Posisi Trump Kini Disebut Jauh Lebih Buruk, Simalakama Perang Iran?
- Lebih dari dua bulan setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden Donald Trump kini menghadapi kenyataan pahit.
Konflik yang awalnya diprediksi akan membawa kemenangan militer kilat justru terjebak dalam kebuntuan panjang yang berisiko meninggalkan masalah lebih besar bagi dunia dibandingkan sebelum perang dimulai.
Meskipun Iran telah mengajukan proposal baru melalui mediator Pakistan, Trump secara tegas menolaknya pada Jumat (1/5/2026), sehingga kian memperumit jalan keluar diplomasi.
Bagi Gedung Putih dan Partai Republik, dampak dari kebuntuan ini sangat mengkhawatirkan.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (2/5/2026), popularitas Trump merosot tajam hingga menyentuh angka 34 persen, level terendah selama masa jabatannya, akibat lonjakan harga bensin.
Situasi ini menjadi beban berat menjelang pemilihan kongres paruh waktu pada November mendatang, di mana dominasi Partai Republik di Capitol Hill kini berada di ujung tanduk.
Baca juga: Kami seperti Bajak Laut di Selat Hormuz, Ambil Minyak, Ambil Kargo
Kegagalan mencapai tujuan strategis
Meski serangan udara AS dan Israel berhasil melemahkan infrastruktur militer Iran, banyak tujuan utama Trump yang tetap tidak tercapai.
Ambisi untuk melakukan perubahan rezim atau menutup total jalur nuklir Iran masih jauh dari panggang api.
Diperkirakan, stok uranium yang sangat diperkaya masih tersimpan aman di fasilitas bawah tanah setelah serangan Juni tahun lalu.
Masalah utama dalam kebuntuan negosiasi ini adalah perbedaan prioritas.
Teheran mengusulkan penundaan pembahasan nuklir hingga konflik berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali.
Baca juga: Reaksi Jerman Setelah AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin
Namun, Trump bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi poin pertama dalam setiap kesepakatan.
Kegagalan merebut jalur perairan vital untuk pengiriman minyak dari kendali Iran pada akhir konflik akan menjadi pukulan besar bagi warisan Trump.
"Trump akan dikenang sebagai presiden AS yang membuat dunia kurang aman,” kata analis Timur Tengah dari Universitas Johns Hopkins, Laura Blumenfeld.
Di sisi lain, Gedung Putih tetap menunjukkan sikap percaya diri yang kontras dengan penilaian para ahli.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales menyebutkan, tekanan militer justru membuat Teheran putus asa.
"Trump memegang semua kendali dan memiliki semua waktu yang dibutuhkan untuk membuat kesepakatan terbaik,” tegasnya.
Baca juga: Militer Iran Sebut AS Kemungkinan Besar Akan Menyerang Lagi
Iran yang semakin berani
Iran mengajukan proposal baru ke Amerika Serikat di tengah kebuntuan soal Selat Hormuz. Blokade masih berlangsung, sementara tekanan ekonomi dan risiko lonjakan harga minyak terus membayangi.
Kekalahan terbesar dalam perang ini mungkin bukan terjadi di medan tempur, melainkan pada hilangnya kendali atas jalur pelayaran vital.
Sebelum perang, Selat Hormuz adalah jalur bebas bagi seperlima minyak dunia.
Kini, dengan kemampuan Iran untuk mencekik pengiriman di Selat Hormuz meski dalam keadaan militer yang lemah, posisi tawar Teheran justru dianggap lebih kuat dibandingkan sebelum konflik pecah.
“Iran menyadari, bahkan dalam keadaan lemah, mereka dapat menutup Selat Hormuz sesuka hati,” tutur Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Ketidakpastian ini diperparah dengan munculnya kepemimpinan Iran yang jauh lebih garis keras.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini diyakini mendominasi kekuasaan setelah terbunuhnya beberapa tokoh kunci, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Seruan Trump agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka pun sejauh ini tampak tidak membuahkan hasil.
Baca juga: Warga AS Marah Besar Harga Bensin Naik Tertinggi, Caci Maki Trump
Risiko "konflik beku"
Di dalam internal pemerintahan AS, muncul opsi-opsi darurat jika kebuntuan ini terus berlanjut.
Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan blokade angkatan laut yang berkepanjangan selama berbulan-bulan untuk memaksa denuklirisasi.
Di saat yang sama, Komando Pusat AS (Centcom) juga disebut menyiapkan rencana serangan singkat dan dahsyat untuk merebut kembali sebagian Selat Hormuz.
Namun, para diplomat Eropa skeptis bahwa langkah ini akan segera mengakhiri ketegangan.
Baca juga: Iran Disebut Melunak, Siap Lanjutkan Perundingan dengan AS Pekan Depan
Ada kekhawatiran bahwa perang ini akan berubah menjadi "perang dingin", sebuah situasi di mana tidak ada perdamaian namun pertempuran skala besar juga berhenti.
Hal ini akan memaksa AS untuk tetap menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Timur Tengah, sebuah langkah yang bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menghindari intervensi asing.
“Iran tidak terpecah belah atau menyerah, mereka sedang mengulur waktu,” kata peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi.
Strategi menunggu ini tampaknya sengaja dilakukan Teheran untuk melihat seberapa kuat ekonomi AS menahan beban harga energi sebelum akhirnya Trump dipaksa menyerah oleh tekanan domestiknya sendiri.
Tag: #posisi #trump #kini #disebut #jauh #lebih #buruk #simalakama #perang #iran