Tak Cuma Tarik Pasukan, AS Batal Tempatkan Tomahawk di Jerman, Imbas Ketegangan Kanselir Merz-Trump?
Pemerintah Jerman mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat untuk sementara tidak akan menempatkan rudal jelajah Tomahawk di wilayahnya, di tengah dinamika hubungan kedua negara usai penarikan ribuan pasukan AS dari Eropa.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, keputusan tersebut bukan dipicu oleh ketegangan politik dengan Presiden AS Donald Trump, melainkan lebih pada keterbatasan persenjataan Washington.
“Amerika saat ini bahkan tidak memiliki cukup persenjataan untuk dirinya sendiri. Secara objektif, hampir tidak ada kemungkinan AS memasok sistem senjata seperti itu,” ujar Merz dalam wawancara dengan penyiar publik ARD, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Kanselir Jerman Akhirnya Buka Suara Usai AS Putuskan Tarik 5.000 Tentara
Merz menegaskan, batalnya rencana penempatan rudal Tomahawk tidak berkaitan dengan polemik terbaru antara dirinya dan Trump, termasuk pernyataannya yang sempat menyebut Iran “mempermalukan” AS dalam perundingan.
“Tidak ada kaitannya,” kata Merz.
Ia juga menambahkan tetap membuka peluang kerja sama dengan Trump.
“Saya tidak menyerah untuk bekerja sama dengan Donald Trump,” ujarnya.
Rudal Tomahawk sebelumnya dijanjikan oleh mantan Presiden AS Joe Biden pada 2024 sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tangkal militer Jerman, setidaknya hingga Eropa mampu mengembangkan sistem persenjataannya sendiri.
Penarikan 5.000 pasukan bukan hal baru
Selain isu rudal, Merz juga menanggapi keputusan AS menarik sekitar 5.000 tentara dari Jerman. Ia menilai langkah tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan.
Menurut dia, pasukan tersebut sejak awal ditempatkan secara sementara pada era Biden, dan rencana penarikannya memang sudah dibahas sejak lama.
Sebelumnya diberitakan, Pentagon mengumumkan penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari Jerman dalam kurun enam hingga 12 bulan ke depan, sebagai bagian dari evaluasi strategi militer di Eropa.
Langkah ini menjadi salah satu kebijakan terbaru pemerintahan Trump dalam mengurangi kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Baca juga: Reaksi Jerman Setelah AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin
Jerman tetap anggap AS mitra utama
Meski diwarnai sejumlah kebijakan yang dinilai memicu ketegangan, Merz tetap menegaskan bahwa AS adalah mitra terpenting Jerman dalam aliansi militer Barat.
Dalam pernyataan terpisah lewat unggahan X, ia menyebut, AS sebagai “mitra paling penting dalam Aliansi Atlantik Utara”, merujuk pada NATO.
Dalam isu berbagi senjata nuklir di NATO, Merz juga memastikan tidak ada perubahan komitmen dari AS.
“Tidak ada kompromi sama sekali, dan tidak ada pembatasan terhadap komitmen Amerika dalam pencegahan nuklir di kawasan NATO,” tegasnya.
Hubungan AS dan Jerman belakangan memang mengalami dinamika, terutama setelah perbedaan pandangan terkait konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Merz sebelumnya mengkritik posisi AS dalam perang tersebut, yang kemudian dibalas Trump dengan menyebut kanselir Jerman itu tidak memahami isu nuklir Iran.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menilai penarikan pasukan AS seharusnya menjadi momentum bagi negara-negara Eropa untuk lebih mandiri dalam bidang pertahanan.
Baca juga: Tanggapi Santai Penarikan 5.000 Tentara AS, Jerman: Agak Dilebih-lebihkan
“Kita sebagai warga Eropa harus lebih bertanggung jawab atas keamanan kita,” ujar Pistorius.
Selain faktor politik, kebijakan penarikan pasukan juga terjadi bersamaan dengan rencana AS menaikkan tarif impor kendaraan dari Uni Eropa hingga 25 persen, yang turut memperkeruh hubungan ekonomi kedua pihak.
Penarikan pasukan dan batalnya pengiriman rudal Tomahawk juga bisa dinilai sebagai sinyal bahwa AS ingin mengurangi beban militernya di Eropa dan mendorong sekutu-sekutunya mengambil peran lebih besar.
Tag: #cuma #tarik #pasukan #batal #tempatkan #tomahawk #jerman #imbas #ketegangan #kanselir #merz #trump