Mau Tiru Taktik di Venezuela, Trump Incar Runtuhkan Kuba
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertaruh bahwa taktik politik yang digunakannya untuk menggulingkan rezim di Venezuela akan berhasil diterapkan di Kuba.
Langkah ini diambil menyusul dikeluarkannya dakwaan pembunuhan terhadap mantan pemimpin Kuba, Raul Castro (94).
Castro dijerat dengan tuduhan pembunuhan atas jatuhnya dua pesawat sipil pada 1996.
Castro adalah adik laki-laki dari Fidel Castro, mendiang musuh bebuyutan AS yang memimpin revolusi Kuba pada 1959 dan kini masih memiliki pengaruh kuat di negara itu.
Sebelumnya, militer AS berhasil menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer awal tahun ini.
Baca juga: Trump Mau Tumbangkan Rezim Kuba, Cari “Pengkhianat” dari Internal Pemerintah
Sebelum operasi militer digelar, Maduro dimasukkan dalam daftar penangkapan dan menjadi buron otoritas AS dengan tuduhan penyelundupan narkoba.
Kepemimpinan Venezuela kemudian digantikan oleh Wakil Presiden Delcy Rodriguez yang kooperatif dengan AS.
Skenario serupa kini diharap dapat terulang di Kuba, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Kamis (21/5/2026).
AS bahkan tengah mencari "orang dalam" pemerintahan yang dijuluki sebagai "Delcy versi Kuba" untuk membantu mendesak keluar rezim pimpinan Castro.
Anggota DPR AS Maria Elvira Salazar menuturkan, dakwaan tersebut menjadi sinyal dari Trump kepada Raul Castro.
"Apa yang dilakukan Presiden Trump hanyalah mengirim pesan yang sangat jelas kepada Raúl: Lihatlah Maduro," kata Salazar.
Baca juga: Terjepit Tekanan AS, Kuba Siap Buka Pintu Negosiasi dengan Washington
Beda karakteristik
Meskipun pemerintahan Trump menargetkan perubahan besar di Kuba pada akhir tahun 2026, para pengamat menilai karakteristik Venezuela dan Kuba sangat berbeda.
Kuba telah menjadi negara totalitarian selama 67 tahun tanpa oposisi politik yang terorganisasi.
Pilar utamanya yakni Kementerian Dalam Negeri, angkatan bersenjata, dan Partai Komunis masih sangat solid, sehingga belum ada tanda-tanda keretakan internal.
Selain itu, aparat keamanan Kuba sangat efektif meredam pembangkangan melalui pengawasan ketat dan interogasi, bukan kekerasan ekstrem yang masif seperti rezim Maduro.
Baca juga: AS Dakwa Eks Presiden Kuba Raul Castro, Sinyal Gulingkan Rezim?
Mantan analis CIA, Brian Latell, menilai dakwaan AS justru berisiko memperkeras perlawanan rezim.
"Ini kemungkinan besar akan memperkuat ketahanan mereka. Itu adalah militernya," katanya.
Pemerintah Kuba sendiri mengutuk keras langkah AS dan menyebut tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang "hina" dan manipulatif.
Mantan Menteri Luar Negeri Meksiko Jorge Castaneda juga menyangsikan bahwa Castro akan menyerah ke AS.
"Dia lebih memilih menembak dirinya sendiri," kata Castaneda.
Baca juga: Trump Ungkit Tragedi Penembakan Pesawat AS 1996, Mau Adili Eks Presiden Kuba
Kendati demikian, dakwaan ini tetap memperberat beban Kuba yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan energi akibat embargo minyak dari AS.
Posisi Kuba kian tersudut karena kehilangan pasokan minyak bersubsidi dari Venezuela, sementara Rusia dan China tengah disibukkan oleh urusan lain.
Mantan pejabat AS, Ricardo Zuniga, menilai taktik penekanan ini tidak akan berhasil memicu perpecahan di Kuba.
"Ini justru akan memberi mereka alasan yang lebih sedikit untuk bernegosiasi. Pilihan terbaik bagi mereka adalah bertahan kuat-kuat," ujarnya.
Baca juga: Disebut Bersiap Serang AS, Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone dari Rusia dan Iran
Tag: #tiru #taktik #venezuela #trump #incar #runtuhkan #kuba