AS ''Lelah'' Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth saat menghadiri konferensi pers di Pentagon. Washington DC, 16 April 2026.(AFP/SAUL LOEB)
12:30
1 Juni 2026

AS ''Lelah'' Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali mendesak negara-negara sekutu Washington di Asia untuk meningkatkan belanja pertahanan guna memperkuat daya tangkal terhadap China.

Dalam pidatonya di Shangri-La Dialogue di Singapura pada Sabtu (30/5/2026), seperti dikutip Wall Street Journal, Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi ingin menanggung beban keamanan kawasan secara tidak proporsional, meski tetap berkomitmen mempertahankan kehadiran militernya di Asia.

"Era ketika AS mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Kami membutuhkan mitra, bukan protektorat," kata Hegseth.

Baca juga: Takut Iran, Sekutu Teluk Larang AS Pakai Pangkalan dan Wilayah Udara

Menurut Hegseth, pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan keseimbangan kekuatan yang menguntungkan sekaligus berkelanjutan di kawasan, sehingga tidak ada negara, termasuk China, yang mampu mendominasi dan mengancam keamanan maupun kemakmuran AS serta para sekutunya.

Nada lebih lunak terhadap China

Presiden China Xi Jinping (kiri) saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026.AFP/BRENDAN SMIALOWSKI Presiden China Xi Jinping (kiri) saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026.

Pidato tahun ini menunjukkan perubahan nada dibandingkan penampilan Hegseth pada Shangri-La Dialogue tahun lalu.

Saat itu ia berulang kali menyebut "China Komunis" sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan dan memperingatkan kemungkinan invasi China terhadap Taiwan.

Namun dalam pidato tahun ini, Hegseth tidak menyebut kepemimpinan komunis China maupun Taiwan. Ia justru mengatakan, hubungan AS dan China kini "lebih baik dibandingkan selama bertahun-tahun."

Pernyataan itu merujuk pada pertemuan Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing bulan ini, ketika kedua pemimpin menyatakan keinginan bersama untuk menciptakan hubungan bilateral yang lebih stabil.

Delegasi utama China di forum tersebut merespons dengan nada yang juga lebih "bersifat mendamaikan." 

Mayor Jenderal Meng Xiangqing, profesor di National Defense University China, mengatakan, Beijing berharap kedua negara dapat bergerak ke arah yang sama.

"Kami juga berharap China dan Amerika Serikat saling mendekat, menerjemahkan konsensus kedua pemimpin menjadi tindakan nyata, serta mendorong hubungan militer kedua negara berkembang ke arah yang sehat, stabil, dan berkelanjutan," kata Meng.

Sekutu dinilai terlalu bergantung pada AS

Meski menepis kekhawatiran bahwa AS akan mengurangi komitmennya di Asia, Hegseth tetap menegaskan bahwa negara-negara kawasan harus mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar terhadap pertahanan mereka sendiri.

Menurutnya, selama terlalu lama keamanan kawasan bergantung pada kekuatan militer Amerika sementara banyak sekutu dan mitra membiarkan kemampuan pertahanan mereka melemah.

Baca juga: AS dan Sekutu Siapkan Rencana B jika Iran Tolak Buka Selat Hormuz

"Sudah terlalu lama keamanan kawasan ini bertumpu secara tidak proporsional pada kekuatan militer Amerika, sementara banyak sekutu dan mitra kami membiarkan kemampuan pertahanan mereka mengalami kemunduran," ujarnya.

"Itu adalah kesepakatan yang buruk bagi pembayar pajak Amerika."

Hegseth menambahkan bahwa Washington akan memprioritaskan kerja sama dengan negara-negara yang dianggap sebagai "sekutu teladan".

Negara-negara tersebut akan memperoleh berbagai keuntungan, termasuk percepatan penjualan senjata serta kerja sama industri dan intelijen yang lebih mendalam.

"Presiden Trump percaya membantu negara-negara yang membantu diri mereka sendiri," kata Hegseth.

Kekhawatiran sekutu terhadap komitmen AS

Meski demikian, sejumlah pihak masih mempertanyakan konsistensi komitmen Washington terhadap kawasan Indo-Pasifik di bawah pemerintahan Trump.

Lembaga pemikir International Institute for Strategic Studies (IISS), penyelenggara Shangri-La Dialogue, menyatakan, pendekatan transaksional pemerintahan Trump terhadap aliansi dan kemitraan telah menciptakan ketidakpastian di kalangan sekutu AS.

Menurut IISS, seruan Trump agar sekutu meningkatkan kemampuan pertahanan mereka sendiri juga memunculkan kekhawatiran bahwa Washington dapat meninggalkan para mitranya di masa depan.

Senator Tammy Duckworth mengatakan, banyak sekutu AS merasa cemas mengenai komitmen Washington terhadap Asia.

"Saya memiliki sekutu NATO yang khawatir tentang komitmen Amerika terhadap Indo-Pasifik," ujarnya kepada wartawan di sela konferensi.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Hegseth menegaskan bahwa AS akan tetap mempertahankan postur militer yang kuat di Pasifik Barat yang "memastikan agresi tidak dapat dilakukan."

Ia juga mengatakan, pejabat pertahanan AS kini lebih sering bertemu dengan mitra mereka dari China untuk meningkatkan koordinasi dan mengurangi risiko salah perhitungan, sesuai kesepakatan yang dicapai Trump dan Xi dalam pertemuan mereka di Beijing.

Baca juga: Trump Kirim 5.000 Tentara ke Polandia, tapi Minta Sekutu Lain Tak Bergantung pada AS

Tag:  #lelah #subsidi #pertahanan #sekutu #asia #desak #penambahan #belanja #militer

KOMENTAR