Eropa Mulai Patuh Usai Diancam Trump, Pangkalan Militer Dibuka untuk AS
BRUSSELS, KOMPAS.com - Negara-negara Eropa disebut telah “menangkap pesan” dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait dukungan dalam konflik Iran.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada Senin (4/5/2026), menyatakan bahwa kini negara-negara Eropa mulai memastikan implementasi perjanjian penggunaan pangkalan militer.
Pernyataan ini muncul setelah Washington menilai sebagian sekutu NATO kurang berkontribusi dalam perang melawan Iran.
Baca juga: Di Balik Penarikan Pasukan AS, Eropa Hadapi Krisis Lebih Dalam akibat Trump
Bahkan, AS telah mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentaranya dari Jerman sebagai sinyal ketidakpuasan.
Eropa mulai “patuh” pada AS
Rutte mengakui adanya kekecewaan dari pihak Amerika Serikat terhadap sekutu Eropa dalam perang Iran. Namun, ia menegaskan bahwa situasi kini mulai berubah.
“Ya, memang ada kekecewaan dari pihak AS, tetapi negara-negara Eropa telah mendengarkan,” kata Rutte kepada wartawan dalam KTT Komunitas Politik Eropa di Armenia, dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan, “Mereka sekarang memastikan bahwa semua perjanjian bilateral terkait penggunaan pangkalan militer benar-benar dijalankan.”
Menurut Rutte, sejumlah negara NATO seperti Montenegro, Kroasia, Rumania, Portugal, Yunani, Italia, Inggris, Perancis, dan Jerman telah memenuhi permintaan penggunaan pangkalan serta dukungan logistik lainnya.
Namun, Spanyol menjadi pengecualian dengan menegaskan bahwa pangkalan di wilayahnya tidak dapat digunakan untuk perang dengan Iran.
Penarikan pasukan AS picu kekhawatiran Uni Eropa
Ilustrasi militer AS, tentara Amerika Serikat.
Sebelumnya, AS mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentaranya dari Jerman. Kepala diplomasi Uni Eropa, Kaja Kallas, mengaku langkah tersebut mengejutkan.
“Waktu pengumuman AS mengenai rencana penarikan 5.000 tentara dari Jerman datang sebagai kejutan,” ujarnya.
Ia menilai keputusan itu menjadi peringatan bagi Eropa untuk memperkuat perannya dalam NATO.
“Rencana penarikan ini menunjukkan bahwa kita perlu memperkuat pilar Eropa dalam NATO dan kita benar-benar harus berbuat lebih,” kata Kallas.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran pasukan AS di Eropa bukan hanya untuk kepentingan Eropa.
“Pasukan Amerika tidak berada di Eropa hanya untuk melindungi kepentingan Eropa, tetapi juga kepentingan Amerika,” tambahnya.
Baca juga: Trump Naikkan Tarif Impor Mobil Eropa Jadi 25 Persen, Hubungan Makin Renggang?
NATO siapkan fase berikutnya di Teluk
Rutte juga mengungkapkan bahwa semakin banyak negara Eropa mulai menempatkan aset militer lebih dekat ke kawasan Teluk, termasuk kapal pemburu ranjau dan penyapu ranjau.
Langkah ini disebut sebagai persiapan menghadapi “fase berikutnya” dari konflik. Selain itu, sejumlah negara Eropa juga menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam misi menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz setelah perang berakhir.
Pentagon pertimbangkan tekanan ke sekutu NATO
Di sisi lain, laporan dari pejabat AS mengungkap adanya surel internal Pentagon yang membahas opsi untuk “menghukum” sekutu NATO yang dianggap tidak mendukung operasi AS di Iran.
Menurut pejabat tersebut, opsi yang dibahas termasuk kemungkinan menangguhkan Spanyol dari aliansi serta meninjau kembali posisi AS terhadap klaim Inggris atas Kepulauan Falkland.
Email tersebut juga menyoroti pentingnya akses pangkalan, hak lintas udara, dan dukungan logistik—dikenal sebagai ABO—yang disebut sebagai “standar minimum dalam NATO.”
Selain itu, terdapat opsi untuk menyingkirkan negara-negara yang dianggap “sulit” dari posisi penting atau bergengsi di dalam NATO.
Baca juga: AS-Eropa Retak? Pengulangan Sejarah yang Tak Perlu
Tag: #eropa #mulai #patuh #usai #diancam #trump #pangkalan #militer #dibuka #untuk