Remaja Berani Bicara di Depan Otoritas, Tanda Perkembangan Psikologi yang Sehat
Keberanian seorang siswi SMAN 1 Pontianak yang menyampaikan protes secara langsung kepada juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI menjadi sorotan publik.
Siswi yang bernama Josepha Alexandra terlihat menyampaikan keberatan dengan tenang di hadapan figur otoritas.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk menyampaikan pendapat di depan figur otoritas merupakan bagian dari perkembangan psikologis yang sehat.
Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian mengambil risiko sosial yang mulai terbentuk pada masa remaja.
“Keberanian speak up sebenarnya wajar dan dapat dimengerti ketika anak merasa ada sesuatu yang tidak adil atau tidak sesuai,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Speak up bukan sekadar melawan
Vera menekankan, yang perlu diperhatikan bukan hanya keberanian anak menyampaikan pendapat, tetapi juga cara penyampaiannya.
Ketika dilakukan dengan tenang, jelas, dan tetap menghargai orang lain, sikap tersebut mencerminkan komunikasi asertif, bukan sekadar emosi atau bentuk perlawanan.
Dalam konteks ini, protes yang disampaikan secara tepat justru menunjukkan kemampuan remaja dalam mengelola emosi sekaligus menyampaikan pandangan secara konstruktif.
Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian, Mengapa Korban Baru Berani Speak Up Setelah Berbulan-bulan?
Suanana final Lomba Cerdasa Cermat Empat Pilar MPR yang digelar di Pontianak, Kalbar pada Sabru (9/5/2026).
Pentingnya ruang bagi anak untuk bersuara
Menurut Vera, kemampuan menyampaikan keberatan tidak selalu berdampak negatif.
Justru, anak yang mampu mengungkapkan pendapat dengan sopan menunjukkan bahwa ia merasa aman dan percaya suaranya layak didengar.
Sebaliknya, anak yang selalu diam belum tentu berada dalam kondisi psikologis yang lebih baik. Ia bisa saja terbiasa menahan diri karena takut, tidak percaya diri, atau terbiasa berada dalam lingkungan yang menekan.
Komunikasi asertif bisa dilatih sejak kecil
Kemampuan berbicara tegas namun tetap menghormati orang lain tidak muncul begitu saja.
Vera menegaskan bahwa komunikasi asertif dapat dilatih sejak dini melalui lingkungan keluarga dan pendidikan yang suportif.
Hal ini bisa dilakukan dengan membiasakan anak menyampaikan alasan atau pendapatnya, memberi ruang untuk berdiskusi tanpa langsung dihakimi, serta memberikan contoh bagaimana perbedaan pendapat dapat disampaikan secara sehat.
“Lingkungan yang memberi kesempatan anak untuk bicara sangat berperan dalam membentuk keberanian dan kemampuan komunikasi asertif,” jelasnya.
Dampak ketika anak tidak didengar
Jika anak terus-menerus diminta diam dan hanya mengikuti tanpa ruang untuk menyampaikan pendapat, hal tersebut dapat berdampak pada perkembangan kepercayaan dirinya.
Anak berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang enggan berbicara, sulit mengekspresikan perasaan, dan menganggap bahwa suaranya tidak penting.
Baca juga: Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral
Menyikapi kritik dan otoritas secara sehat
Vera juga menyoroti tantangan lain, yaitu bagaimana sebagian orang dewasa masih kesulitan menerima kritik, terutama dari anak yang lebih muda.
Hal ini kerap dipengaruhi oleh pola pikir hierarkis yang menempatkan anak sebagai pihak yang belum layak berpendapat.
Padahal, menurutnya, kesalahan atau kekeliruan bisa terjadi pada siapa saja, termasuk figur otoritas.
Karena itu, penting untuk membangun budaya dialog yang sehat, di mana kritik dapat disampaikan secara sopan tanpa harus merendahkan pihak lain.
“Yang terpenting adalah bagaimana keberatan disampaikan dengan tenang, objektif, dan tetap menghormati semua pihak,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara pada remaja bukan sekadar tindakan spontan, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang yang lebih luas: belajar menyuarakan kebenaran dengan cara yang tepat.
Tag: #remaja #berani #bicara #depan #otoritas #tanda #perkembangan #psikologi #yang #sehat