Iran Bantah Trump, Bersikukuh Pertahankan Uranium
Citra satelit dari Vantor memperlihatkan situs nuklir Iran di Natanz dengan beberapa kerusakan yang diduga akibat serangan, ketika dipublikasi pada Senin (2/3/2026).(VANTOR via AFP)
19:06
12 Juni 2026

Iran Bantah Trump, Bersikukuh Pertahankan Uranium

Media pemerintah Iran pada Jumat (12/6/2026) melaporkan bahwa Teheran akan tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium dalam kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.

Iran akan bernegosiasi mengenai program nuklir hanya dalam kerangka prinsip-prinsip dasar Republik Islam, dan isu-isu seperti hak Iran untuk memperkaya uranium serta mempertahankan material yang telah diperkaya akan ditekankan dengan tujuan untuk dimasukkan dalam kesepakatan akhir,” demikian laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, seperti dikutip AFP.

Pernyataan itu muncul ketika kedua negara masih bernegosiasi terkait program nuklir Iran setelah berlangsungnya pembicaraan selama 60 hari.

Baca juga: Iran Tak Mau Lepaskan Kendali Selat Hormuz, Beda dari Klaim Trump?

Trump klaim capai kesepakatan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kemajuan menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.AFP/SAUL LOEB Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kemajuan menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kemajuan menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.

Trump mengatakan, AS memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

“Kami memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang merupakan seluruh tujuan dari apa yang harus kami lalui untuk mendapatkan ini. Jadi, ini adalah hal yang sangat besar,” ujar Trump.

Ia juga mengatakan bahwa dokumen kesepakatan tersebut sedang dalam tahap penyelesaian dan kemungkinan akan ditandatangani dalam beberapa hari ke depan, bahkan mungkin melalui sebuah upacara penandatanganan di Eropa.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah bahwa kesepakatan telah tercapai. Juru bicara kementerian, Esmail Baghaei, menyebut laporan mengenai adanya perjanjian sebagai sesuatu yang masih bersifat spekulatif.

“Tidak ada yang telah difinalisasi,” kata Baghaei.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar isi nota kesepahaman memang telah selesai dibahas, tetapi Amerika Serikat masih mengajukan “tuntutan berlebihan” dan menambahkan permintaan baru.

Baghaei menegaskan Iran tidak akan “meninggalkan garis merahnya” dalam perundingan.

Baca juga: Hacker Iran Ancam Piala Dunia, Klaim Bobol Drone FBI

AS-Iran masih bersitegang

Perundingan antara Washington dan Teheran berlangsung setelah meningkatnya ketegangan yang melibatkan serangan antara kedua pihak.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya melancarkan serangkaian serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk, yang menyebabkan Selat Hormuz secara efektif ditutup.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global, termasuk minyak dan gas alam cair.

Meski kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada April, bentrokan kembali terjadi. AS dan Iran dilaporkan kembali melakukan serangan balasan dalam beberapa waktu terakhir.

Trump sebelumnya juga sempat mengancam akan melakukan serangan besar terhadap Iran sebelum kemudian mengatakan bahwa serangan itu dibatalkan karena adanya perkembangan dalam perundingan.

Sementara itu, Iran memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan akan mendapat balasan lebih keras. Militer Iran mengatakan, strategi yang salah dan keputusan impulsif dapat membuat pihak lawan terjebak dalam konflik berkepanjangan.

Baca juga: Baru Saja Trump Sebut Perang Berakhir, AS Tembak Jatuh 2 Drone Iran di Selat Hormuz

Tag:  #iran #bantah #trump #bersikukuh #pertahankan #uranium

KOMENTAR