Strategi Investasi Saat Dunia Tak Pasti: Waspada tapi Oportunistik
CEO PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi (kiri) dan Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Cahyadi Wana (tengah) pada acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN)
23:08
19 Mei 2026

Strategi Investasi Saat Dunia Tak Pasti: Waspada tapi Oportunistik

- Ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, lonjakan harga minyak dunia, hingga arus keluar dana asing dari pasar saham membuat investor menghadapi tantangan besar dalam menentukan strategi investasi.

Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Cahyadi Wana mengatakan, kondisi pasar saat ini membuat investor tidak bisa hanya mengandalkan optimisme dalam mengambil keputusan investasi.

Menurut dia, strategi yang relevan saat ini adalah memadukan sikap hati-hati dengan kemampuan menangkap peluang.

Baca juga: Pinjol dan Paylater Meningkat, Anak Muda Didorong Mulai Investasi Rutin

Ilustrasi investasi emas.SHUTTERSTOCK/SIMON JHUAN Ilustrasi investasi emas.

“Ada dua filosofi yang kami adopsi sekarang, yaitu cautious (waspada) dan opportunistic (oportunistik),” ujar Arief dalam SMBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Ia mengatakan, pendekatan tersebut digunakan karena situasi global saat ini dipenuhi ketidakpastian yang sulit diprediksi, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.

“Mohon maaf, saya tidak bisa dengan lantang bicara bahwa saya ini sangat positif dan saya ini sangat optimis karena memang situasi yang kita alami sekarang ini terlalu banyak ketidakpastian,” kata dia.

Arief menuturkan, tekanan terhadap pasar saham masih cukup besar. Ia menyebut indeks saham sempat turun lebih dari 3 persen dalam perdagangan harian dan sehari sebelumnya juga melemah cukup dalam.

Baca juga: Tren Investasi Gen Z: Aktif Mulai, Tapi Masih Mencari Cara

“Posisi kami melihat pasar saham, yang sebetulnya as we speak market lagi turun sekitar 3,2 persen. Kemarin turun juga 1,8 persen,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan investor perlu lebih selektif dalam mengelola portofolio dan tidak sekadar mengejar kenaikan pasar jangka pendek.

Ilustrasi investasiFREEPIK/8PHOTO Ilustrasi investasi

Strategi investasi dimulai dari membaca risiko global

Dalam menerapkan strategi investasi, Arief menuturkan, pihaknya memandang harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar ke depan.

Arief mengatakan, lonjakan harga minyak sejak Februari dipicu konflik Iran-Israel dan meningkatnya tensi geopolitik global.

Baca juga: Investasi ST016 Mulai Rp 1 Juta, Ini Keuntungan yang Ditawarkan

“Kita tahu dari Februari oil prices sudah meroket,” terang dia.

Menurut Arief, kenaikan harga minyak menjadi risiko terbesar bagi pasar saham karena dapat memengaruhi inflasi, suku bunga, hingga profitabilitas perusahaan.

Ia mengatakan, pihaknya tidak melihat harga minyak akan kembali ke level rendah dalam waktu dekat.

“Kami melihat bahwa oil prices ini sulit untuk balik ke 50 dollar AS atau 60 dollar AS,” ujarnya.

Baca juga: Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh

Ashmore juga melakukan simulasi terhadap berbagai guncangan harga minyak dalam sekitar 45 tahun terakhir untuk melihat dampaknya terhadap investasi.

“Kami melakukan beberapa simulasi dan melihat ke beberapa oil shock yang terjadi hampir 45 tahun terakhir, bahwa memang membutuhkan waktu antara enam sampai tujuh bulan untuk oil prices itu normalize,” papar Arief.

Menurut dia, situasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi investasi, terutama untuk pasar saham.

“Ini menurut saya sangat penting untuk melihat bagaimana kita menyikapi juga investasi,” ujarnya.

Baca juga: OJK Resmi Bedakan Produk Simpanan dan Investasi di Bank Syariah

Sikap waspada diterapkan saat risiko pasar meningkat

Arief menjelaskan, pendekatan cautious alias waspada dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang dapat menekan pasar saham, termasuk risiko penurunan laba perusahaan.

Ilustrasi investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investasi.

Menurut dia, Ashmore melakukan analisis sensitivitas terhadap beberapa skenario harga minyak dunia, mulai dari 70 dollar AS, 85 dollar AS, hingga 100 dollar AS per barrel.

Ia mengatakan, kenaikan harga minyak dapat menekan pertumbuhan laba emiten sehingga risiko investasi di pasar saham menjadi lebih besar.

“Risiko dari earning risk itu cukup besar karena oil prices,” sebut Arief.

Baca juga: Permintaan Emas Global Menguat, Asia Jadi Motor Investasi

Kondisi tersebut membuat Ashmore memilih untuk lebih berhati-hati dalam menyusun portofolio investasi.

“Makanya kenapa kami dalam melihat portfolio kami agak sedikit cautious pada view,” kata dia.

Selain risiko dari harga minyak, tekanan juga datang dari arus keluar dana asing di pasar saham Indonesia. Menurut Arief, investor asing masih terus menarik dana dari pasar domestik.

“Indonesia untuk equity itu kita mengalami outflow sekitar 2,4 billion, mungkin as of now ke sekitar 2,8 atau 2,9 billion,” ujarnya.

Baca juga: Rupiah Melemah Imbas Geopolitik, Ini Rekomendasi Investasi Aman

Ia mengatakan, outflow tersebut diperburuk perubahan komposisi indeks MSCI yang mengurangi beberapa saham dengan konsentrasi tinggi.

“Kita melihat ada outflow sekitar 1 miliar dollar AS dan ini masih berkelanjutan,” kata Arief.

Tekanan jual tersebut terlihat dari pelemahan indeks saham dalam beberapa hari terakhir.

“Kita melihat dalam dua hari terakhir ini tekanan terhadap indeks cukup intens,” sambung dia.

Baca juga: Gen Z, Investasi, dan Ilusi Pertumbuhan di Tengah Ekonomi Survival Mode

Oportunistik dengan mencari sektor yang diuntungkan

Meski berhati-hati, Ashmore tetap melihat adanya peluang investasi di tengah tekanan pasar.

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Pendekatan oportunistik dilakukan dengan mencari sektor yang masih memiliki potensi pertumbuhan laba di tengah kenaikan harga minyak dan komoditas.

Menurut Arief, sektor energi dan basic materials menjadi salah satu sektor yang berpotensi mencatat pertumbuhan lebih baik dibanding sektor lain.

“Kalau kita melihat sektor energi atau sektor basic materials yaitu commodity, itu dengan kenaikan oil prices (di level) 100 dollar AS mereka tumbuhnya lebih cepat,” kata dia.

Baca juga: Target Pasar Modal hingga 2029: Bisa Sumbang Rp 1.812 Triliun ke Investasi Nasional

Ia menilai, Indonesia secara keseluruhan sebenarnya tidak terlalu dirugikan ketika harga minyak naik, terutama karena Indonesia juga memiliki basis komoditas yang cukup besar.

“Indonesia itu sebetulnya tidak terlalu worse off dengan harga oil prices naik,” ujar Arief.

Namun, ia menekankan kondisi tersebut tetap bergantung pada kemampuan regulator dan pemerintah dalam mengelola dampak kenaikan harga komoditas.

“Selama tentunya regulator dan pemerintah bisa memanage ini dengan baik,” kata dia.

Baca juga: Purbaya Ingatkan Investor Muda Risiko Investasi: Gen Z Biasanya Sok Tahu

Menurut Arief, pendekatan oportunistik bukan berarti agresif mengambil risiko, melainkan tetap selektif dalam mencari peluang investasi yang memiliki fundamental kuat.

Ia mengatakan, investor perlu memahami bahwa di tengah krisis atau tekanan pasar selalu ada peluang yang muncul pada sektor tertentu.

Investor dinilai perlu fokus pada fundamental

Selain melihat momentum jangka pendek, Arief menilai investor perlu memperhatikan fundamental perusahaan dan prospek bisnis jangka panjang sebelum mengambil keputusan investasi.

Menurut dia, pendekatan jangka panjang menjadi penting karena arah pasar dalam situasi seperti sekarang sulit diprediksi.

Baca juga: Mengapa Pengendalian Diri Penting dalam Trading dan Investasi?

Ilustrasi investasi. Reksa dana. Reksa dana pasar uang. Reksadana pasar uang.PIXABAY Ilustrasi investasi. Reksa dana. Reksa dana pasar uang. Reksadana pasar uang.

“Masa sekarang seperti ini agak sulit untuk melihat apa yang akan terjadi dalam tiga atau lima tahun,” ujar dia.

Arief mengaku telah menyaksikan berbagai krisis sejak akhir 1990-an dan melihat bahwa kondisi pasar selalu berubah secara dinamis.

“Saya melihat market dari tahun 1996. Jadi saya sudah melihat banyak sekali krisis,” kata dia.

Ia mencontohkan pengalaman saat krisis 1998 ketika saham PT United Tractors Tbk (UNTR) sempat diperdagangkan di level sangat rendah.

Baca juga: Nasihat Investasi untuk Gen Z: Fokus Jangka Panjang, Bukan Sekadar Ikuti Tren

“Tahun 1998 saya masih ingat semua tidak ada yang mengantar satu perusahaan saja yang namanya United Tractors. Waktu harganya cuma 300 perak,” ujar Arief.

Menurut dia, pada masa itu hampir tidak ada investor yang percaya perusahaan alat berat tersebut dapat kembali tumbuh.

“Pada saat itu saya tidak bisa melihat mereka itu bisa menjual satu pun alat heavy,” kata dia.

Namun, seiring waktu saham tersebut justru mengalami kenaikan signifikan. Pengalaman itu membuat Ashmore memandang strategi investasi perlu menggabungkan pendekatan jangka pendek dan jangka panjang.

Baca juga: ETF Emas: Jembatan Investasi Baru, Perluas Pasar, dan Perkuat Industri Keuangan

“Ada short term technical strategy, ada long term,” ujar Arief.

Menurut dia, strategi jangka panjang dilakukan dengan menunggu kondisi fundamental yang lebih jelas meski berisiko tertinggal kenaikan pasar dalam jangka pendek.

“Long term itu biar kita ketinggalan 10 sampai 20 persen, tapi kita melihat bahwa outlook fundamentalnya lebih clear dibanding sekarang,” kata dia.

Di tengah kondisi global yang belum stabil, Arief menilai investor perlu menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dan kemampuan membaca peluang pasar.

Baca juga: Generative AI Masuk Aplikasi Investasi, Bantu Analisis Saham Real-Time

“Dua kata yang penting untuk melihat masa sekarang itu adalah memadukan penuh cautious, tapi juga harus opportunistic,” tukas Arief.

Tag:  #strategi #investasi #saat #dunia #pasti #waspada #tapi #oportunistik

KOMENTAR