AS Akan Minta Korsel-Jepang Buatkan Kapal Perang, Trump Tak Puas Produk Lokal
Foto tanpa tanggal yang dirilis oleh Angkatan Pertahanan Australia pada 5 Agustus 2025 ini menunjukkan fregat kelas Mogami JS Niyodo (FFM-7) milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) berlayar di lokasi yang dirahasiakan. Australia akan meningkatkan angkatan lautnya dengan membeli 11 fregat kelas Mogami yang dibuat oleh Mitsubishi Heavy Industries Jepang, ungkap Menteri Pertahanan Richard Marles pada 5 Agustus 2025.(AUSTRALIAN DEFENCE FORCE VIA AF
15:18
28 April 2026

AS Akan Minta Korsel-Jepang Buatkan Kapal Perang, Trump Tak Puas Produk Lokal

- Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan desain dan pembangunan kapal perang kepada Korea Selatan dan Jepang.

Langkah ini diambil setelah Pemerintahan Donald Trump merasa frustrasi dengan kinerja galangan kapal domestik yang kerap mengalami penundaan kronis, kekurangan tenaga kerja, serta pembengkakan biaya.

Menurut laporan media Amerika Serikat, Pentagon bahkan mengusulkan studi kelayakan senilai 1,85 miliar dollar AS atau sekitar Rp 32 triliun untuk proyek tersebut.

Studi ini akan mengkaji potensi produksi bersama lambung kapal canggih, seperti fregat kelas Mogami milik Jepang dan kelas Daegu milik Korea Selatan, guna menutupi keterbatasan jalur produksi Angkatan Laut AS.

Jika terealisasi, ini akan menjadi momen pertama bagi AS membeli kapal perang permukaan utama dari mitra asing sejak era Perang Dunia II, dikutip dari SCMP, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Jepang Bingung Tank-nya Menembak ke Dalam: 3 Tentara Tewas, Pakar Ikut Syok

Kejar ketertinggalan dari China

Inisiatif ini juga bertujuan untuk menjembatani kesenjangan kapasitas pembangunan kapal yang semakin melebar dengan China.

Diketahui, China saat ini memproduksi enam hingga 10 kapal perusak per tahun atau empat hingga enam kali lipat dari tingkat produksi AS.

Kapal kelas Mogami Jepang memiliki lambung siluman berkapasitas 5.500 ton dengan tingkat otomatisasi yang tinggi. 

Sementara, kelas Daegu Korea Selatan berukuran lebih kecil, yaitu 3.600 ton dan dilengkapi sistem propulsi senyap. 

Keduanya dilengkapi sistem standar AS, seperti sistem peluncuran vertikal MK-41.

Baca juga: Era Baru Jepang, Buka Ekspor Senjata Setelah 5 Dekade

Harga lebih murah, pengerjaan lebih cepat

Harga dasar sebuah fregat kelas Mogami sekitar US500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,6 triliun dan dapat diselesaikan oleh produsen Mitsubishi dalam waktu dua tahun. 

Hal ini jauh lebih cepat dan lebih murah dibandingkan fregat kelas Constellation milik AS yang diperkirakan akan menelan biaya lebih dari 1 miliar dollar AS (Rp 17,2 triliun) per kapal dan telah terlambat bertahun-tahun dari jadwal.

Australia telah memesan 11 kapal kelas Mogami yang telah ditingkatkan senilai 14,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 248 triliun, dengan tiga kapal pertama akan dibangun di Jepang dan delapan kapal sisanya di Australia. 

"Angkatan Laut AS membutuhkan lebih banyak kapal sekarang juga, kata Russ Vought, direktur Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih. 

“Jika kami tidak dapat memperoleh kapal yang kami butuhkan dari sumber tradisional dengan biaya dan tepat waktu, kami akan mendapatkannya dari galangan kapal lain,” tambahnya.

Baca juga: PM Jepang Hanya Tidur 2 Jam Sehari, Urus Negara dan Suami

Mantan Menteri Angkatan Laut John Phelan mengatakan kepada USNI News, Angkatan Laut telah diminta untuk mempertimbangkan kemungkinan memiliki kapal perang Korea Selatan dan Jepang pekan lalu, sehari sebelum ia dipecat.

Fregat dan kapal perusak AS dapat mengadopsi desain asing, dan sebagian pekerjaan pembangunan mungkin juga dilakukan di galangan kapal luar negeri, menurut laporan yang mengutip sumber yang mengetahui detail studi kelayakan tersebut.

Fregat kelas Constellation (FFG-62) Angkatan Laut AS awalnya menggunakan desain Italia dan direncanakan untuk dibangun di galangan kapal dalam negeri.

Namun, persyaratan modifikasi desain yang luas dari Angkatan Laut AS, ditambah dengan kekurangan tenaga kerja di galangan kapal setempat, mengakibatkan penundaan setidaknya tiga tahun, pembengkakan biaya yang parah, dan pada akhirnya pembatalan program tersebut.

Baca juga: AS Batal Pindah Pilar Pertahanan Korsel ke Timteng, Seoul Bisa Napas Lega

Hadapi hambatan hukum dan politik

Kapal perang AS, USS Miguel KeithWikimedia Commons Kapal perang AS, USS Miguel Keith

Setiap rencana untuk membangun kapal di luar negeri akan menghadapi hambatan hukum dan politik yang signifikan.

Undang-undang federal AS saat ini mewajibkan kapal angkatan laut dibangun di galangan kapal dalam negeri untuk melindungi keamanan nasional dan lapangan kerja lokal. 

Keterlibatan pihak asing akan memerlukan dispensasi tingkat tinggi dari presiden dan diperkirakan akan menghadapi penolakan keras dari pembuat kapal dalam negeri, serikat pekerja, dan anggota Kongres yang mewakili negara bagian penghasil kapal.

Baca juga: Presiden Korsel Tiba-tiba Bikin Marah Israel, Ada Apa?

Usulan untuk meredakan kekhawatiran ini meliputi memungkinkan kontraktor pertahanan Asia Timur untuk mengakuisisi dan memodernisasi galangan kapal AS yang kinerjanya kurang memadai, serta mengimpor teknik otomatisasi dan manajemen canggih untuk meningkatkan manufaktur AS.

Hanwha, salah satu pembuat kapal terbesar di Korea Selatan dan kontraktor pertahanan utama, telah membeli Philly Shipyard di Philadelphia. 

Kesepakatan ini disebut oleh Wakil Asisten Menteri Angkatan Laut untuk Anggaran, Ben Reynolds sebagai cara AS untuk memperluas kapasitas pembuatan kapal.

“Jawaban terbaik bagi kami adalah mendapatkan investasi asing yang akan membantu kami di galangan kapal kami di AS,” kata Reynolds kepada wartawan.

Tag:  #akan #minta #korsel #jepang #buatkan #kapal #perang #trump #puas #produk #lokal

KOMENTAR