Provinsi Kaya Minyak Mau Gelar Referendum, tapi Pemimpinnya Emoh Pisah
Ilustrasi Kanada, bendera Kanada.(PIXABAY/ELASTICCOMPUTEFARM)
14:12
22 Mei 2026

Provinsi Kaya Minyak Mau Gelar Referendum, tapi Pemimpinnya Emoh Pisah

- Provinsi Alberta di Kanada yang kaya akan minyak berencana menggelar referendum pada bulan Oktober mendatang. 

Menariknya, pemungutan suara ini bukan untuk memutuskan apakah provinsi tersebut akan langsung memisahkan diri dari Kanada.

Melainkan, mereka menggelar pemungutan suara untuk menentukan apakah masyarakat menginginkan adanya referendum pemisahan diri yang sesungguhnya.

Baca juga: Eks PM Kanada Trudeau Kencani Katy Perry, Makan Mi Goreng di Coachella

Menteri Utama Alberta Danielle Smith menegaskan posisi politiknya yang tetap mendukung Alberta untuk menjadi bagian dari Kanada. 

Strategi ini pun diambil setelah keputusan hakim pekan lalu membatalkan petisi warga yang menuntut referendum karena dinilai inkonstitusional.

"Saya ingin memperjelas. Saya mendukung Alberta untuk tetap berada di Kanada, dan begitulah cara saya akan memilih terkait pemisahan diri dalam referendum tingkat provinsi," ujar Smith dalam pidatonya yang disiarkan di televisi.

"Ini juga merupakan posisi pemerintahan saya," sambungnya, sebagaimana dilansir France24, Jumat (22/5/2026). 

Daniel Beland, seorang profesor ilmu politik di Universitas McGill di Montreal, mengonfirmasi situasi tersebut. 

"Dalam pidatonya, Smith menjelaskan bahwa putusan pengadilan baru-baru ini membuat referensi yang mengikat seperti itu tidak mungkin dilakukan untuk saat ini, yang melandasi alasan pertanyaan baru tersebut," kata Beland.

Baca juga: 12 Jet Tempur AS-Kanada Mendadak Cegat Pesawat Militer Rusia

Redam gejolak internal partai

Pertanyaan dalam referendum Oktober nanti akan fokus pada apakah Alberta harus tetap berada di Kanada atau mengambil langkah hukum di bawah Konstitusi untuk menggelar referendum yang mengikat terkait pemisahan diri.

Sebelum pengumuman ini keluar, tiga anggota kaukus Partai Konservatif Bersatu Alberta yang dipimpin Smith telah meloloskan mosi di komite. 

Mosi tersebut meminta Smith dan kabinetnya untuk membawa isu ini ke referendum pada 19 Oktober.

Strategi politik Smith ini dinilai mirip dengan langkah mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, menjelang referendum Brexit. 

Saat itu, Cameron mengakomodasi referendum demi meredam faksi vokal di partainya sendiri, meskipun dia pribadi tidak ingin Inggris keluar dari Uni Eropa.

"Secara politis, Smith tampaknya berkomitmen melakukan hal ini untuk menenangkan para pendukung partainya sendiri yang menginginkan referendum. Jika tidak mengikutinya, dia mungkin akan menghadapi pemberontakan internal yang membahayakan di jajaran partainya," ungkap Beland.

Baca juga: Inggris-Kanada Bebas Visa ke China, Tinggalkan Amerika Sendirian

Respons Pemerintah Federal Kanada

Secara hukum, andai saja hasil pemungutan suara "ya" menang dalam referendum nanti, hal itu tidak akan langsung memicu kemerdekaan Alberta. 

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tahun 1998, sebuah provinsi tidak dapat memisahkan diri secara sepihak dari Kanada dan harus melalui proses negosiasi dengan pemerintah federal.

Pemerintah Federal Kanada sendiri saat ini dipimpin oleh Perdana Menteri Mark Carney dari Partai Liberal. 

Selama ini, Ottawa telah bekerja sama dengan Smith untuk membangun jaringan pipa minyak ke pantai Pasifik demi mengakomodasi kepentingan ekonomi warga Alberta.

Menteri Urusan Antarpemerintah Federal, Dominic LeBlanc, turut merespons situasi ini melalui unggahannya di media sosial. 

"Pemerintah Kanada sangat yakin bahwa kepentingan warga Alberta dan seluruh warga Kanada akan terpenuhi paling baik ketika kita bekerja sama," tulis LeBlanc.

Baca juga: China Bebaskan Visa untuk Inggris-Kanada, Taktik Kucilkan AS?

Strategi "aman"

Para pengamat politik menilai, format pertanyaan yang diajukan Smith dirancang dengan sangat hati-hati agar tidak menciptakan risiko politik yang terlalu besar.

Ian Brodie, profesor ilmu politik di Universitas Calgary sekaligus mantan kepala staf eks-Perdana Menteri Konservatif Stephen Harper, menilai langkah ini sebagai strategi yang aman untuk mengukur suara mengambang.

"Sebuah pemungutan suara untuk melihat apakah masyarakat bahkan menginginkan pemungutan suara. Ini adalah cara yang baik untuk membiarkan pemilih beralih (swing voters) berbalik melawan pemisahan diri," kata Brodie.

Di sisi lain, Beland menuturkan bahwa pertanyaan yang melunakkan risiko ini membuat pemilih merasa lebih aman untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka ke pemerintah pusat.

Baca juga: Polisi Identifikasi Pelaku Penembakan Massal di Kanada, Remaja 18 Tahun

Ilustrasi referendum.UNSPLASH/Element5 Digital Ilustrasi referendum.

"Ini mungkin menurunkan pertaruhan yang terlihat, sehingga memudahkan beberapa pemilih untuk berpikir bahwa mereka dapat mengirimkan pesan politik ke seluruh penjuru negeri tanpa mengambil risiko membawa provinsi ini ke titik yang tidak bisa kembali lagi," jelas Beland.

Meski jalannya kampanye akan sangat menentukan, Beland memperkirakan referendum pemisahan diri di masa depan kemungkinan besar akan kalah karena dukungan publik untuk opsi tersebut saat ini berada di bawah 30 persen.

Sementara itu, Pemimpin Oposisi Konservatif Federal, Pierre Poilievre, menegaskan bahwa dirinya bersama seluruh anggota parlemen dari Partai Konservatif akan turun tangan.

Mereka akan turun berkampanye guna mendesak Alberta agar tetap menjadi bagian dari Kanada.

Baca juga: Trump Mau AS Dapat Jatah Kepemilikan Jembatan Gordie Howe, meski Proyek Dibiayai Kanada

Tag:  #provinsi #kaya #minyak #gelar #referendum #tapi #pemimpinnya #emoh #pisah

KOMENTAR