Kenapa Kita Jadi Overthinking Setelah Lebaran? Ini Penjelasan Psikiater
Setelah momen Lebaran usai, tidak sedikit orang justru merasa cemas, overthinking, bahkan membandingkan diri dengan orang lain.
Perasaan ini sering muncul diam-diam setelah kembali dari silaturahmi keluarga yang penuh interaksi sosial.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan fenomena post-holiday blues yang dipicu oleh faktor sosial. Penjelasan tersebut disampaikan kepada Kompas.com pada Kamis (26/3/2026).
Baca juga: Post-holiday Blues, Kenapa Semangat Drop Setelah Liburan? Ini Penjelasan Psikiater
Pertemuan keluarga bisa memicu tekanan tanpa disadari
Lebaran menjadi momen berkumpul yang intens dengan keluarga besar.
Dalam suasana tersebut, pertanyaan tentang pekerjaan, pencapaian, hingga kehidupan pribadi sering muncul.
Meski sering dianggap sebagai basa-basi, pertanyaan ini bisa memicu tekanan bagi sebagian orang.
Tidak semua orang berada di fase hidup yang sama, sehingga perbandingan sering terjadi tanpa disadari.
Selain percakapan langsung, interaksi sosial juga diperkuat oleh pengamatan terhadap kehidupan orang lain.
Melihat keberhasilan saudara atau teman bisa memunculkan perasaan tertinggal.
Menurut dr. Lahargo, kondisi ini berkaitan dengan social comparison, yaitu kecenderungan manusia untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jika hasil perbandingan tersebut negatif, seseorang bisa merasa kurang berhasil atau tidak cukup baik.
Baca juga: Libur Lebaran Selesai, Mood Malah Turun? Ini Tips Atasi Post-Holiday Blues
Media sosial memperkuat efek perbandingan
Ilustrasi susah tidur karena main HP. Interaksi sosial saat Lebaran ternyata bisa memicu overthinking dan perasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Setelah Lebaran, banyak orang juga kembali aktif di media sosial.
Berbagai unggahan tentang momen kebahagiaan, pencapaian, hingga gaya hidup dapat memperkuat perasaan perbandingan.
Hal ini sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Akibatnya, standar kebahagiaan yang terlihat menjadi tidak realistis.
Seseorang mulai mempertanyakan pencapaian hidup, membandingkan perjalanan pribadi, hingga meragukan diri sendiri.
Menurut Lahargo, kondisi ini bisa berkembang menjadi identity threat atau ancaman terhadap harga diri.
Dalam kondisi ini, seseorang merasa tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Baca juga: 6 Cara Mengatasi Post Holiday Blues
Kondisi ini sebenarnya wajar terjadi
Meski terasa tidak nyaman, reaksi ini merupakan hal yang wajar dalam proses psikologis.
Otak manusia secara alami melakukan perbandingan sosial untuk memahami posisi dirinya. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, hal ini justru dapat memengaruhi kesehatan mental.
Cara mengatasi overthinking setelah Lebaran
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu memberikan gambaran yang adil.
Dr. Lahargo menyarankan untuk lebih fokus pada perkembangan diri sendiri daripada pencapaian orang lain.
Mengurangi paparan media sosial juga dapat membantu menjaga kestabilan emosi.
Untuk mengurangi overthinking, penting untuk kembali pada hal-hal yang memberi makna dalam kehidupan sehari-hari.
Menjalani aktivitas dengan tujuan yang jelas dapat membantu mengembalikan rasa percaya diri. Interaksi sosial yang sehat juga dapat membantu memperkuat perasaan diterima.
Dengan begitu, tekanan sosial yang muncul setelah Lebaran bisa berkurang secara bertahap.
Perasaan overthinking setelah Lebaran sering kali dipicu oleh interaksi sosial dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.
Memahami hal ini dapat membantu seseorang lebih bijak dalam menyikapi perasaan yang muncul.
Dengan fokus pada perjalanan pribadi, tekanan sosial dapat diubah menjadi motivasi untuk berkembang.
Baca juga: 4 Cara Mengatasi Overthinking Saat Silaturahmi Lebaran
Tag: #kenapa #kita #jadi #overthinking #setelah #lebaran #penjelasan #psikiater