Akhir Tragis Noelia, Korban Kekerasan Seksual yang Akhiri Hidup dengan Euthanasia
- Seorang perempuan asal Barcelona, Spanyol, bernama Noelia Castillo Ramos (25), mengembuskan napas terakhirnya melalui prosedur euthanasia di sebuah fasilitas perawatan jangka panjang Sant Pere de Ribes, Kamis (26/3/2026).
Melansir Newsweek dan AOL, Jumat (3/4/2026), ia memilih mengakhiri hidup secara legal setelah menderita kelumpuhan separuh badan (paraplegia) akibat percobaan untuk mengakhiri hidup, usai menjadi korban serangkaian kekerasan seksual.
Keputusan berat ini diambil Noelia bukan tanpa halangan. Sang ayah, Gerónimo Castillo, sempat menempuh jalur hukum selama 18 bulan untuk membatalkan prosedur tersebut.
Baca juga: Konten Kekerasan Seksual Bikin Overthinking, Apa yang Harus Dilakukan?
Namun, usahanya ditolak oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Ibunda Noelia, Yolanda, mengaku tidak sejalan dengan pilihan putrinya, meski pada akhirnya ia "menghormatinya".
"Mari kita lihat apakah saya bisa beristirahat karena saya tidak tahan lagi dengan keluarga ini, saya tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya, saya tidak tahan lagi dengan semua yang menyiksa pikiran saya dari apa yang telah saya lalui," ucap Noelia dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Spanyol, Antena 3.
Jalan panjang Noelia menuju akhir penderitaan fisik dan mental
Penyintas tiga insiden kekerasan seksual
Menjelang akhir hayatnya, Noelia sempat membagikan kisah kelamnya dalam sebuah wawancara televisi.
Ia membantah rumor liar di dunia maya yang mengatakan bahwa kekerasan seksual terjadi di penampungan migran oleh orang asing. Ia juga mengungkap, ia diberikan hak untuk euthanasia karena "depresi."
Noelia turut meluruskan bahwa dirinya merupakan penyintas tiga insiden kekerasan seksual yang berbeda di masa lalu.
Kejadian pertama melibatkan mantan kekasih yang memacarinya selama empat tahun. Serangan kedua terjadi di sebuah kelab malam oleh dua pria, dan puncaknya adalah serangan bergilir oleh tiga orang di sebuah pusat hiburan.
Trauma dan percobaan untuk mengakhiri hidup
Trauma mendalam dari rentetan kejadian tersebut mendorongnya untuk mencoba mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai lima sebuah gedung apartemen pada Oktober 2022.
Insiden nahas itu membuat Noelia mengalami cedera tulang belakang parah pada tingkat L3. Kondisi medisnya dipenuhi dengan nyeri neuropatik, gangguan sensorik, inkontinensia, dan ketergantungan fungsional yang sangat tinggi.
Baca juga: No Viral No Justice, Mengapa Banyak Kasus Kekerasan Seksual Baru Ditangani Polisi Setelah Viral?
Menggunakan kursi roda, kemampuannya untuk sekadar berjalan di dalam ruangan sangatlah terbatas.
"Ayah saya melihat saya jatuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi setelah semua yang dia lakukan, saya tidak merasa kasihan lagi padanya," kata Noelia, merujuk pada penentangan sang ayah terhadap keinginannya untuk euthanasia.
Merasa "dipaksa" hidup oleh keluarga
Langkah hukum sang ayah memaksa Noelia hidup di luar keinginannya selama 601 hari. Ia harus menunggu proses persidangan dari lima pengadilan yang berbeda, sebelum permohonan euthanasianya tak terbendung lagi.
"Mengapa dia ingin saya hidup? Untuk menahan saya di rumah sakit?" ucap Noelia.
Ia pun menambahkan mengenai sikap sang ayah yang tidak menghormati, dan tidak akan pernah menghormati, keputusannya.
Bagi Noelia, penderitaan yang ia pikul jauh lebih besar dari sekadar rasa kehilangan yang akan dialami keluarganya.
Baca juga: Cara Tepat Bantu Korban Kekerasan Seksual
Noelia Castillo Ramos (25) (kiri), perempuan asal Barcelona, Spanyol, yang mengakhiri hidup secara legal melalui prosedur eutanasia, setelah menderita kelumpuhan separuh badan (paraplegia) akibat percobaan bunuh diri, usai menjadi korban serangkaian kekerasan seksual.
"Tidak ada seorang pun di keluarga saya yang mendukung. Saya pergi dan kalian tetap di sini dengan semua rasa sakit, tetapi bagaimana dengan semua penderitaan yang telah saya tanggung selama bertahun-tahun? Saya hanya ingin pergi dengan tenang dan menghentikan rasa sakit ini," tutur dia.
"Kebahagiaan seorang ayah atau ibu atau saudara perempuan tidak seharusnya mendahului kebahagiaan seorang putri," lanjut Noelia.
Riwayat psikiatris dan persetujuan medis
Kehidupan Noelia telah dipenuhi tantangan sejak usia 13 tahun, saat orangtuanya berpisah. Ia berada di bawah asuhan pemerintah Catalan, serta terdiagnosis mengidap gangguan obsesif-kompulsif (OCD) serta gangguan kepribadian ambang (BPD).
Meski memiliki rekam jejak kecemasan dan depresi kronis, hasil evaluasi psikiatri memastikan, ia tidak mengalami gangguan depresi mayor yang dapat merusak kapasitasnya dalam mengambil keputusan secara sadar.
Berdasarkan regulasi Spanyol tahun 2021, prosedur euthanasia diizinkan bagi pasien dewasa dengan kondisi medis yang melumpuhkan, kronis, dan tidak dapat disembuhkan, tanpa adanya tekanan eksternal.
Sepuluh bulan setelah menjalani masa neurorehabilitasi pascajatuh, Noelia mengajukan permohonan tersebut. Pada tahun 2024, Catalan Guarantee and Evaluation Commission sepakat memberikan persetujuan, dengan alasan situasi klinis Noelia sudah tidak bisa dipulihkan.
Kontroversi euthanasia di mata publik
Keputusan euthanasia aktif memang kerap memicu polarisasi. Para pendukung meyakini, setiap individu memiliki otonomi, termasuk kebebasan memilih cara menutup usia dengan bermartabat demi mengakhiri penderitaan.
Di sisi lain, para kritikus khawatir legalisasi praktik ini melemahkan persepsi tentang pentingnya kehidupan.
Perjuangan Noelia pun memicu perdebatan luas di negaranya. Uskup Kepulauan Canary José Mazuelos Pérez melontarkan kritik keras. Menurut dia, kasus ini menjadi bukti bahwa mereka semua telah gagal sebagai masyarakat.
Senada dengan hal itu, Pemimpin Partai Oposisi PP Alberto Núñez Feijóo turut menyayangkan sistem perawatan yang ada.
"Institusi yang seharusnya melindungi Noelia mengecewakannya. Saya menolak untuk percaya bahwa negara tidak memiliki sarana untuk memberinya perawatan," kata Feijóo.
Sahabat terdekat Noelia dikabarkan sempat melakukan upaya terakhir demi membujuknya mengubah pikiran, tetapi tekad wanita itu tak tergoyahkan.
Di saat-saat terakhirnya, Noelia menolak didampingi keluarga saat prosedur suntikan mematikan dilakukan dan memilih menyendiri bersama dokternya.
Sebagai "bekal" perjalanannya, ia dilaporkan hanya membawa empat lembar foto yang merekam memori bahagia, yakni potret saat ia melukis wajah sang ibu, foto anjing peliharaan masa kecil, momen hari pertama sekolah, dan potret dirinya saat masih kecil.
Baca juga: Isu Kekerasan Seksual Kian Masif, Awas Terpicu Emosi Negatif
Tag: #akhir #tragis #noelia #korban #kekerasan #seksual #yang #akhiri #hidup #dengan #euthanasia