atas temuan ini, Pemerintah China berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Baca juga: Update Korban Ledakan Tambang di China: 82 Meninggal, 128 Luka-luka
Insiden mematikan ini dipicu oleh ledakan gas fatal yang terjadi pada Jumat (22/5/2026) malam di tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi.
Berdasarkan laporan media resmi setempat, peristiwa tersebut merenggut sedikitnya 82 korban jiwa, sebagaimana dilansir Reuters.
Selain itu, dua orang pekerja masih dinyatakan hilang, sementara 128 korban lainnya harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Peristiwa di tambang Liushenyu ini tercatat sebagai kecelakaan tambang paling mematikan di China sejak 2009, ketika ledakan gas serupa di Tambang Xinxing, Provinsi Heilongjiang, menewaskan 108 orang.
Meskipun penyebab pasti ledakan hari Jumat masih dalam proses penyelidikan, kantor berita resmi Xinhua pada Selasa (26/5/2026) melaporkan adanya sejumlah faktor krusial yang berkontribusi terhadap besarnya skala tragedi ini.
Faktor-faktor tersebut meliputi keberadaan terowongan tambang yang sengaja disembunyikan, pemalsuan dokumen denah, serta penggunaan pekerja kontrak yang tidak terdaftar resmi dan tidak dibekali alat pelacak lokasi penyelamat jiwa yang diwajibkan.
Baca juga: Bau Belerang Menyengat Sebelum Ledakan Tambang China Tewaskan 90 Orang
Pintu palsu
Tambang yang dikendalikan oleh Shanxi Tongzhou Coal Coking Group ini diketahui menerapkan sistem manajemen ganda yang ilegal.
Laporan Xinhua menyebutkan, perusahaan mempertahankan dua set rencana kerja dan sistem pengawasan yang terpisah.
Satu set denah mencerminkan operasi aktual di lapangan, sementara satu set lainnya digunakan khusus untuk menghadapi pemeriksaan resmi oleh pihak regulator.
Dengan cara ini, beberapa area penambangan sengaja disembunyikan agar terhindar dari pengawasan hukum.
Batu bara yang dikeruk dari terowongan rahasia dan tidak teregulasi tersebut tidak pernah dimasukkan dalam angka produksi resmi perusahaan, sehingga terbebas dari pajak.
Baca juga: Ledakan Tambang di China Sebabkan 90 Orang Tewas, Terparah dalam 17 Tahun
Praktik manipulasi demi meraup keuntungan ini dikenal secara kolokial sebagai "denah yin-yang".
Itu artinya, satu dokumen dibuka secara terang-benderang untuk diperiksa petugas, sementara dokumen asli disembunyikan di dalam kegelapan.
Menurut Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China, praktik curang yang didorong oleh keuntungan semacam ini sebenarnya bukan hal asing di industri tambang batu bara setempat.
Padahal, operasi penindakan keras terus digalakkan oleh pemerintah.
Baca juga: Pakistan Mencekam, 40 Milisi Bermotor Serbu Tambang Emas, 10 Orang Tewas
Untuk menyembunyikan jalur ilegal tersebut, pengelola tambang menerapkan metode penyamaran fisik di bawah tanah yang cukup rapi.
Xinhua menyebutkan, pihak tambang menggunakan kawat baja dan karung plastik rajutan yang disemprot dengan mortar untuk membuat pintu palsu yang terlihat sangat mirip dengan dinding batu terowongan tambang.
Para pekerja di bawah tanah biasanya akan mendapatkan bocoran informasi dari seseorang di luar area tambang setiap kali inspektur regulasi datang.
Mereka kemudian akan segera menutup pintu-pintu palsu tersebut dan melumurinya dengan abu batu bara agar menyatu sempurna dengan dinding lorong bawah tanah di sekitarnya.
Baca juga: Anwar Ibrahim Muncul di File Epstein, Malaysia Disebut Tambang Emas bagi Bank AS
Hambatan evakuasi
Demi menghindari deteksi otoritas secara menyeluruh, operator tambang mempekerjakan buruh subkontrak untuk mengeksploitasi terowongan rahasia tersebut.
Para penambang ini tidak diberikan alat pelacak identitas yang diwajibkan oleh regulasi keselamatan, serta tidak dicatatkan dalam dokumen entri resmi perusahaan.
Padahal, jika para penambang tersebut dilengkapi dengan alat pelacak, pihak berwenang seharusnya dapat memantau posisi presisi mereka di bawah tanah, termasuk memfasilitasi penyelamatan saat situasi darurat.
Manipulasi jumlah pekerja ini terungkap jelas pasca-ledakan.
Baca juga: Jembatan Tambang Ambruk di Kongo, 49 Orang Tewas
Berdasarkan rekaman yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah CCTV pada Senin (25/5/2026), log data resmi perusahaan hanya mencatat 124 pekerja yang turun ke bawah tanah pada hari itu.
Namun pada kenyataannya, total ada 247 pekerja yang berada di dalam tambang saat ledakan terjadi.
Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat 123 penambang yang bekerja tanpa pelacak di luar jangkauan pengawasan resmi.
Ketiadaan peta tambang yang akurat serta hilangnya informasi lokasi para penambang bawah tanah ini dilaporkan telah menghambat jalannya operasi penyelamatan secara signifikan.
Baca juga: Fitomining: Cara Baru Tambang Nikel dari Tanaman
Abaikan sanksi
Ilustrasi tambang.
Tambang Liushenyu sebenarnya telah diklasifikasikan sebagai tambang dengan tingkat kandungan gas yang tinggi, yang berarti memiliki risiko ledakan yang sangat besar.
Kendati demikian, laporan terpisah dari stasiun radio pemerintah pada Selasa mengungkapkan, pihak pengelola sengaja menghindari pemasangan peralatan pemantau gas demi memuluskan aksi kucing-kucingan dengan otoritas pengawas.
Pelanggaran sistemik ini rupanya sudah terendus oleh pihak berwenang sebelum tragedi pada Jumat meletus.
Laporan Xinhua memaparkan bahwa pada 2025, operator tambang tersebut sebenarnya pernah dilarang dan dikenai sanksi.
Baca juga: Jaga Warisan Sejarah dari Aktivitas Tambang, Gereja 113 Tahun Dipindah Utuh
Perusahaan tambang tersebut didenda setelah regulator menemukan area kerja yang tersembunyi, namun hukuman tersebut gagal memberikan efek jera, dan perusahaan terus melanjutkan produksi ilegal.
Hingga saat ini, pejabat dari Shanxi Tongzhou Coal Coking Group belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut karena dilaporkan telah ditahan oleh pihak berwenang setempat.
Menyusul tragedi mematikan ini, sejumlah operasional tambang di berbagai wilayah China dilaporkan langsung menghentikan atau mengurangi aktivitas produksi mereka guna menjalani inspeksi keselamatan massal.
Baca juga: Tambang Tembaga Bawah Tanah Terbesar di Dunia Runtuh, Penyelamat Berpacu Waktu
Tag: #temuan #janggal #dari #tragedi #tewas #tambang #china #pintu #palsu