India-Pakistan Setahun Setelah Perang 90 Jam, Damai atau Tunggu Konflik Baru?
Setahun setelah konflik singkat antara India dan Pakistan pada Mei 2025, situasi keamanan di Asia Selatan masih berada dalam keseimbangan yang rapuh.
Konflik selama empat hari itu sempat membawa dua negara bersenjata nuklir tersebut ke ambang eskalasi lebih luas.
Krisis tersebut dipicu oleh serangan militan mematikan terhadap wisatawan di Kashmir yang dikelola India, lalu berkembang menjadi serangan militer India dan aksi balasan dari Pakistan.
Baca juga: India-Pakistan Sepakat Gencatan Senjata, Trump Klaim atas Mediasi AS
Meski hanya berlangsung sekitar 90 jam, konflik itu meninggalkan dampak politik dan diplomatik yang jauh lebih panjang.
Hubungan India dan Pakistan kini masih membeku, sementara ruang dialog semakin sempit, dikutip dari BBC pada Jumat (8/5/2026).
Hubungan diplomatik India-Pakistan masih membeku
Diplomasi formal antara India dan Pakistan nyaris tidak berjalan setelah konflik India-Pakistan tersebut.
Perbatasan kedua negara masih tertutup, perdagangan ditangguhkan, hubungan kriket belum pulih, dan Perjanjian Perairan Indus tetap berada dalam status tertunda.
Mantan diplomat Pakistan, Husain Haqqani, menilai hubungan kedua negara masih berada dalam kondisi beku.
Menurut Haqqani, India dan Pakistan tidak merasa perlu berdamai satu sama lain, baik karena alasan domestik maupun internasional.
Ia menyebut kondisi ini sebagai salah satu periode terpanjang dalam hubungan India-Pakistan yang membeku meski tidak sedang berada dalam perang terbuka.
Dampak konflik juga terasa jauh melampaui Garis Kontrol atau Line of Control (LoC), yaitu perbatasan de facto yang memisahkan wilayah Kashmir di bawah kendali India dan Pakistan.
Baca juga: Konflik India-Pakistan Memanas, Kemenlu: Diaspora Indonesia Aman
Konflik mengubah persepsi terhadap kekuatan regional
Pakar dari Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Daniel Markey, menilai konflik Mei 2025 telah mengubah cara banyak pihak melihat keseimbangan kekuatan di kawasan.
Sebelum konflik tersebut, banyak pengamat luar menilai India memiliki keunggulan besar atas Pakistan. Banyak warga India juga memiliki pandangan serupa terkait posisi militer negaranya.
Namun, kemampuan Pakistan menghadapi serangan awal India dinilai memberi keuntungan bagi strategi Islamabad.
Markey menilai situasinya tetap belum pasti apabila konflik berlangsung lebih lama.
Konflik tersebut juga tampaknya mengembalikan relevansi geopolitik Pakistan yang sempat dianggap menurun. Kemunculan Pakistan sebagai perantara dalam perang Iran bahkan mengejutkan banyak pihak.
Christopher Clary, pakar keamanan dari University at Albany, menilai Pakistan berhasil membangun kembali relevansinya di panggung geopolitik.
Menurut Clary, para pemimpin Pakistan melakukan diplomasi ulang-alik di kawasan Timur Tengah setelah konflik India-Pakistan.
Namun, ia mempertanyakan apakah peningkatan peran Pakistan tersebut bersifat sementara atau hanya lahir dari preferensi khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Peran Trump menambah ketegangan diplomatik
Presiden AS Donald Trump memberikan tarif tambahan setelah India memutuskan untuk tetap membeli minyak Rusia.
Donald Trump berulang kali mengeklaim keberhasilan dalam menengahi gencatan senjata India-Pakistan.
Ia juga menawarkan diri untuk menengahi sengketa Kashmir, wilayah yang diklaim oleh India dan Pakistan.
Pernyataan Trump membuat Delhi kesal karena India sejak lama menolak mediasi pihak ketiga dalam persoalan Kashmir.
Klaim mediasi tersebut juga ikut memperburuk ketegangan dalam hubungan India dan Amerika Serikat.
Clary menilai kedekatan Trump dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, turut membentuk situasi pascakonflik.
Menurut Clary, Trump memiliki dorongan kuat untuk dilihat sebagai pembawa perdamaian. Dorongan itu memengaruhi cara Trump menangani konflik India-Pakistan pada Mei 2025.
Baca juga: Dunia Serukan India-Pakistan Redakan Ketegangan, Ini Suara Para Pemimpin Negara Lain
Michael Kugelman dari The Atlantic Council menilai Trump tampaknya melihat kinerja Pakistan selama perang sebagai kisah “Daud melawan Goliat”. Pandangan itu disebut membantu menjelaskan kekaguman Trump terhadap Munir.
Pada saat bersamaan, Pakistan memanfaatkan krisis Iran dan ketegangan di Teluk untuk menempatkan diri sebagai perantara antara Washington, Teheran, dan ibu kota negara-negara Arab.
Namun, sejumlah analis mengingatkan agar peningkatan peran Pakistan tidak dibesar-besarkan.
Sebagian pengaruh baru Islamabad kemungkinan bergantung pada gaya diplomasi Trump yang sangat personal dan kepentingan strategis sementara dari krisis Iran. Markey menyebut langkah tersebut sebagai pertaruhan bagi Munir.
Menurut dia, perubahan situasi politik Timur Tengah merupakan permainan berisiko, sementara kerja sama dengan pemerintahan Trump kerap membawa kejutan.
India menata ulang hubungan globalnya
Konflik Mei 2025 juga menggoyahkan asumsi diplomatik India. Selama bertahun-tahun, Delhi meyakini kemitraan strategis dengan Washington telah mengubah persamaan regional.
Namun, dukungan publik Trump terhadap Pakistan, klaim mediasi berulang, dan ketegangan dagang dengan India memunculkan ketidakpastian baru.
Ajay Bisaria, mantan komisaris tinggi India untuk Pakistan, menilai kredibilitas Amerika Serikat sebagai penengah krisis telah menurun signifikan sejak konflik Kargil pada 1999.
Clary menilai memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat mempercepat kalibrasi ulang yang lebih luas dalam diplomasi India.
Menurut dia, India mulai menyeimbangkan kembali portofolio hubungan globalnya agar tidak terlalu bergantung pada Washington.
Langkah itu mencakup upaya mendekat ke Uni Eropa, mempercepat perbaikan diplomatik dengan China, dan menolak tekanan Amerika Serikat untuk memutus hubungan dengan Rusia.
Meski demikian, Clary menilai arah strategis besar India belum berubah.
India tetap menjadi kekuatan besar sehingga ketidakseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat tidak mengancam kelanjutan kebangkitannya.
Baca juga: Konflik India-Pakistan Pecah, Siapa Pihak yang Diuntungkan?
Medan perang baru dan ambang eskalasi yang berubah
Dari sisi militer, para analis menilai konflik India-Pakistan pada Mei 2025 memberi pelajaran yang lebih jelas.
Para analis dari kedua pihak menggambarkan konflik tersebut sebagai bentrokan teknologi tinggi pertama di Asia Selatan yang benar-benar terhubung dan didominasi drone.
Bisaria menyebut konflik itu memperlihatkan medan perang yang berbeda secara teknologi. Menurut dia, tidak ada pesawat berawak yang melintasi perbatasan selama konflik berlangsung.
Setelah konflik, India dan Pakistan meningkatkan pengeluaran pertahanan, mempercepat modernisasi militer, dan memperdalam hubungan dengan mitra pertahanan asing.
Namun, Clary memperingatkan agar publik tidak langsung menyimpulkan bahwa konflik tersebut telah mengubah keseimbangan kekuatan regional secara mendasar.
Menurut dia, konflik itu memang memicu perubahan penting dalam organisasi, doktrin, dan teknologi militer di kedua negara.
Namun, ia tidak melihat adanya perubahan substansial dalam cara militer India maupun Pakistan memandang keseimbangan kekuatan relatif dengan negara tetangganya.
Perubahan paling penting justru terletak pada ambang eskalasi di masa depan. Bisaria menggambarkan situasi pascakonflik sebagai “normal baru” dengan beberapa tingkat ambiguitas strategis.
Menurut dia, ambiguitas itu mengirim pesan bahwa setiap aksi terorisme dapat diperlakukan sebagai tindakan perang.
India menuduh serangan terhadap wisatawan di Kashmir dilakukan oleh kelompok militan berbasis di Pakistan. Islamabad membantah tuduhan tersebut.
Baca juga: 4 Hal yang Perlu Diketahui soal Konflik India-Pakistan
Kondisi itu membuat gencatan senjata India-Pakistan tetap berjalan dalam situasi yang rapuh, sementara peluang normalisasi hubungan masih tampak sangat terbatas.
Tag: #india #pakistan #setahun #setelah #perang #damai #atau #tunggu #konflik #baru