Eropa Kalang Kabut Kehilangan Tomahawk AS, Siapkan 3 Opsi
Eropa tengah menghadapi dilema besar setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan pengiriman rudal jarak jauh Tomahawk ke Jerman.
Keputusan itu membuat Eropa kembali menghadapi kekurangan kemampuan serangan jarak jauh untuk menghadapi Rusia.
Dilansir The Telegraph, Senin (18/5/2026), rudal Tomahawk sebelumnya dijanjikan oleh pemerintahan Joe Biden pada Juli 2024 untuk ditempatkan di Jerman sebagai bentuk komitmen AS terhadap NATO di Eropa.
Baca juga: Gegara Tomahawk AS Batal Ditempatkan di Jerman, Berlin Gandeng Ukraina
Rudal dengan jangkauan sekitar 2.500 kilometer itu dianggap penting karena Eropa tidak memiliki sistem rudal darat setara yang mampu menyerang target jauh di wilayah Rusia.
Kini, setelah Trump membatalkan pengiriman tersebut di tengah memanasnya hubungan dengan Jerman, Berlin disebut tengah menyiapkan tiga opsi sekaligus.
Membujuk AS menjual Tomahawk
Kanselir Jerman Friedrich Merz berencana membeli Tomahawak AS.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius dijadwalkan berkunjung ke Washington pekan depan untuk mencoba membeli Tomahawk langsung dari AS, bukan sekadar menerima penempatan berkala seperti rencana era Biden.
Namun upaya itu diperkirakan tidak mudah. Kalangan internal politik Berlin khawatir hubungan Jerman-AS yang memburuk bisa membuat Pistorius kesulitan bertemu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Rafael Loss, pakar keamanan Jerman dari European Council on Foreign Relations, mengatakan, pembelian Tomahawk pun tidak akan langsung menyelesaikan masalah.
“Pembelian Tomahawk oleh Bundeswehr (militer Jerman) sendiri tidak akan membuat rudal itu berada di tangan Bundeswehr sebelum 2029, dan itu pun dengan asumsi jadwal pengiriman sebelum perang Iran,” katanya kepada The Telegraph.
Ia menambahkan bahwa penggunaan besar-besaran Tomahawk oleh AS dalam perang melawan Teheran kemungkinan akan memicu keterlambatan pengiriman baru.
“AS telah menggunakan cukup banyak rudal itu dalam perang Iran, sehingga sangat mungkin terjadi penundaan pengiriman baru. Dan itu tetap akan menjadi kemampuan yang disediakan AS, dengan batasan AS terkait penggunaan dan transfer ke negara lain. Jerman, misalnya, tidak bisa memberikannya ke Ukraina tanpa persetujuan AS,” ujarnya.
Meski demikian, Loss menyebut membeli Tomahawk tetap dianggap sebagai solusi paling realistis.
“Kemampuan militer AS ini sudah teruji dalam pertempuran, tersedia, dan sudah diproduksi. Upaya Jerman atau Eropa sendiri akan membutuhkan waktu bertahun-tahun,” katanya.
Menggandeng Ukraina
Selain melobi AS, Jerman juga mulai mempertimbangkan kerja sama dengan Ukraina untuk mengembangkan sistem serangan jarak jauh.
Sumber diplomatik di Berlin mengatakan kepada The Telegraph bahwa Ukraina berpotensi menjadi solusi sementara bagi kebutuhan Eropa.
“Jerman masih mencoba membeli Tomahawk danatau memproduksinya dengan lisensi di Jerman, tetapi opsi lain adalah bekerja sama dengan Ukraina,” kata sumber tersebut.
Menurut sumber itu, Ukraina memang lebih unggul dalam pengembangan drone dibanding rudal jarak jauh, tetapi kemampuan mereka berkembang cepat.
Baca juga: Tak Cuma Tarik Pasukan, AS Batal Tempatkan Tomahawk di Jerman, Imbas Ketegangan Kanselir Merz-Trump?
“Keahlian teknis di sana tampaknya masih lebih berada di ranah drone daripada kemampuan serangan jarak jauh sejauh ini, tetapi mereka telah menunjukkan bahwa mereka bisa berkembang cepat,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Kyiv dua pekan lalu, Pistorius mengumumkan kemitraan baru dengan Menteri Transformasi Digital Ukraina Mykhailo Fedorov terkait pengembangan drone jarak jauh yang mampu menyerang target jauh di wilayah musuh.
Kedua menteri menyatakan, kerja sama itu akan membekali Berlin dengan “sistem nirawak mutakhir di semua jangkauan”.
Mempercepat rudal buatan Eropa
Di saat yang sama, Jerman juga ingin mempercepat proyek European Long-Range Strike Approach (Elsa), program bersama sejumlah negara Eropa untuk membuat rudal jarak jauh buatan sendiri.
Program tersebut melibatkan Jerman, Prancis, Italia, Polandia, Swedia, dan Inggris, dengan target awal menghasilkan rudal buatan Eropa berjangkauan 2.000 kilometer pada 2030.
Namun sejumlah diplomat mengakui proyek itu sulit dipercepat dalam waktu singkat.
“Bukan tidak mungkin, tetapi memakan waktu. Itu membutuhkan percepatan di luar jadwal saat ini. Sangat sulit melakukannya dalam enam bulan, sehingga solusi jembatan sementara kini menjadi prioritas,” kata seorang sumber diplomatik kepada The Telegraph.
Sumber itu menambahkan, “Bersama Ukraina, banyak hal mungkin dilakukan dalam waktu singkat.”
Hubungan Eropa-AS memburuk
Artikel tersebut juga menyoroti bahwa krisis Tomahawk bukan sekadar persoalan rudal, melainkan mencerminkan memburuknya hubungan Eropa dengan AS di bawah Trump.
Ketegangan disebut memuncak setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik Iran saat kunjungan ke wilayah asalnya di Sauerland. Trump kemudian melontarkan serangan verbal terhadap Merz di Truth Social, mengumumkan penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman, dan membatalkan janji pengiriman Tomahawk era Biden.
Namun analis menilai langkah Trump sebenarnya bagian dari kecenderungan AS yang makin menjauh dari Eropa.
“Trump bisa sangat reaktif, dan bukan berarti Merz sengaja menghina Trump. Itu komentar yang relatif ringan,” kata Ulrike Franke, peneliti senior ECFR yang berbasis di Paris.
“Ia mungkin akan menemukan alasan lain untuk melakukan ini dalam waktu seminggu,” tambahnya.
Franke juga menilai hubungan Jerman-AS sulit dipulihkan.
“Saya tidak berpikir hubungan ini bisa diperbaiki, bisa dibilang begitu. Kepercayaan itu sudah hilang, dan keyakinan Jerman bahwa kakak besarnya akan selalu ada untuk melindungi mereka — itu sudah hilang,” ujarnya.
Baca juga: Tegang dengan China, AS Tembakkan Rudal Tomahawk
Tag: #eropa #kalang #kabut #kehilangan #tomahawk #siapkan #opsi