Komandan Iran Disebut Pimpin Pasukan di Irak, Bisa Serang Tanpa Izin Pusat
Para anggota kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah saat menggotong peti mati rekan mereka yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat, ketika dimakamkan di Baghdad, 26 Desember 2023. Kataeb Hezbollah menyatakan akan mendukung Iran dalam risiko perang terbaru melawan AS.(AFP/AHMAD AL RUBAYE)
16:24
22 April 2026

Komandan Iran Disebut Pimpin Pasukan di Irak, Bisa Serang Tanpa Izin Pusat

- Iran dikabarkan telah memberikan otonomi yang lebih besar kepada para komandannya atas milisi di Irak, menurut tiga anggota milisi dan dua pejabat lainnya kepada Associated Press.

Hal ini memungkinkan beberapa kelompok untuk melakukan operasi tanpa harus menunggu persetujuan Teheran. Perubahan “kebijakan” ini didorong oleh tekanan perang.

Banyak milisi yang didukung Iran didanai melalui anggaran negara Irak dan ada dalam aparat keamanan, sehingga menuai kritik dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain yang telah menanggung dampak terberat dari serangan mereka.

Baca juga: Irak Disebut Diam-diam Terlibat Perang Iran, Serang Arab Saudi


Negara-negara tersebut mengatakan bahwa Baghdad telah gagal mengambil sikap yang lebih tegas.

Namun, terlepas dari meningkatnya tekanan dari AS, Baghdad kesulitan untuk membendung atau mencegah kelompok-kelompok milisi tersebut.

Faksi-faksi garis keras kini beroperasi di bawah penasihat Iran menggunakan struktur komando yang terdesentralisasi, kata lima pejabat, masing-masing dengan syarat anonimitas agar dapat berbicara secara bebas tentang masalah-masalah sensitif.

“Berbagai pasukan telah diberikan wewenang untuk beroperasi sesuai dengan penilaian lapangan mereka sendiri tanpa merujuk kembali ke komando pusat,” kata seorang pejabat milisi, dikutip dari Associated Press, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: AS Blokir Dollar ke Irak untuk Menekan Milisi Pendukung Iran

Kelompok-kelompok milisi pro-pemerintah Irak dituding melakukan kejahatan terhadap kemanusiaa, melakukan penculikan, pembunuhan atau pelangaran HAM lainnya.AFP Kelompok-kelompok milisi pro-pemerintah Irak dituding melakukan kejahatan terhadap kemanusiaa, melakukan penculikan, pembunuhan atau pelangaran HAM lainnya.

Bagi milisi yang didukung Iran di Irak, langkah menuju kendali terdesentralisasi adalah sebuah langkah yang penting.

Beberapa hari setelah perang Iran meletus pada 28 Februari 2026, delegasi Iran tiba di wilayah Kurdi Irak dan menyampaikan pesan yang lugas.

Jika serangan milisi meningkat di dekat pangkalan militer AS, kepentingan komersial, dan misi diplomatik, otoritas Kurdi Irak tidak perlu datang ke Teheran untuk mengajukan keluhan, karena mereka tidak dapat berbuat banyak.

“Mereka mengatakan telah mendelegasikan wewenang kepada para komandan regional Iran,” kata seorang pejabat senior pemerintah Kurdi Irak yang enggan disebutkan namanya, dengan alasan sensitivitas masalah tersebut.

Baca juga: China Respons Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran, Sebut Situasi Kritis

Dulu, para pemimpin Kurdi di Irak biasanya menghubungi pejabat Iran setelah terjadi serangan untuk menanyakan mengapa mereka menjadi sasaran.

Pergeseran ini mencerminkan pelajaran yang dipetik dari perang 12 hari pada bulan Juni, kata pejabat itu.

Para pejabat milisi menguatkan klaim tersebut. Selama perang 12 hari, operasi sangat terpusat. Setelahnya, otonomi yang lebih besar diberikan di lapangan.

Tag:  #komandan #iran #disebut #pimpin #pasukan #irak #bisa #serang #tanpa #izin #pusat

KOMENTAR