Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman (AFP/GIUSEPPE CACACE)
12:12
22 April 2026

Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda

– Gejolak besar energi yang saat ini mengguncang ekonomi global semakin memperkuat urgensi untuk berinvestasi pada energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pertemuan dua hari di Berlin, Jerman, yang dihadiri puluhan menteri iklim untuk membahas prioritas menjelang negosiasi KTT Iklim COP31. 

KTT tersebut rencananya akan diselenggarakan di Turkiye pada November mendatang dengan Australia sebagai tuan rumah bersama (co-host).

Baca juga: Israel-AS Siap Serang Iran jika Gencatan Senjata Gagal, Targetkan Fasilitas Energi

Pertemuan ini berlangsung saat banyak negara berjuang menghadapi kelangkaan energi dan lonjakan harga akibat ditutupnya Selat Hormuz imbas dari konflik. 

Dampaknya, beberapa pemerintah mulai menjatah bahan bakar dan kembali melirik batu bara untuk mengamankan pasokan.

Rantai pasok energi global sendiri sedang mengalami pergolakan bersejarah akibat perang Iran yang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.

Menteri Iklim Turkiye sekaligus Presiden COP31, Murat Kurum, menyatakan bahwa krisis saat ini menjadi pengingat keras bagi dunia.

Baca juga: Jadi Bahan untuk Energi Nuklir, dari Mana Uranium Berasal?

"Krisis ini telah menunjukkan kepada kita, sekali lagi, bahwa bahan bakar fosil tidak menjamin keamanan pasokan energi," ujar Kurum melalui seorang penerjemah.

Menurut Kurum, investasi pada sumber energi alternatif, khususnya untuk mendukung keragaman energi, berarti menciptakan stabilitas, ketahanan, dan pembangunan bersih.

"Inilah yang harus kita semua kejar," papar Kurum.

Dia menekankan bahwa setiap negara akan merespons secara berbeda sesuai dengan kondisi ekonomi masing-masing.

Baca juga: Produksi Energi Timur Tengah Sulit Pulih, IEA Pertimbangkan Stok Darurat

Senada dengan Kurum, Menteri Iklim Australia Chris Bowen, menyatakan bahwa negara-negara dapat memperkuat keamanan energi sekaligus membendung dampak guncangan bahan bakar fosil di masa depan melalui energi terbarukan.

"Energi terbarukan adalah proposisi yang terbukti dan merupakan bentuk energi termurah yang pernah dikenal," kata Bowen.

Bowen menyampaikan hal tersebut melalui video setelah membatalkan perjalanannya ke Berlin akibat krisis bahan bakar yang melanda Australia.

"Saat pasokan energi dan ekonomi kita menghadapi hambatan, sekarang bukan waktunya untuk ragu, melainkan waktu untuk bertindak dengan kejelasan dan keyakinan untuk melanjutkan transisi kita menuju energi yang bersih, murah, dan andal," tegas Bowen.

Di satu sisi, investasi pada energi bersih saat ini mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil.

Baca juga: Antisipasi Krisis Global, China Tancap Gas Jadikan Hidrogen Senjata Ketahanan Energi

Akan tetapi, emisi penyebab perubahan iklim dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas justru melonjak ke rekor tertinggi pada 2025.

Padahal, hampir 200 negara telah sepakat pada COP28 tahun 2023 untuk beralih dari bahan bakar fosil. 

Namun, upaya untuk mewujudkan janji tersebut menjadi tindakan nyata menghadapi hambatan besar sejak saat itu.

Di sisi lain, langkah nyata dalam COP31 mendatang masih menjadi sorotan.

Pasalnya, Australia merupakan produsen utama bahan bakar fosil, sementara Turkiye sangat bergantung pada batu bara untuk kebutuhan energinya.

Baca juga: Uni Eropa Susun Strategi Hadapi Krisis Energi akibat Perang Iran

Tag:  #krisis #selat #hormuz #bukti #kerentanan #bahan #bakar #fosil #transisi #energi #bisa #ditunda

KOMENTAR