Bantu IRGC, Pasukan Iran Ini Makin Kuat Pukul AS-Israel
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tak hanya melibatkan Garda Revolusi Islam (IRGC), tetapi juga kekuatan militer konvensional Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, Angkatan Darat Iran atau Artesh mulai meningkatkan perannya di medan tempur.
Selama ini, IRGC lebih dominan dalam operasi ofensif, sementara Artesh cenderung berada di belakang layar. Namun kini, keterlibatan Artesh semakin meluas dan terlihat dalam berbagai operasi militer.
Baca juga: Diuji Serangan Iran, Trump Bimbang: Balas atau Tahan Diri?
Peran Artesh
Dilansir Newsweek, Jumat (1/5/2026), Artesh merupakan militer konvensional Iran yang berjalan paralel dengan IRGC, dengan masing-masing memiliki cabang darat, laut, dan udara sendiri.
Jika IRGC bertugas menjaga ideologi Republik Islam, Artesh berfokus pada pertahanan wilayah.
Analis keamanan dari University of Toronto, Shahryar Pasandieh, mengatakan bahwa meski kemampuannya masih di bawah IRGC, peran Artesh dalam perang meningkat signifikan.
Ia menyebut, “cakupan partisipasi Artesh dalam perang ini telah berkembang pesat.”
Pada awal konflik, Artesh bahkan melakukan mobilisasi besar pertamanya dalam beberapa dekade, termasuk meluncurkan drone model Arash sebagai respons terhadap serangan Israel.
Operasi di udara, darat, dan laut
Seluruh cabang Artesh—darat, udara, laut, dan pertahanan udara—turut terlibat dalam menghadapi serangan gabungan AS-Israel sejak akhir Februari.
Meski Angkatan Laut Iran mengalami kerugian besar akibat serangan AS, Artesh tetap mampu memberikan serangan balasan.
Pasandieh mengungkapkan, “drone serang Artesh telah digunakan terhadap target di seluruh kawasan, bukan hanya Israel.”
Ia juga menyebut bahwa Angkatan Udara Iran kemungkinan telah diperintahkan sebelum perang untuk melakukan serangan berani ke target di negara-negara Teluk Arab.
Salah satu laporan bahkan menyebut pesawat tempur F-5 milik Iran berhasil menembus pertahanan udara pangkalan militer AS di Camp Buehring, Kuwait—sebuah kejutan terhadap klaim superioritas udara penuh Washington.
Di darat, pasukan Artesh juga disiagakan penuh, terutama saat muncul laporan potensi invasi separatis Kurdi yang didukung AS dan Israel dari Irak, serta kemungkinan operasi darat AS di pesisir Teluk Persia.
Baca juga: Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak
Keterbatasan dibanding IRGC
Meski memiliki sekitar 400 ribu personel—lebih besar dari IRGC—kemampuan tempur Artesh dinilai masih tertinggal.
“Pasukan darat Artesh besar secara jumlah, tetapi sangat terbatas secara kualitas,” kata Pasandieh.
Ia menambahkan bahwa personel non-pasukan khusus Artesh kurang siap menghadapi operasi tempur melawan AS dibandingkan pasukan IRGC.
Selain itu, kemampuan serangan jarak pendek dan kekuatan udara Iran juga dinilai lemah karena kurang pendanaan dan penggunaan alutsista yang sudah usang.
Analis Iran dari University of Oxford, Ashkan Hashemipour, menyebut peran Artesh lebih bersifat defensif. Ia mengatakan, “IRGC memainkan peran lebih ofensif dan eskalatif,” termasuk serangan rudal, drone, dan operasi laut di Selat Hormuz.
Perebutan pengaruh di dalam negeri
Para anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer di Teluk untuk memulai rangkaian simulasi militer di Selat Hormuz pada 16 Februari 2026.
Di luar medan perang, hubungan antara Artesh dan IRGC juga mencerminkan dinamika kekuasaan di Iran.
Sebelum wafat dalam serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei disebut berupaya menyeimbangkan kekuatan dengan meningkatkan peran Artesh sebagai penyeimbang IRGC.
Namun, analis Kamran Bokhari menilai proses tersebut belum matang. “IRGC masih mengendalikan banyak hal—telekomunikasi, keamanan domestik, ekonomi, hingga program rudal dan nuklir. Artesh tidak,” ujarnya.
Kematian sejumlah pejabat militer senior dari kalangan Artesh juga memperkuat dominasi IRGC, termasuk naiknya tokoh-tokoh baru seperti Ahmad Vahidi.
Meski ada perbedaan peran, kedua kekuatan militer Iran tetap solid menghadapi ancaman eksternal.
Bokhari menegaskan, “Dalam kondisi perang, Anda harus mempertahankan negara. Ini bukan hanya soal rezim, tapi tentang negara itu sendiri.”
Senada, mantan diplomat AS Alan Eyre menilai perbedaan ideologis antara IRGC dan Artesh kini sudah memudar. Ia mengatakan, “Saya tidak melihat perbedaan ideologis yang signifikan antara pimpinan IRGC dan Artesh saat ini.”
Baca juga: Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz
Tag: #bantu #irgc #pasukan #iran #makin #kuat #pukul #israel