Peta Pelayaran Dunia Berubah Total Akibat Konflik Iran, Afrika Jadi Andalan
Pelabuhan Cape Town, Afrika Selatan.(UNSPLASH/BENJAMIN LE ROUX)
13:24
1 Mei 2026

Peta Pelayaran Dunia Berubah Total Akibat Konflik Iran, Afrika Jadi Andalan

– Ditutupnya Selat Hormuz dan tegangnya situasi di Laut Merah akibat konflik Timur Tengah telah mengubah peta rute pelayaran dan perdagangan global secara signifikan. 

Afrika kini muncul sebagai poros utama lalu lintas kapal kontainer dunia, menggantikan rute tradisional yang sebelumnya melewati Timur Tengah, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (1/5/2026).

Berdasarkan sumber logistik dan maritim, situasi yang terjadi di Selat Hormuz dan Laut Merah memaksa pemilik kapal untuk mencari jalur alternatif, termasuk pengembangan koridor darat.

Hal tersebut mau tak mau mereka lakukan guna menyalurkan bahan pangan dan barang manufaktur ke negara-negara Teluk.

Baca juga: Sempat Diumumkan Dibuka, Iran Nyatakan Pelayaran Selat Hormuz Masih Terbatas

Data dari platform PortWatch milik Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, lalu lintas kapal komersial yang melewati Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Sebaliknya, arus kapal di Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah merosot lebih dari separuhnya. 

Tercatat, rata-rata 20 kapal komersial mengitari Tanjung Harapan setiap harinya pada periode Maret-April 2026, melonjak tajam dibandingkan hanya enam kapal pada periode yang sama tahun 2023.

"Saat ini, 70 persen lalu lintas kargo yang melewati Laut Merah pada 2023 telah dialihkan melalui Tanjung Harapan," ungkap Yves Guillo, pakar rantai pasokan di firma konsultan Efeso di Paris.

Senada dengan hal tersebut, Edouard Louis-Dreyfus, bos perusahaan pelayaran raksasa dari Perancis, Louis Dreyfus Armateurs, pesimistis situasi akan segera pulih.

"Dengan kondisi di Teluk saat ini, situasinya tidak akan membaik dalam waktu dekat," tuturnya kepada AFP.

Baca juga: Berkali-kali Diganggu Israel, Armada GSF Kukuh Lanjutkan Pelayaran ke Gaza

Hub baru

Kondisi ini juga memicu perubahan strategi logistik di wilayah Timur Tengah. Pelabuhan Jeddah di Arab Saudi kini bertransformasi menjadi "hub" regional baru. 

Kapal-kapal besar dari raksasa maritim seperti MSC, CMA CGM, Maersk, dan Cosco tiba di sana melalui Terusan Suez, untuk kemudian mendistribusikan barang melalui jalur darat.

Kargo tersebut diangkut menggunakan truk menyusuri jalan raya gurun menuju Sharjah, Bahrain, dan Kuwait, wilayah yang tidak lagi terlayani melalui jalur laut selama dua bulan terakhir. 

Namun, peralihan mendadak ini memicu masalah baru.

Baca juga: Houthi Tenggelamkan Kapal di Laut Merah, Keamanan Pelayaran Jadi Sorotan

"Pelabuhan Jeddah sama sekali tidak dirancang untuk menangani volume impor sebesar itu, sehingga muncul kemacetan pelabuhan," kata Arthur Barillas de The, salah satu pendiri perusahaan jasa perantara Ovrsea.

Data dari Kpler Marine Traffic mencatat rata-rata waktu tunggu bongkar muat di Jeddah meningkat menjadi 36 jam, dibandingkan 17 jam pada minggu sebelumnya. 

Selain Jeddah, pemilik kapal melirik Pelabuhan Sohar di Oman serta Khorfakkan dan Fujairah di Uni Emirat Arab sebagai titik alternatif di luar Selat Hormuz.

Perubahan rute ini membawa konsekuensi ekonomi yang berat. Waktu transportasi antara Asia dan Eropa kini lebih lama rata-rata dua minggu.

Baca juga: Lebih dari 20 Negara Berkoalisi dengan AS Lindungi Pelayaran di Laut Merah

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Menurut Yves Guillo, kenaikan biaya tidak terhindarkan karena kapal membutuhkan 30 hingga 50 persen lebih banyak bahan bakar. 

Selain itu, diperlukan tambahan 10 hingga 20 persen jumlah kapal untuk menjaga frekuensi layanan yang sama.

Indeks kargo Drewry menunjukkan harga rata-rata pengiriman kontainer standar ukuran 40 kaki pada rute utama naik 14 persen pada April ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Otoritas Malaysia Evakuasi Warga Indonesia yang Kena Stroke dalam Pelayaran

Tag:  #peta #pelayaran #dunia #berubah #total #akibat #konflik #iran #afrika #jadi #andalan

KOMENTAR