Pasar Minyak Dunia Bakal Masuk Zona Merah Mulai Juli, Krisis Energi Mengintai
- Pasar minyak dunia diprediksi akan memasuki "zona merah" pada Juli dan Agustus mendatang.
Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol, Kamis (21/5/2026).
Kondisi kritis ini dipicu oleh menyusutnya stok minyak saat ekspor minyak dari Timur Tengah tersendat akibat krisis Iran yang terus berlanjut.
Baca juga: Pipa Minyak UEA yang Jadi Alternatif Selat Hormuz Sudah Separuh Jalan
Birol menjelaskan, saat ini persediaan minyak terus terkikis, sementara permintaan melonjak tajam yang sebagian besar disebabkan oleh travel season.
Di sisi lain, tidak ada pasokan minyak baru yang mengalir dari Timur Tengah, sebagaimana dilansir The Guardian.
"Ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin memasuki zona merah pada Juli-Agustus jika kita tidak melihat adanya perbaikan," ujar Birol saat berbicara di lembaga think tank Chatham House, London, Inggris.
Menurut Birol, guncangan pasar minyak yang terjadi saat ini jauh lebih dramatis dibandingkan tiga krisis energi besar yang pernah dialami dunia sebelumnya, yaitu pada tahun 1973, 1979, dan krisis tahun 2022 akibat invasi penuh Rusia ke Ukraina.
Birol mengungkapkan, gangguan ini telah menyebabkan pasar kehilangan pasokan hingga 14 juta barel minyak per hari.
Baca juga: Harga BBM Naik di India dan Kamboja, Tekanan dari Krisis Minyak Mentah
Sebagai langkah penanganan, Birol menegaskan bahwa solusi paling krusial untuk mengatasi syok energi akibat perang Iran ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat.
Kendati demikian, dia melihat tidak ada prospek pemulihan produksi minyak secara penuh setidaknya dalam satu tahun ke depan, termasuk di Uni Emirat Arab (UEA).
Untuk mengantisipasi situasi yang memburuk, IEA menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dengan negara-negara anggota guna melepas lebih banyak cadangan minyak strategis mereka, sebagaimana yang pernah dilakukan pada Maret lalu.
Birol menyebutkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 80 persen dari total cadangan kolektif IEA masih utuh dan belum dilepaskan ke pasar.
Birol juga memprediksi industri minyak Iran akan menghadapi hambatan besar mengingat kapasitas penyimpanan negara tersebut yang terbatas.
Di sisi lain, negara-negara yang sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk mendanai anggaran mereka, seperti Irak, diperkirakan akan kesulitan atau bahkan mustahil untuk berinvestasi kembali dalam produksi minyak di tahun-tahun mendatang.
Baca juga: Kapal Minyak Korsel Berhasil Lewat Selat Hormuz, Iran Mulai Lunak?
Perubahan strategi energi global
Krisis yang berkepanjangan di Iran juga dinilai telah merusak reputasi Timur Tengah sebagai pemasok energi yang aman.
Birol memprediksi negara-negara konsumen di seluruh dunia nantinya harus membayar harga mahal untuk mendapatkan pasokan dari sumber yang lebih aman serta untuk energi terbarukan.
Dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah di berbagai belahan dunia diperkirakan akan meninjau ulang strategi energi mereka dan mulai mencari opsi baru untuk impor bahan bakar.
Negara-negara akan beralih ke sumber energi lain, termasuk energi terbarukan, nuklir, dan dalam skala yang lebih kecil, batu bara.
Di tingkat domestik, produksi energi yang masuk akal secara ekonomi akan mendapat dorongan besar.
Baca juga: Media Iran Sebut AS Cabut Sanksi Minyak Selama Periode Negosiasi
Selain berdampak pada sektor ekonomi, Birol juga menyoroti bayang-bayang politik yang membayangi krisis energi ini.
Dia mengaku belum pernah melihat pengaruh geopolitik yang begitu gelap dan panjang mendominasi sektor energi seperti saat ini.
Dia juga mengkhawatirkan partai-partai ekstremis di Eropa akan memanfaatkan momentum inflasi mendatang untuk mengklaim bahwa situasi ini adalah kegagalan sistem politik yang ada.
Padahal pada kenyataannya, harga minyak ditentukan secara internasional.
Baca juga: Lawan Blokade Selat Hormuz, UEA Percepat Proyek Pipa Minyak West-East
Kebuntuan diplomasi
Peringatan keras dari IEA ini muncul bersamaan dengan macetnya proses mediasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang ditangani oleh Pakistan.
Upaya diplomasi tersebut menemui jalan buntu setelah sempat muncul klaim bahwa terobosan kesepakatan sudah sangat dekat.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dilaporkan masih berada di Teheran dalam kunjungan keduanya minggu ini.
Hal tersebut juga menegaskan betapa seriusnya krisis tersebut.
Sebaliknya, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir, yang semula dijadwalkan mengunjungi Teheran pada Kamis untuk menjembatani perbedaan di antara kedua belah pihak, memutuskan untuk menunda kunjungannya.
Baca juga: Lawan Blokade Selat Hormuz, UEA Percepat Proyek Pipa Minyak West-East
Ilustrasi minyak bumi.
Penundaan ini mengisyaratkan bahwa upaya negosiasi belum membuahkan hasil.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan posisi keras negaranya.
Khamenei menyatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan stok uranium yang diperkaya tinggi miliknya diekspor ke negara ketiga, seperti Rusia.
Namun, sikap tersebut dinilai tidak menutup kemungkinan bagi Iran untuk melakukan pengaturan uranium ke tingkat kemurnian yang jauh lebih rendah di bawah pengawasan badan inspektorat nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA).
Berdasarkan data dari IAEA, Iran saat ini memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen.
Baca juga: Kuba Krisis Energi sampai Minyak Habis Total, Bos CIA Tiba-tiba Datang
Tag: #pasar #minyak #dunia #bakal #masuk #zona #merah #mulai #juli #krisis #energi #mengintai