AS Pertahankan Gencatan Senjata dengan Iran, Umumkan Operasi Militer Berakhir
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
08:06
6 Mei 2026

AS Pertahankan Gencatan Senjata dengan Iran, Umumkan Operasi Militer Berakhir

- Pemerintah Amerika Serikat (AS) berupaya mempertahankan gencatan senjata yang rapuh dengan Iran pada Selasa (5/5/2026). 

Di sisi lain, upaya tersebut bebarengan dengan misi pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, upaya pengawalan kapal-kapal tanker yang terjebak di Selat Hormuz bersifat defensif. 

Baca juga: Takut dengan Milisi Sekutu Iran di Irak, AS Minta Warganya Pergi dari Baghdad

"Tidak akan ada penembakan kecuali jika kami ditembak lebih dulu," ujar Rubio kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir Reuters.

Dia juga mengeklaim bahwa tujuan militer AS dalam kampanye tersebut telah tercapai. 

"Operation Epic Fury telah berakhir. Kami tidak mengharapkan adanya situasi tambahan yang terjadi," papar Rubio.

Kendati demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Salah satu target utama Presiden AS Donald Trump dalam serangan militer terhadap Iran adalah memastikan Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Akan tetapi, hingga saat ini, Iran dilaporkan belum menyerahkan lebih dari 400 kilogram  uranium yang diperkaya tinggi.

Baca juga: Iran Terbuka untuk Negosiasi, tapi Tetap Siap Hadapi Eskalasi

Kondisi Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia, praktis lumpuh sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. 

Penutupan jalur vital ini telah memicu gangguan distribusi yang melambungkan harga komoditas global.

Iran secara efektif menutup selat tersebut dengan ancaman ranjau, drone, rudal, dan kapal serbu cepat. 

Sebagai respons, AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memberikan pengawalan militer bagi kapal dagang yang melintas.

Baca juga: AS Tidak Ingin Bertempur, Tapi Siap Hancurkan Iran jika Menyerang

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeklaim bahwa militer AS telah berhasil mengamankan jalur perairan tersebut. 

Dia menyebut ratusan kapal komersial kini telah mengantre untuk lewat.

"Saat ini gencatan senjata tentu saja bertahan, tetapi kami akan mengawasinya dengan sangat, sangat ketat," kata Hegseth.

Optimisme senada disampaikan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine. 

Dia menilai serangan Iran terhadap pasukan AS masih berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali operasi tempur besar saat ini.

Baca juga: Pasukan AS Sudah Siap Serang Iran Lagi, Tinggal Tunggu Perintah

Ketegangan UEA

Di sisi lain, keputusan AS tersebut dibayangi oleh laporan dari Uni Emirat Arab (UEA). 

Sekutu utama Washington di kawasan Teluk tersebut mengeklaim telah menjadi sasaran gelombang baru serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran.

Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka tengah menangani serangan rudal dan drone dari arah Iran.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai eskalasi serius yang mengancam keamanan nasional. 

Mereka menyatakan memiliki hak sah dan penuh untuk memberikan respons.

Baca juga: 2 Kapal Sudah Terjebak, Iran Sebut Rute Baru AS di Selat Hormuz Berbahaya 

Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian AbadiAFP/ATTA KENARE Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi

Di sisi lain, komando militer gabungan Iran membantah telah melakukan serangan tersebut. 

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa tindakan angkatan bersenjata mereka semata-mata bertujuan untuk membalas agresi AS.

Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan mengeluarkan peta baru yang menunjukkan perluasan area kendali mereka di selat sempit tersebut. 

Mereka memperingatkan kapal-kapal untuk tetap berada di koridor yang telah ditentukan atau menghadapi konsekuensinya.

Hingga Senin (4/5/2026), militer AS melaporkan dua kapal dagang mereka berhasil melintasi selat tersebut, termasuk kapal Alliance Fairfax milik perusahaan Maersk yang keluar dari Teluk dengan pengawalan militer.

Namun, pihak Iran tetap membantah adanya kapal yang berhasil melintas.

Baca juga: Serangan AS-Israel Tak Cukup Tangguh, Fasilitas Nuklir Iran Masih Bertahan

Tag:  #pertahankan #gencatan #senjata #dengan #iran #umumkan #operasi #militer #berakhir

KOMENTAR