Aktivis Flotilla Gaza Dipaksa Israel Berlutut dengan Tangan Diikat, Menlu RI Buka Suara
Pasukan Israel menangkap ratusan aktivis internasional yang berada di atas kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza setelah armada tersebut dicegat di perairan internasional.
Video yang diunggah pejabat Israel memperlihatkan para aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung, memicu kritik dari sejumlah negara hingga pejabat pemerintah Israel sendiri.
Armada bantuan itu berlayar dari Turkiye selatan sebagai upaya terbaru menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Baca juga: AS-Israel Beda Sikap soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang
Penyelenggara misi menyebut mereka ingin menembus blokade Israel terhadap wilayah tersebut, yang dinilai masih menghambat masuknya bantuan meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlaku sejak Oktober 2025.
Video penangkapan aktivis picu kontroversi
Dilansir Reuters, aktivis ditangkap setelah armada mereka dicegat pasukan Israel pada Selasa (19/5/2026) dan kemudian dibawa ke pelabuhan Israel.
Penyelenggara menyebut terdapat sekitar 430 orang di dalam armada tersebut, termasuk warga Italia, Indonesia, dan Korea Selatan.
Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video di platform X yang memperlihatkan seorang aktivis dijatuhkan ke tanah setelah meneriakkan “Free, free Palestine”.
Video itu juga menunjukkan puluhan aktivis berlutut berjajar dengan tangan diikat menggunakan kabel ties di area yang tampak seperti fasilitas pelabuhan terbuka di Israel. Di latar belakang terlihat personel bersenjata berjaga dari kapal militer.
“Mereka datang sebagai pahlawan besar,” kata Ben-Gvir dalam video tersebut sambil membawa bendera besar Israel.
“Lihat mereka sekarang. Lihat bagaimana mereka sekarang, bukan pahlawan dan bukan apa-apa.”
Tindakan Ben-Gvir menuai kecaman dari dalam pemerintahan Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menilai video itu merusak upaya diplomatik Israel.
“Anda telah merusak upaya besar, profesional, dan sukses yang dilakukan banyak pihak — mulai dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya,” tulis Saar.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membela hak Israel untuk mencegat armada tersebut, tetapi menyebut perlakuan Ben-Gvir terhadap para aktivis “tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel”.
Netanyahu mengatakan, dirinya telah memerintahkan agar para aktivis segera dideportasi.
Sejumlah negara kecam tindakan Israel
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut perlakuan Ben-Gvir terhadap para aktivis “tidak dapat diterima”.
Italia sebelumnya menyatakan ada warga negaranya di atas kapal, termasuk seorang anggota parlemen dan jurnalis.
Italia juga mendesak permintaan maaf dari Israel dan akan memanggil duta besar Israel untuk memberikan penjelasan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan, warga negaranya termasuk di antara mereka yang ditangkap pasukan laut Israel dan menyebut tindakan Israel “sangat keterlaluan”.
“Apa dasar hukumnya (penangkapan itu)? Apakah itu wilayah perairan Israel?” kata Lee.
“Apakah itu tanah Israel? Jika ada konflik, apakah mereka bisa menyita dan menahan kapal negara ketiga?”
Turkiye juga mengecam apa yang disebutnya sebagai tindakan kasar terhadap para aktivis dan mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan negara lain untuk memastikan pembebasan cepat dan aman bagi warga Turkiye dan lainnya.
Baca juga: Menteri Israel Unggah Video Aktivis Global Sumud Ditahan dengan Tangan Terikat
Perancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda turut memanggil diplomat senior Israel terkait perlakuan terhadap anggota armada bantuan Gaza tersebut.
Aktivis disebut akan dibawa ke penjara
Kelompok hak asasi Israel, Adalah, menyatakan bahwa para aktivis ditahan di Pelabuhan Ashdod.
“Pengacara Adalah bersama tim relawan telah memasuki fasilitas pelabuhan dalam beberapa jam terakhir, memberikan konsultasi hukum kepada mereka, dan akan terus menuntut pembebasan segera tanpa syarat,” demikian pernyataan organisasi itu.
Penyelenggara armada menyebut para aktivis akan dibawa ke Penjara Ketziot di Gurun Negev, Israel selatan.
Mereka juga mengatakan, pengacara Adalah belum bisa menemui para aktivis sampai mereka tiba di penjara tersebut.
Israel menyatakan, para aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler mereka setelah tiba di Israel.
Tanggapan Menlu RI
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyatakan bahwa kejadian penangkapan terhadap sembilan WNI oleh Israel bukanlah kasus penculikan atau penyanderaan.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan, penangkapan sembilan WNI oleh Israel bukan merupakan kasus penculikan atau penyanderaan.
“Saat ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan,” ujar Sugiono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026), dikutip Kompas.com.
“Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ini diintersep, karena memang mereka melarang, Israel melarang kapal apapun masuk ke wilayah tersebut untuk kepentingan apapun,” imbuhnya.
Menurut Sugiono, para WNI kemungkinan sudah memahami risiko yang akan dihadapi sebelum berangkat, meski pemerintah tetap mengapresiasi niat mereka membantu warga Gaza.
Sebelumnya, sembilan WNI yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis dilaporkan ditangkap tentara Israel saat mengikuti misi pelayaran kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla 2.0.
Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, para WNI mengirimkan pesan darurat berupa video yang menyatakan mereka telah ditangkap.
Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, dan Abeng ditangkap pada Senin (18/5/2026). Herman dan Ronggo sempat menyatakan lolos dari intersepsi Israel, namun beberapa jam kemudian ikut ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.
Empat jam setelah itu, Asad dan Hendro juga mengunggah pesan darurat yang menyatakan mereka telah ditangkap tentara Israel.
Baca juga: Terungkap, AS-Israel Ternyata Siapkan Ahmadinejad Gantikan Ali Khamenei
Tag: #aktivis #flotilla #gaza #dipaksa #israel #berlutut #dengan #tangan #diikat #menlu #buka #suara