Harga Minyak Dunia Terus Melonjak Akibat Kebuntuan Konflik AS-Iran di Selat Hormuz
Pasar energi global kini menghadapi tekanan hebat setelah upaya diplomatik untuk mengakhiri perselisihan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.
Kenaikan harga minyak yang terus berlanjut dipicu oleh ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi pengiriman energi internasional.
Kondisi ini diperparah oleh sikap skeptis Washington terhadap tawaran terbaru dari Teheran yang dianggap tidak menyentuh akar permasalahan konflik kedua negara.
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)Pasokan minyak mentah dari Timur Tengah kini tertahan dan tidak dapat menjangkau pembeli global akibat blokade yang masih berlangsung di wilayah perairan tersebut.
Investor semakin khawatir karena ketegangan ini tidak hanya bersifat politis tetapi sudah mengganggu arus fisik komoditas secara signifikan di lapangan.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump merasa tidak puas dengan poin-poin yang diajukan oleh pihak Iran.
Kapal macet di Selat Hormuz (TOI)Sumber internal dari Teheran menyebutkan bahwa proposal mereka sengaja tidak membahas program nuklir sebelum konflik bersenjata dan sengketa pelayaran berakhir.
Ketidaksepakatan ini membuat konfrontasi kedua belah pihak berada dalam posisi sulit yang sangat berisiko bagi stabilitas ekonomi dunia.
Dampaknya, Iran tetap menutup jalur distribusi di Selat Hormuz yang biasanya menopang sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas global.
Sementara itu, Amerika Serikat masih bersikukuh mempertahankan aksi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran sebagai bentuk tekanan balik.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan sebesar 45 sen atau sekitar 0,4 persen menjadi $108,68 per barel.
Lonjakan ini terjadi setelah pada sesi perdagangan sebelumnya mencatatkan kenaikan 2,8 persen yang merupakan level tertinggi sejak awal April.
Tren positif harga minyak Brent ini telah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut tanpa menunjukkan tanda-tanda pendinginan dalam waktu dekat.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga naik 58 sen menjadi $96,96 per barel setelah menguat 2,1 persen sebelumnya.
Kegagalan pertemuan tatap muka pada minggu lalu menjadi pemicu utama sentimen negatif para pelaku pasar terhadap ketersediaan stok energi.
Analis pasar menegaskan bahwa saat ini fokus utama para pedagang bukan lagi pada retorika politik melainkan pada volume minyak yang benar-benar mengalir.
"Bagi pedagang minyak, bukan lagi retorika yang penting, melainkan aliran fisik minyak mentah melalui Selat Hormuz, dan saat ini, aliran tersebut tetap terhambat," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Razaqzada juga memperingatkan bahwa proses pemulihan distribusi akan memakan waktu berbulan-bulan meskipun kesepakatan damai nantinya berhasil dicapai oleh kedua negara.
Gangguan logistik dan kerusakan infrastruktur akibat konflik militer menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh perusahaan penyedia layanan energi global.
Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya enam kapal tanker milik Iran terpaksa berputar arah akibat blokade ketat yang dilakukan militer Amerika Serikat.
Di tengah ketegangan tersebut, sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Abu Dhabi National Oil Co berhasil melintasi jalur panas itu.
Kapal tanker asal Uni Emirat Arab tersebut dilaporkan telah mendekati wilayah perairan India pada Senin waktu setempat berdasarkan pemantauan satelit.
Namun, keberhasilan satu kapal ini tidak mengubah fakta bahwa aktivitas maritim di kawasan tersebut telah merosot tajam dibandingkan kondisi normal.
Sebelum agresi militer terjadi pada akhir Februari lalu, terdapat sekitar 125 hingga 140 kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap harinya.
Kini, angka tersebut turun drastis dan menciptakan kekosongan pasokan yang sangat dirasakan oleh negara-negara pengimpor energi di seluruh dunia.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini pecah secara terbuka pada tanggal 28 Februari 2026 yang lalu.
Perselisihan ini bermula dari ketegangan menahun terkait program nuklir Iran serta ambisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas.
Selat Hormuz menjadi titik pusat konflik karena posisinya yang strategis sebagai gerbang utama ekspor minyak dunia yang menghubungkan produsen Teluk dengan pasar global.
Kegagalan negosiasi terbaru ini menandai babak baru ketidakpastian ekonomi yang diprediksi akan terus mengerek inflasi energi di tingkat konsumen internasional.
Hingga saat ini, belum ada jadwal pertemuan lanjutan yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk meredakan eskalasi militer di wilayah tersebut.
Tag: #harga #minyak #dunia #terus #melonjak #akibat #kebuntuan #konflik #iran #selat #hormuz