Pejabat Iran Singgung Selat Malaka Bisa Bernasib seperti Selat Hormuz, Apa Katanya?
Ilustrasi Sejarah Selat Malaka: Mengapa Selat Malaka Berpotensi Menjadi Titik Krusial Global Berikutnya Setelah Selat Hormuz?(Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.COM/Serafica Gischa)
15:12
21 April 2026

Pejabat Iran Singgung Selat Malaka Bisa Bernasib seperti Selat Hormuz, Apa Katanya?

- Selat Malaka yang berada di antara sisi barat daya Pulau Sumatera dan sisi timur laut Semenanjung Malaysia kembali menjadi sorotan dunia, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Penasihat urusan internasional Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Akbar Velayati, bahkan menyebut Selat Malaka berpotensi mengalami nasib serupa dengan Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026).

“Saat ini, bukan hanya keamanan Hormuz dan Malaka yang terjamin di bawah naungan kekuatan kita dan mitra strategis kita, tetapi keamanan Bab el-Mandeb juga berada di tangan saudara-saudara Houthi,” kata Velayati, dikutip dari South China Morning Post.

Ia juga memperingatkan, setiap ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu efek berantai ke wilayah lain di dunia.

Lantas, mengapa Selat Malaka ikut disebut berpotensi mengalami situasi serupa?

Baca juga: Media Asing Soroti Kapal Perang AS Lintasi Selat Malaka, Singgung Legalitas hingga Keamanan

Jalur strategis energi dan perdagangan dunia

Pernyataan Velayati merujuk pada posisi Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam sistem perdagangan dan energi global.

Selat sempit yang memisahkan Sumatera dan Semenanjung Malaka itu menjadi salah satu jalur laut tersibuk di dunia.

Sejak lama, Selat Malaka menjadi titik pertemuan perdagangan antara Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Asia Timur. Hingga kini, jalur ini tetap vital bagi arus energi dan barang dunia.

Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang mulai berlaku pada 1994, pengelolaan Selat Malaka, termasuk keselamatan navigasi, menjadi tanggung jawab bersama Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Mengutip The Daily Star, berikut beberapa alasan Selat Malaka dianggap sebagai titik krusial pelayaran global:

1. Volume perdagangan yang besar

Berbeda dengan Selat Hormuz, Selat Malaka berfungsi sebagai jalur perdagangan yang lebih luas, memfasilitasi pergerakan pasokan energi serta barang manufaktur, elektronik, dan komponen industry.

Hal ini penting karena volume perdagangan di lokasi tersebut sangat besar, termasuk aliran minyak globalnya.

Baca juga: Amankan Selat Malaka: Belajar dari Kasus Selat Hormuz

2. Jalur penting bagi perekonomian Asia Timur

Selat Malaka juga menjadi jalur penting bagi perekonomian Asia Timur. khususnya China. Negara itu masih sangat bergantung pada jalur Selat malaka untuk impor energi.

Ketergantungan ini telah lama dipandang sebagai kerentanan strategis bagi Beijing yang sering disebut sebagai "Dilema Malaka".

3. Lokasi Selat Malaka

Terlepas dari ketergantungan ekonomi, Amerika Serikat memandang Selat Malaka dari sudut pandang strategis dan militer.

Lebarnya titik-titik penting di jalur Selat Malaka menjadikannya potensi hambatan sekaligus titik tawar dalam skenario konflik di masa depan.

Namun, perluasan peran AS di Selat Malaka harus memeprtimbangkan lanskap regional yang kompleks.

Baca juga: Jalur Minyak Tersibuk di Dunia, Selat Malaka Nomor 1

4. Tempat berkumpulnya berbagai komoditas perdagangan

Dikutip dari Kompas.com (2024), Pelabuhan di sepanjang Selat Malaka menjadi tempat berkumpulnya beragam komoditas perdagangan.

Komoditas tersebut di antaranya rempah-rempah, tekstil, air mawar, keramik, porselen, kain sutra, lilin, gaharu, dan lain-lain.

5. Perubahan arah angin

Selat Malaka berada di di garis khatulistiwa dan terletak di antara benua Asia dan Australia.

Lokasi tersebut memungkinkan terjadinya perubahan arah angin yang teratur dan sangat penting bagi dunia pelayaran.

Sejak dulu kala, kapal-kapal bertemu di pelabuhan-pelabuhan di Selat Malaka ketika menunggu angin untuk menentukan apakah mereka akan meneruskan perjalanan niaganya atau kembali ke negeri asalnya.

Catatan Kemdikbud menulis, ratusan pedagang dari Arab, Persia, India, China, dan wilayah Nusantara lainnya, setiap tahun berkumpul di Malaka untuk melakukan transaksi jual beli berbagai komoditas perdagangan pada abad ke-15.

Baca juga: Misteri Kapal Hantu SS Ourang Medan yang Tenggelam di Selat Malaka

Potensi nasib Selat Malaka bernasib seperti Selat Hormuz

Meski dianggap sebagai jalur krusial bagi distribusi global, Direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, Hu Bo, mengatakan Selat Malaka tidak akan bernasib sama dengan Selat Hormuz.

"Dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah," kata dia.

Menurut Hu, selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan rute utama untuk pengiriman energi ke Asia Timur, dengan ketiga negara Asia Tenggara tersebut bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya.

“Kemungkinan kecil negara-negara pesisir akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu.

Kondisi ini berbeda dengan Selat Hormuz yang menjadi satu-satunya jalur maritim dari negara-negara Teluk yang kaya minyak, Selat Malaka justru memiliki potensi alami, menurut Hu.

Potensi yang sama juga dimiliki Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar, yang menawarkan berbagai pilihan wisata di sekitar kepulauan Indonesia.

Meski demikian, Hu mengatakan bahwa Krisi di Selat Hormuz diperkirakan akan meningkatkan kesadaran global tentang keamanan titik rawan maritim.

“Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak bisa dibandingkan, tetapi isu Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran," ucapnya.

Tag:  #pejabat #iran #singgung #selat #malaka #bisa #bernasib #seperti #selat #hormuz #katanya

KOMENTAR