BSI Cetak Laba Bersih Rp 2,2 Triliun pada Kuartal I 2026, Tabungan Haji dan Emas Jadi Mesin Penopang
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI Anggoro Eko Cahyo saat konferensi pers virtual, Selasa (12/5/2026).(Tangkapan layar Zoom.)
21:40
12 Mei 2026

BSI Cetak Laba Bersih Rp 2,2 Triliun pada Kuartal I 2026, Tabungan Haji dan Emas Jadi Mesin Penopang

- PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,2 triliun pada Kuartal I 2026 atau tumbuh 17,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, kinerja tersebut ditopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), dana murah, hingga pembiayaan yang tetap tumbuh dengan kualitas terjaga.

"Laba yang kami sampaikan Rp 2,2 triliun ini juga menempatkan BSI pada urutan kelima di perbankan nasional baik dari sisi laba maupun aset," ujarnya saat konferensi pers virtual, Selasa (12/5/2026).

Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI pada periode ini sebesar Rp 376,8 triliun atau tumbuh 17,99 persen (yoy). Pertumbuhan DPK terutama ditopang segmen dana murah atau current account savings account (CASA) yang naik 21,36 persen yoy menjadi Rp 236,2 triliun.

Baca juga: Semen Indonesia (SMGR) Bakal Tebar Seluruh Laba 2025 sebagai Dividen Tunai

Peningkatan CASA berkontribusi terhadap penurunan biaya dana ke level 2,12 persen dan penjagaan kualitas pembiayaan menjaga biaya CKPN di level 0,73 persen.

Kondisi tersebut mendorong rasio laba bersih perseroan pada Kuartal I 2026 dengan indikasi Return on Assets (ROA) 2,53 persen dan Return on Equity (ROE) 19,36 persen.

Dia merincikan, total CASA tersebut terdiri dari giro sebesar Rp 71,7 triliun atau tumbuh 24,17 persen yoy dan tabungan sebesar Rp 164,5 triliun yang meningkat 20,18 persen yoy. Menurut Anggoro, pertumbuhan tabungan BSI menjadi yang tertinggi dibandingkan bank-bank besar nasional lainnya.

Hal tersebut menunjukkan strategi perseroan dalam memperkuat penghimpunan dana murah melalui tabungan haji berjalan efektif.

"Kita lihat potensi haji semakin meningkat, potensi anak muda semakin meningkat dan kami melihat itu adalah potensi yang besar untuk BSI bisa tumbuh. Dan kemarin kami melihat bahwa itu menjadi salah satu penopang tabungan kami yang juga besar," ucapnya.

Dia mengungkapkan BSI mencatat jumlah nasabah tabungan haji mencapai 7,25 juta hingga Kuartal I 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,2 juta nasabah berasal dari generasi muda atau kelompok milenial dan Gen Z. Perseroan menilai tingginya antusiasme masyarakat untuk berhaji menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan bisnis.

Data BSI menunjukkan jumlah pendaftar haji nasional meningkat dari 286.400 pada 2023 menjadi 422.300 pada 2025.

Di sisi lain, market share pendaftaran haji melalui BSI juga meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025.

Dari total 422.300 pendaftar haji nasional tahun lalu, sebanyak 226.400 di antaranya mendaftar melalui BSI.

Untuk fase keberangkatan, BSI juga mendominasi dengan porsi 83,5 persen dari total kuota jemaah haji 2026 berasal dari nasabah yang mendaftar melalui BSI.

Adapun peningkatan penghimpunan dana tersebut turut mendorong total aset BSI menjadi Rp 460,1 triliun pada Maret 2026.

Capaian itu mengantarkan BSI masuk jajaran lima besar bank nasional setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026.

Sementara dari sisi pembiayaan, BSI mencatat pertumbuhan sebesar 14,39 persen (yoy) menjadi Rp 329 triliun.

Mayoritas pembiayaan disalurkan ke segmen konsumer dan ritel dengan porsi mencapai 72,37 persen.

Kualitas pembiayaan juga tetap terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) gross membaik menjadi 1,8 persen dari sebelumnya 1,88 persen.

Sementara NPF nett berada di level 0,38 persen. "Kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan NPF gross sebesar 1,8 persen membaik 8 bps dibandingkan tahun sebelumnya," kata Anggoro.

Selain pertumbuhan pembiayaan dan dana murah, laba BSI juga ditopang kenaikan fee based income sebesar 22,98 persen (yoy) menjadi Rp 2,09 triliun pada Kuartal I 2026.

Bisnis emas menjadi kontributor terbesar FBI dengan kontribusi 33,69 persen atau senilai Rp705 miliar, tumbuh 125 persen yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan gadai emas yang naik 58,3 persen (yoy) dan transaksi E-mas yang melonjak lebih dari 2.700 persen.

"Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain," tuturnya.

Baca juga: Laba Bank Syariah Nasional Melejit 313 Persen usai Spin Off

Tag:  #cetak #laba #bersih #triliun #pada #kuartal #2026 #tabungan #haji #emas #jadi #mesin #penopang

KOMENTAR