Ditekan Sekutu Teluk, Trump Hentikan Operasi AS di Selat Hormuz
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba menghentikan rencananya untuk membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz dalam operasi yang disebut "Proyek Kebebasan".
Diberitakan NBC News, Kamis (7/5/2026), menurut dua pejabat AS, penarikan tersebut terjadi setelah sekutu utama AS di Teluk menangguhkan izin untuk menggunakan pangkalan dan wilayah udaranya dalam melaksanakan operasi tersebut.
Trump mengejutkan sekutu-sekutunya di Teluk dengan mengumumkan "Proyek Kebebasan" di media sosial pada Minggu (3/5/2026) sore, yang memicu kemarahan para pemimpin di Arab Saudi.
Baca juga: Project Freedom Buyar dalam Hitungan Jam, Internal Trump Dinilai Plin-plan soal Iran
Saudi kemudian merespons dengan memberi tahu Washington mereka tidak akan mengizinkan militer AS menerbangkan pesawat dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan di tenggara Riyadh.
Termasuk juga untuk terbang melalui wilayah udara Saudi untuk mendukung upaya tersebut, kata para pejabat.
Selain Arab Saudi, sekutu Teluk lainnya juga terkejut karena Trump baru berbicara dengan para pemimpin di Qatar setelah operasi tersebut sudah dimulai.
Baca juga: Trump Klaim Iran Setuju untuk Tidak Memiliki Senjata Nuklir
AS dan Arab Saudi tak temui kesepakatan
Menurut dua pejabat AS tersebut, percakapan telepon antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tidak menemui kesepakatan.
Kondisi tersebut memaksa Trump untuk menunda Proyek Kebebasan demi memulihkan akses militer AS ke wilayah udara yang penting di kawasan Teluk.
Sebuah sumber Saudi mengatakan kepada NBC News bahwa Trump dan putra mahkota "telah berkomunikasi secara teratur."
Baca juga: Trump Melunak, AS-Iran Makin Dekati Akhir Perang
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.
Para pejabat Saudi juga berkomunikasi dengan Trump, Wakil Presiden JD Vance, Komando Pusat AS, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, tambah sumber tersebut.
Ketika ditanya apakah pengumuman Proyek Kebebasan mengejutkan para pemimpin Saudi, sumber Saudi tersebut mengatakan: “Masalah dengan premis itu adalah bahwa segala sesuatunya terjadi dengan cepat secara real-time.”
Sumber tersebut juga meenyebut Arab Saudi “sangat mendukung upaya diplomatik” Pakistan untuk menengahi kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Geram Perang Tak Kunjung Usai, Trump Ultimatum Iran agar Sepakat Damai
AS sebut telah memberi tahu sekutu
Ketika ditanya tentang beberapa pemimpin negara Teluk yang terkejut dengan pengumuman Proyek Kebebasan AS, seorang pejabat Gedung Putih menjawab, "sekutu regional telah diberitahu sebelumnya."
Namun, seorang diplomat Timur Tengah mengatakan AS tidak berkoordinasi dengan Oman terkait operasi tersebut hingga setelah Trump membuat pengumuman.
“AS membuat pengumuman baru kemudian berkoordinasi dengan kami,” kata diplomat itu.
Sebelumnya, Trump melancarkan operasi Proyek Kebebasan sebagai cara untuk mematahkan blokade Iran di Selat Hormuz.
Baca juga: China Menunjukkan Dukungan ke Iran Menjelang Kunjungan Trump ke Beijing
Para pemimpin keamanan nasional AS kemudian mengadakan pengarahan publik di Pentagon dan Gedung Putih setelah operasi tersebut diumumkan.
Namun, Trump tiba-tiba menghentikan operasi tersebut sekitar 36 jam setelah dimulai. Padahal militer AS telah menyiapkan sejumlah kapal tambahan di Teluk untuk transit melalui selat tersebut.
Dalam unggahannya, Trump mengatakan Proyek Freedom akan "dihentikan sementara untuk melihat apakah" kesepakatan untuk menyelesaikan perang "dapat diselesaikan dan ditandatangani."
Tag: #ditekan #sekutu #teluk #trump #hentikan #operasi #selat #hormuz