Perjalanan Naik Turun Harga BBM dari Era Presiden Soekarno hingga Prabowo
Ilustrasi perjalanan naik turun harga BBM di Indonesia. [Suara.com/Ema Rohimah]
11:01
31 Maret 2026

Perjalanan Naik Turun Harga BBM dari Era Presiden Soekarno hingga Prabowo

Kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menghampiri masyarakat Indonesia menjelang 1 April 2026. Kali ini, penyebabnya bukan sekadar kebijakan dalam negeri, melainkan efek domino dari krisis minyak global akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasokan minyak dunia. Jalur distribusi strategis terganggu, harga minyak mentah melonjak, dan banyak negara mulai merasakan tekanan energi.

Indonesia pun tak luput dari dampaknya. Wacana kenaikan BBM kembali muncul mengulang siklus yang sebenarnya sudah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah bangsa.

Jika menengok ke belakang, perjalanan harga BBM di Indonesia bukan sekadar deretan angka. Ia adalah cerita panjang tentang perubahan zaman, krisis, hingga kebijakan yang diambil untuk menjaga stabilitas negara.

Perjalanan Naik Turun Harga BBM

Era Soekarno

Kisah ini bermula di era Soekarno. Pada 22 November 1965, pemerintah untuk pertama kalinya menaikkan harga BBM. Saat itu, harga premium hanya Rp0,3 per liter, sementara solar Rp0,2.

Namun kondisi ekonomi yang belum stabil membuat harga berubah cepat. Awal 1966, premium sempat melonjak menjadi Rp1, lalu turun lagi menjadi Rp0,5 dalam waktu singkat, sementara solar justru naik. Fluktuasi ini mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Era Soeharto

Memasuki era Soeharto, pembangunan besar-besaran membutuhkan biaya, dan harga BBM perlahan ikut naik. Dari Rp150 per liter pada 1980, harga premium melonjak menjadi Rp700 pada 1993, hingga akhirnya mencapai Rp1.200 pada 1998.

Kenaikan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu tekanan saat krisis moneter melanda.

Era BJ Habibie

Berbeda dengan periode sebelumnya, masa pemerintahan B. J. Habibie justru menghadirkan kejutan. Harga BBM turun, dari Rp1.200 menjadi Rp1.000 per liter.

Penurunan ini bukan tanpa sebab, melainkan karena harga minyak dunia saat itu memang sedang melemah drastis. Ini menjadi satu-satunya momen dalam sejarah ketika harga BBM turun cukup signifikan karena faktor global.

Era Gus Dur

Cerita berlanjut ke era Abdurrahman Wahid, ketika harga kembali naik. Pada 1 Oktober 2000 harga bbm naik jadi Rp1.150 dan solar Rp600. Lalu pada 1 Juli 2001 premium naik lagi jadi Rp1.450 sedangkan solar Rp1.250

Namun bukan hanya itu yang menarik. Di masa ini, Indonesia mulai mengenal BBM non-subsidi seperti Pertamax, menandai awal perubahan besar dalam kebijakan energi nasional.

Era Megawati

Pada masa Megawati Soekarnoputri, kenaikan harga dilakukan secara bertahap. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara subsidi dan beban anggaran negara. Harga premium yang semula Rp1.450 naik menjadi Rp1.810 dalam kurun waktu relatif singkat.

Era SBY

Lompatan besar terjadi di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tahun 2005 menjadi titik penting ketika harga BBM melonjak tajam dari Rp2.400 menjadi Rp4.500. Kenaikan ini memicu reaksi luas di masyarakat.

Namun setelah itu, harga terus bergerak naik turun mengikuti harga minyak dunia, bahkan sempat menyentuh Rp6.000 sebelum kembali turun.

Infografis riwayat kenaikan harga BBM di era Jokowi. [Suara.com/Ema Rohimah]Infografis riwayat kenaikan harga BBM di era Jokowi. [Suara.com/Ema Rohimah]

Era Jokowi

Memasuki era Joko Widodo, pendekatan terhadap BBM mulai berubah. Pemerintah mengurangi ketergantungan pada subsidi dan lebih mengikuti mekanisme pasar. 

Pada 2015, Pertalite diperkenalkan sebagai alternatif baru. Namun kebijakan ini juga membuat harga BBM lebih dinamis bisa naik dan turun dalam waktu relatif cepat. Puncaknya terjadi pada 2022, ketika harga Pertalite naik menjadi Rp10.000 dan Pertamax mencapai Rp14.500 per liter.

Di era Jokowi pula yakni pada tahun 2023, Pertamina akhirnya menghapus bbm RON 88 jenis Premium yang selama ini menemani masyarakat. Keputusan ini dibuat untuk mendorong penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan minimal RON 90 atau Pertalite.

Era Prabowo

Kini, cerita berlanjut di era Prabowo Subianto. Jika sebelumnya perubahan harga lebih banyak dipengaruhi kebijakan domestik, kini faktor global memegang peranan semakin besar. Sepanjang 2024 hingga 2025, harga BBM nonsubsidi beberapa kali naik dan turun mengikuti harga minyak dunia.

Namun memasuki 2026, tekanan kembali meningkat. Selain karena kebijakan dalam negeri, konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang membuat harga minyak dunia melonjak tajam pun turut berpengaruh pada kebijakan negara.

Editor: Farah Nabilla

Tag:  #perjalanan #naik #turun #harga #dari #presiden #soekarno #hingga #prabowo

KOMENTAR