Ancaman Kehilangan Pekerjaan Menghantui Jutaan Warga Iran akibat Perang
- Jutaan warga Iran terancam kehilangan pekerjaan dan terdorong ke dalam kemiskinan akibat perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari 2026 lalu.
Hampir tidak ada sektor yang terhindar dari dampaknya, dengan banyak perusahaan yang memberhentikan pekerjanya, menurut laporan CNN, Selasa (28/4/2026).
Ekonomi Iran sendiri berada dalam kondisi yang sangat buruk bahkan sebelum konflik akibat inflasi, korupsi, dan sanksi. Namun kini menjadi lebih menakutkan.
Baca juga: Analis China Temukan Titik Lemah Militer AS akibat Perang Iran
Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), hingga 4,1 juta orang lagi berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat konflik AS-Iran.
Kerusakan fisik yang disebabkan ribuan serangan udara telah menyebabkan pengungsian besar-besaran, menurut UNDP.
Lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan telah terkena dampaknya, seperti yang dilaporkan oleh media EcoIran.
Baca juga: Trump Ngamuk Usai Jerman Sebut AS Dipermalukan Iran
Satu juta pekerjaan hilang akibat perang Iran
Menurut Wakil Menteri Ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, hal itu secara langsung menyebabkan hilangnya satu juta pekerjaan.
Dan dampak tidak langsungnya telah menyebabkan satu juta orang lainnya kehilangan pekerjaan, menurut perkiraan publikasi Iran, Etemad Online.
Gangguan pada pengiriman barang, dan impor, juga telah mengganggu perekonomian Iran yang sudah rapuh.
"(Kondisi ini) menempatkan 50 persen lapangan kerja di Iran dalam risiko dan mendorong tambahan 5 persen penduduk ke dalam kemiskinan," menurut Hadi Kahalzadeh dari Quincy Institute, sebuah lembaga kajian kebijakan luar negeri.
Baca juga: Blokade Makin Panas, Pasukan AS Geledah Kapal yang Terkait Iran
“Banyak perusahaan telah menangguhkan operasinya di bawah tekanan gabungan dari perang, inflasi, resesi, dan runtuhnya permintaan,” kata dia.
Serangan udara Israel bulan lalu terhadap kompleks petrokimia besar telah menyebabkan ribuan pekerja cuti tanpa gaji.
Pabrik baja terbesar Iran juga terkena serangan, yang menyebabkan produsen trailer Maral Sanat memberhentikan 1.500 pekerja karena kekurangan baja. Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Iran, Borujerd, juga memberhentikan 700 pekerja.
Baca juga: Kapal Pesiar Mewah Rusia Berhasil Lewati Selat Hormuz, Lolos Blokade Iran
“Beban paling berat dirasakan oleh pekerja informal dan pekerja berketerampilan rendah dan menengah di sektor formal, yang memiliki perlindungan paling sedikit dan pengaruh politik paling kecil,” menurut Kahalzadeh.
Media Iran melaporkan bahwa perusahaan e-commerce terbesar di negara itu, Digikala, telah memulai gelombang PHK di beberapa departemen.
Bisnis dan pekerja yang bergantung pada internet, yang "seharusnya bisa menjadi dukungan strategis untuk mengendalikan krisis pengangguran pasca-perang, justru sangat lemah," lapor kantor berita negara ILNA.
Baca juga: Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan
Pemerintah dituntut bertindak cepat
Seorang pria berjalan melewati gambar mural bendera Iran di Teheran, Sabtu (26/10/2024), pada hari ketika serangan Israel ke Iran terjadi.
Angka pengangguran telah menambah tekanan pada sistem jaminan sosial yang sudah tegang, pada saat pendapatan negara menipis.
Namun, menurut Etemad, tanpa dukungan pemerintah yang cepat, gelombang pengangguran yang jauh lebih besar kemungkinan akan terjadi.
Bantuan bisa berupa penangguhan pajak dan asuransi, pinjaman berbunga rendah, dan bantuan khusus untuk usaha kecil.
Kamar Dagang Teheran menyatakan bahwa pelestarian lapangan kerja harus menjadi prioritas ekonomi utama negara, dan mendesak perusahaan untuk mendukung para pekerja selama krisis ini.
Baca juga: Proposal Baru Iran: Tawarkan Buka Selat Hormuz, Syaratkan AS Cabut Blokade
Sementara itu, Pemerintah mengatakan kesulitan ini adalah konsekuensi dari perang tidak adil yang dilancarkan AS dan Israel terhadap rakyat Iran.
Dilaporkan bahwa pemerintah berencana untuk memperluas program voucher bulanan yang membantu masyarakat miskin dengan kebutuhan pokok.
Inflasi, pengangguran, dan kekurangan telah menciptakan "situasi yang mengerikan dan rumit," tulis surat kabar konservatif Ettelaat pada Senin (27/4/2026).
"Masalah-masalah ini tidak dapat diabaikan dengan kata-kata sopan atau pernyataan umum. Pemerintah mungkin segera membutuhkan program khusus untuk ekonomi masa perang," lanjut pernyataan itu.
Tag: #ancaman #kehilangan #pekerjaan #menghantui #jutaan #warga #iran #akibat #perang