Pergeseran Takhta Iran, Dominasi IRGC di Balik Melemahnya Kekuasaan Ulama
Banner di Valiasr Square di Teheran menggambarkan estafet kepemimpinan dari Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri), Ayatollah Ali Khamenei (tengah), menuju anaknya, Ayatollah Mojtaba Khamenei (kanan) sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, saat difoto pada 10 Maret 2026.(AFP)
14:24
29 April 2026

Pergeseran Takhta Iran, Dominasi IRGC di Balik Melemahnya Kekuasaan Ulama

- Dua bulan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel, struktur kekuasaan di Iran mengalami perubahan radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak revolusi 1979. 

Iran yang selama ini berpusat pada otoritas mutlak seorang ulama di puncak pimpinan, kini bertransformasi menjadi tatanan yang didominasi oleh kekuatan militer.

Terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei pada awal konflik serta pengangkatan putranya, Mojtaba Khamenei, telah membuka pintu bagi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memegang kendali penuh atas kebijakan strategis negara.

Baca juga: Analis China Temukan Titik Lemah Militer AS akibat Perang Iran

Meskipun secara formal Mojtaba berada di puncak sistem, perannya kini dianggap lebih sebagai pemberi legitimasi bagi keputusan para jenderal daripada pengambil kebijakan tunggal. 

Kondisi ini menciptakan perubahan mendasar dalam cara Teheran merespons tekanan internasional. 

Struktur komando yang sebelumnya berpusat pada satu figur, kini terpecah ke dalam konsensus kolektif lembaga keamanan yang membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan birokratis.

Baca juga: Trump Ngamuk Usai Jerman Sebut AS Dipermalukan Iran

Lambatnya komando dan diplomasi

Pergeseran ini berdampak langsung pada kecepatan diplomasi Iran. 

Pejabat senior pemerintah Pakistan, yang menjadi mediator perundingan damai, mencatat bahwa respons Iran menjadi sangat lambat karena tidak adanya struktur komando tunggal yang tegas. 

“Respons Iran sangat lambat. Tampaknya tidak ada struktur komando pengambilan keputusan tunggal. Terkadang, mereka membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari untuk merespons,” kata pejabat itu, dikutip dari Reuters, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Blokade Makin Panas, Pasukan AS Geledah Kapal yang Terkait Iran

Hambatan ini bukan disebabkan oleh perselisihan internal, melainkan kesenjangan tajam antara apa yang siap ditawarkan Washington dan apa yang mampu diterima oleh IRGC. 

Di panggung diplomatik, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf memang menjadi wajah perundingan,

Namun, tokoh sentral yang memegang kendali di lapangan sebenarnya adalah komandan IRGC, Ahmad Vahidi. 

Dominasi ini memastikan bahwa tidak ada ruang bagi kebijakan moderat, dengan pilihan yang tersedia kini hanyalah antara garis keras atau garis yang lebih keras lagi.

Baca juga: Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan

Antara gengsi dan kelemahan

Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei.TASNIM NEWS AGENCY via BBC INDONESIA Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei.

Di tengah blokade ekonomi dan tekanan militer, baik Washington maupun Teheran tampak enggan untuk menunjukkan fleksibilitas. 

Mantan diplomat AS, Alan Eyre, menilai bahwa kedua pihak saat ini terjebak dalam perang urat syaraf, di mana kompromi dianggap sebagai bunuh diri politik.

“Kedua pihak tidak ingin bernegosiasi. Bagi keduanya, fleksibilitas akan dianggap sebagai kelemahan," ujarnya.

Baca juga: UEA Hengkang dari OPEC di Tengah Perang AS-Iran, Arab Saudi Hadapi Beban Lebih Besar

IRGC khawatir jika mereka setuju untuk bernegosiasi terkait isu nuklir di awal pembicaraan, mereka akan terlihat tunduk di bawah ancaman AS. 

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan domestik menjelang pemilihan paruh waktu, yang membuatnya tidak memiliki banyak ruang untuk memberikan konsesi tanpa risiko politik yang besar.

Situasi ini memperkuat posisi IRGC di dalam negeri untuk terus mendorong agenda pertahanan yang agresif dan mengesampingkan suara-suara pragmatis.

Baca juga: Proposal Baru Iran: Tawarkan Buka Selat Hormuz, Syaratkan AS Cabut Blokade

Dari ulama ke sektor keamanan

Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) dan pejabat tinggi militer lainnya saat menyaksikan Garda Revolusi Iran (IRGC) baris-berbaris dalam parade tahunan yang menandai pecahnya negara dengan Irak, di Teheran, 22 September 2019.KANTOR KEPRESIDENAN IRAN via AFP Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) dan pejabat tinggi militer lainnya saat menyaksikan Garda Revolusi Iran (IRGC) baris-berbaris dalam parade tahunan yang menandai pecahnya negara dengan Irak, di Teheran, 22 September 2019.

Pergeseran ini menandai berakhirnya supremasi ulama tradisional di Iran dan dimulainya era dominasi keamanan. 

Para analis melihat, Mojtaba Khamenei, meskipun menyandang status sebagai pemimpin tertinggi, pada kenyataannya tidak memiliki kekuatan untuk menentang lembaga yang menjalankan upaya perang. 

“Kesepakatan penting mungkin melewati dia, tetapi saya tidak melihat dia akan mengesampingkan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana mungkin dia menentang mereka yang menjalankan upaya perang?” kata analis Arash Azizi.

Perubahan fundamental ini dirangkum dengan tajam oleh mantan negosiator AS, Aaron David Miller.

Baca juga: Trump Sebut Iran Sedang Runtuh, Minta AS Buka Selat Hormuz

Menurutnya, Iran kini telah bergeser dari kekuasaan berbasis agama menuju kekuasaan berbasis kekuatan militer murni. 

"Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Beginilah cara Iran diperintah,” jelas dia.

Hingga pekan kesembilan perang, Iran tetap menunjukkan kekompakan yang solid di bawah komando IRGC. Belum ada tanda-tanda perpecahan atau pemberontakan domestik yang berarti. 

Hal ini mengonfirmasi bahwa mesin keamanan Iran kini tidak lagi sekadar melaksanakan perang, tetapi telah menjadi otak utama yang menggerakkan arah masa depan negara.

Tag:  #pergeseran #takhta #iran #dominasi #irgc #balik #melemahnya #kekuasaan #ulama

KOMENTAR