Terlihat Patuh pada AS, Venezuela Sebenarnya Terpecah Belah Pasca Kejatuhan Maduro
Gerakan sosialis Venezuela yang dikenal sebagai Chavismo, merujuk pada warisan politik mantan Presiden Hugo Chavez, terpecah belah setelah selama satu generasi memposisikan diri sebagai penentang dominasi Amerika Serikat.
Adapun setelah Presiden Nicolas Maduro disingkirkan pada 3 Januari, pemerintahan Delcy Rodriguez mulai mengubah sejumlah kebijakan.
Pemerintahannya memperbarui aturan energi dan pertambangan untuk menarik modal asing, menyerahkan uranium yang diperkaya dari fasilitas penelitian kepada AS, serta mengekstradisi sekutu Maduro, Alex Saab, ke Miami untuk menghadapi tuduhan pencucian uang.
Baca juga: AS Cari Orang Dalam untuk Gulingkan Rezim Kuba, Mau Ulangi Kesuksesan di Venezuela
Bagi sejumlah pendukung lama Chavismo, perubahan itu bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga simbol bahwa Venezuela mulai meninggalkan arah politik yang selama ini mereka perjuangkan.
Mario Silva, anggota pendiri Partai Sosialis Bersatu Venezuela dan salah satu tokoh yang membangun mesin media pemerintah, menjadi salah satu pengkritik paling keras.
Selama bertahun-tahun, Silva memimpin program televisi pemerintah yang menyerang lawan politik dan mengecam dugaan campur tangan AS di Venezuela. Kini, ia menyoroti kontradiksi di bawah pemerintahan Rodriguez.
“Kami sudah kehilangan kedaulatan, kebebasan, dan kemerdekaan kami,” kata Silva.
Simbol lama Chavismo mulai dipertanyakan
Trump mengunggah gambar Venezuela sebagai negara bagian AS ke-51
Menurut laporan The Wall Street Journal, Rabu (3/6/2026), kemarahan kelompok garis keras juga muncul setelah dua pesawat MV-22 Osprey milik Korps Marinir AS mendarat di kompleks Kedutaan Besar AS di Caracas dalam latihan evakuasi militer.
Kehadiran tersebut dianggap sebagai pertunjukan kekuatan Amerika di Venezuela dan memicu keresahan di kalangan pendukung lama gerakan kiri.
Presiden AS Donald Trump juga sebelumnya melontarkan gagasan menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika dan bercanda bahwa suatu hari ia mungkin mencalonkan diri sebagai presiden di sana.
Selain Silva, mantan Wakil Presiden Elias Jaua juga mengkritik perubahan ekonomi Rodriguez. Ia menuduh lingkaran kecil di sekitar penjabat presiden mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengan basis tradisional gerakan tersebut.
Para akademisi dan aktivis kiri yang dulu menjadi fondasi intelektual Chavismo juga mengaku tersingkir ketika Rodriguez mulai mencari dukungan investor asing dan hubungan yang lebih dekat dengan AS.
Pemerintah bantah ada perpecahan
Tokoh yang mendukung Rodriguez menolak tudingan bahwa gerakan tersebut sedang terpecah.
Jorge Arreaza, anggota parlemen pro-pemerintah dan mantan menteri luar negeri, menyebut kritik tersebut sebagai upaya menciptakan konflik.
Baca juga: Trump Masih Incar Venezuela, Unggah Foto Peta Negara Bagian ke-51 AS
“Ada kampanye media psikologis di media sosial melawan Chavismo,” kata Arreaza.
Sementara itu, Rodriguez mengatakan bahwa kerja sama dengan AS diperlukan untuk memperbaiki kerusakan akibat salah kelola selama bertahun-tahun serta sanksi yang dijatuhkan Washington terhadap Venezuela.
Langkah Rodriguez sejauh ini juga masih mendapat dukungan dari sebagian lingkaran kekuasaan Maduro, termasuk Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari AS yang menginginkan stabilitas dan mulai melonggarkan sejumlah pembatasan terhadap sektor minyak dan keuangan Venezuela.
Warisan Chavez dipertaruhkan
Sebagian anggota partai awalnya memberi Rodriguez ruang untuk bertindak karena kondisi transisi setelah kejatuhan Maduro dianggap sangat sulit.
“Ini seperti mencoba memerintah dengan pistol yang diarahkan ke leher Anda,” ujar mantan anggota parlemen Juan Contreras.
Namun, kesabaran sebagian kelompok kiri mulai menipis ketika pengaruh AS semakin besar.
Mereka juga marah atas undang-undang amnesti yang ditandatangani Rodriguez karena dianggap sebagai pengakuan bahwa pemerintah sebelumnya menahan tahanan politik, sesuatu yang selama ini dibantah oleh pemerintahan sebelumnya.
Perubahan simbol pemerintah juga ikut menjadi sorotan. Rodriguez mulai menjauh dari warna merah yang menjadi identitas gerakan tersebut dan beralih ke warna biru muda.
“Merah dulu berarti perjuangan. Biru pucat adalah untuk membuat massa tertidur,” kata Silva.
Namun, survei publik menunjukkan bahwa Rodriguez kesulitan memperluas dukungan di luar kelompok yang mendukung hubungannya dengan Washington.
Dalam jajak pendapat AtlasIntel/Bloomberg pada akhir Mei, tingkat persetujuannya turun menjadi sekitar 25 persen, sementara tingkat ketidakpuasan mencapai hampir 60 persen.
Bagi para veteran gerakan tersebut, konflik ini bukan hanya persoalan politik, tetapi juga tentang masa depan warisan Chavez.
“Kami menyaksikan dengan rasa sakit ketika sosok Komandan Hugo Chávez praktis sedang dihapus,” kata Silva.
Ketegangan itu juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai jatuhnya Maduro. Sejumlah loyalis masih mempertanyakan mengapa tidak ada perlawanan ketika pasukan AS bergerak, sehingga muncul dugaan bahwa ada pihak dalam pemerintahan yang membantu proses tersebut atau memilih tidak menghentikannya.
Silva mengatakan, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
“Saya tidak bisa menuduh orang lain melakukan pengkhianatan. Tetapi secara politik, ada banyak pertanyaan yang harus mereka jawab,” ujarnya.
Baca juga: AS Lakukan Latihan Militer di Ibu Kota Venezuela, Ada Apa?
Tag: #terlihat #patuh #pada #venezuela #sebenarnya #terpecah #belah #pasca #kejatuhan #maduro