AS Tiba-tiba Nyatakan Operasi Militer Iran Rampung, Klaim Capai Target
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.(US CENTRAL COMMAND (CENTCOM) via AFP)
06:23
6 Mei 2026

AS Tiba-tiba Nyatakan Operasi Militer Iran Rampung, Klaim Capai Target

- Amerika Serikat (AS) menyatakan, operasi militer terhadap Iran telah rampung dan telah mencapai target utama dalam aksinya tersebut.

Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam konferensi pers langka di Gedung Putih, Selasa (5/5/2025). 

Dia hadir menggantikan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang tengah menjalani cuti melahirkan, sebagaimana dilansir Reuters.

Baca juga: Takut dengan Milisi Sekutu Iran di Irak, AS Minta Warganya Pergi dari Baghdad

"Operation Epic Fury sudah selesai. Kami mencapai tujuan dari operasi tersebut. Saya tidak akan tidak mengharapkan situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalur damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan," ucap Rubio.

Meski operasi utama dinyatakan berakhir, AS kini meluncurkan operasi baru berskala lebih kecil yang dinamakan "Project Freedom". 

Operasi ini berfokus pada pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sangat krusial bagi pasokan minyak dunia.

Rubio menegaskan, "Project Freedom" bersifat defensif. Dia menyatakan AS tidak akan melakukan tindakan militer kecuali jika diserang lebih dulu.

Pernyataan ini muncul di tengah sorotan terkait belum diamankannya cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran serta situasi keamanan di Selat Hormuz.

Baca juga: Iran Terbuka untuk Negosiasi, tapi Tetap Siap Hadapi Eskalasi

Redam kritik

Di sisi lain, pernyataan Rubio ini dinilai sebagai upaya untuk meredam kritik dari Kongres AS. 

Para anggota legislatif sebelumnya menuding Presiden AS Donald Trump telah melanggar aturan perang yang tertuang dalam War Powers Resolution tahun 1973.

Beleid tersebut membatasi tindakan militer presiden tanpa persetujuan Kongres dalam kurun waktu 60 hari.

Diketahui, konflik dengan Iran dimulai sejak 28 Februari lalu melalui serangan udara yang dilancarkan oleh Israel dan AS. 

Batas waktu 60 hari untuk mengakhiri atau memperpanjang mandat perang tersebut jatuh pada Jumat (1/5/2026) pekan lalu.

Pemerintah AS menyiasati ketentuan hukum tersebut dengan mengumumkan secara resmi bahwa "Operation Epic Fury" telah berakhir pada hari Jumat itu.

Baca juga: AS Tidak Ingin Bertempur, Tapi Siap Hancurkan Iran jika Menyerang

Korban jiwa

Dalam kesempatan yang sama, Rubio mengungkapkan dampak memilukan dari blokade di Selat Hormuz. 

Dia menyebut sekitar 23.000 orang dari 87 negara terjebak di dalam kapal-kapal yang tertahan di wilayah Teluk.

Bahkan, ia mengonfirmasi adanya korban jiwa di kalangan warga sipil akibat konflik yang berkepanjangan di jalur perairan tersebut.

"Mereka terisolasi, mereka kelaparan, mereka rentan, dan setidaknya 10 pelaut telah tewas sebagai akibatnya, pelaut sipil," ungkap Rubio tanpa merinci lebih lanjut detail kematian tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa ratusan kapal telah mengantre untuk melewati selat tersebut. 

Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Baca juga: Pasukan AS Sudah Siap Serang Iran Lagi, Tinggal Tunggu Perintah

Diplomasi nuklir

Meskipun Rubio mengklaim kemenangan operasional, satu target besar pemerintahan Trump belum tercapai, yakni memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. 

Hingga saat ini, Iran dilaporkan belum menyerahkan lebih dari 408 kilogram uranium yang diperkaya tinggi.

Rubio mendesak Teheran untuk segera menerima kenyataan di lapangan. Dia menyebut dua utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terus mengupayakan solusi diplomatik.

Menurutnya, kesepakatan di masa depan harus menyentuh isu keberadaan material nuklir yang diduga disembunyikan Iran.

"Presiden sudah jelas bahwa bagian dari proses negosiasi tidak hanya soal pengayaan (uranium), tetapi juga apa yang terjadi pada material yang terkubur jauh di suatu tempat, yang masih bisa mereka akses jika mereka ingin menggulirnya kembali," jelas Rubio.

Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan IranTASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran

Ia menolak memberikan rincian kemajuan negosiasi tersebut, namun menekankan bahwa kesepakatan tidak harus diselesaikan dalam satu hari karena kerumitan teknis.

"Ini sangat kompleks dan teknis, tetapi kita harus memiliki solusi diplomatik yang sangat jelas mengenai topik yang mereka bersedia negosiasikan, serta sejauh mana konsesi yang bersedia mereka berikan di awal agar pembicaraan tersebut sepadan," pungkasnya.

Baca juga: 2 Kapal Sudah Terjebak, Iran Sebut Rute Baru AS di Selat Hormuz Berbahaya 

Tag:  #tiba #tiba #nyatakan #operasi #militer #iran #rampung #klaim #capai #target

KOMENTAR