Diuji Serangan Iran, Trump Bimbang: Balas atau Tahan Diri?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi ujian besar dalam upayanya mengakhiri perang dengan Iran setelah Teheran menyerang kapal perang AS di Selat Hormuz.
Serangan itu juga mengganggu upaya Washington untuk memulihkan jalur pelayaran di kawasan strategis tersebut.
Di tengah eskalasi, Trump disebut berada di persimpangan antara membalas secara militer atau menahan diri demi menghindari konflik yang lebih luas.
Baca juga: Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak
Situasi ini terjadi saat perang yang telah berlangsung berminggu-minggu mulai berdampak pada harga energi dan ekonomi global.
Serangan Iran uji strategi AS
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis video yang diklaim menunjukkan kapal perusak milik Amerika Serikat mundur dari kawasan Selat Hormuz setelah mendapat peringatan dari angkatan laut Iran.
Militer AS terpaksa merespons setelah Iran menembakkan rudal jelajah dan proyektil lain ke kapal perang Amerika serta kapal komersial.
Komando Pusat AS menyebut helikopter Apache digunakan untuk menenggelamkan kapal cepat Iran yang mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.
Meski insiden ini memperkeruh situasi, Trump tidak langsung menyatakan bahwa Iran melanggar gencatan senjata. Ia bahkan memberi sinyal ingin tetap melanjutkan pendekatan yang ada.
“Saya menyebutnya perang kecil,” kata Trump di Gedung Putih, sebagaimana dikutip The Wall Street Journal, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan konflik itu hanyalah “gangguan kecil, dan berjalan dengan sangat baik.”
Dilema Trump
Sejumlah pejabat AS menyebut Trump selama beberapa hari terakhir menimbang dua dorongan besar, yakni menghukum Iran karena tidak menghentikan program nuklirnya atau menghindari eskalasi lebih jauh.
Trump disebut enggan memulai kampanye pengeboman baru dan lebih memilih solusi negosiasi.
Namun, situasi terbaru membuatnya harus segera menentukan arah. Ia menyatakan memiliki posisi kuat dalam kedua opsi tersebut.
“Bagaimanapun juga, kita menang. Kita bisa membuat kesepakatan yang tepat, atau kita menang dengan sangat mudah dari sudut pandang militer,” ujar Trump kepada pembawa acara radio Hugh Hewitt.
Baca juga: AS Tuduh China Danai Iran, Minta Beijing Bantu Buka Selat Hormuz
Tekanan politik meningkat
Tekanan datang dari sekutu politiknya sendiri. Senator Lindsey Graham menilai Iran “benar-benar” telah melanggar gencatan senjata dan mendesak serangan balasan yang “besar, kuat, menyakitkan, dan singkat.”
Ia menambahkan, “Tindakan hari ini tidak konsisten dengan rezim yang ingin solusi diplomatik.”
Sejak gencatan senjata dimulai 7 April, AS mencoba menekan Iran melalui negosiasi dan langkah ekonomi.
Washington bahkan memberlakukan blokade terhadap kapal yang menuju dan dari pelabuhan Iran setelah pembicaraan nuklir menemui jalan buntu.
Trump sempat yakin langkah itu akan berhasil. Ia menyebutnya “100 persen tanpa celah.”
Namun, tekanan tersebut belum membuat Iran memenuhi tuntutan AS.
Sebagai jalan tengah, Trump menyetujui operasi “Project Freedom” untuk membantu kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan aman. Namun, hanya beberapa jam setelah dimulai, Iran kembali melancarkan serangan.
Baca juga: Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz
Tag: #diuji #serangan #iran #trump #bimbang #balas #atau #tahan #diri