Waspada, 4 Gangguan Tidur Ini Bisa Jadi Tanda Awal Demensia
- Kualitas tidur yang kamu jalani memiliki dampak langsung terhadap kesehatan otak. Sebaliknya, kondisi otak juga memengaruhi pola tidurmu.
Ketika tubuh mengalami gangguan tidur kronis, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Kondisi ini bisa menjadi sinyal peringatan akan masalah yang lebih serius, termasuk risiko demensia.
“Hubungan antara gangguan tidur dan demensia merupakan bidang penyelidikan yang dinamis dan berkembang pesat,” kata asisten profesor neurologi di Yale School of Medicine, Dr. Arman Fesharaki-Zadeh, melansir HuffPost, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Mengigau Saat Mimpi Bisa Memprediksi Risiko Demensia di Masa Mendatang
"Ada hubungan yang kuat antara gangguan tidur, khususnya gangguan tidur gelombang lambat (SWS) yang juga disebut sebagai tidur nyenyak, dan peningkatan risiko demensia. Perubahan dalam pola tidur, termasuk penurunan SWS, dapat berfungsi sebagai penanda awal penyakit neurodegeneratif," lanjut dia.
Bahaya gangguan pola tidur pada kesehatan otak
Otak memiliki sistem glymphatic yang membersihkan racun saat kamu terlelap, termasuk amiloid beta. Ini merupakan protein yang menumpuk di otak seiring berkembangnya demensia. Jika gangguan tidur merusak siklus alami, tubuh mungkin sedang memberi peringatan dini.
Selain itu, memori terbentuk dalam tiga tahap, yaitu pengkodean (encoding), konsolidasi (consolidationi), dan pengambilan (retrieval).
Penyebab insomnia pada lansia.
"Konsolidasi sangat didukung oleh tidur nyenyak dan REM, serta menstabilkan dan mengintegrasikan informasi yang baru diperoleh, termasuk kontekstualisasi emosional. Pengambilan memungkinkan akses ke jejak memori yang tersimpan," jelas Fesharaki-Zadeh.
“Gangguan tidur, terutama selama tahap konsolidasi, dapat menyebabkan gangguan memori yang terus-menerus," kata dia.
Ahli saraf Dr. Rob Nawaz Khan menambahkan bahwa demensia memengaruhi fungsi otak, memori, ritme sirkadian, dan perilaku.
“Jadi, penyakit dini dapat mengganggu jam tubuh dan pola tidur normal,” tutur dia.
Gangguan tidur yang bisa menandakan demensia
1. Insomnia yang Sangat Parah
Sulit tidur sesekali tidaklah mengkhawatirkan, tetapi insomnia yang muncul mendadak perlu dievaluasi. Insomnia baru yang parah mencakup kesulitan luar biasa untuk mulai terlelap.
Penderita juga bisa merasakan gangguan hebat di siang hari, seperti rasa lelah ekstrem dan perubahan suasana hati.
“Pada penyakit Alzheimer, kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, perubahan perilaku di malam hari, dan kantuk di siang hari adalah hal biasa karena jaringan otak yang mengatur siklus tidur-bangun secara bertahap memburuk,” ungkap ahli saraf, Dr. Fawad Mian.
2. Mengantuk di waktu yang tidak wajar
Ilustrasi mengantuk saat mengemudi
Ritme sirkadian mengatur jadwal harianmu untuk terjaga dan merasa lelah. Jika terganggu, tubuh menjadi tidak sinkron dengan lingkungan sekitar.
Baca juga: Pelupa Tak Selalu Tanda Demensia, Kenali Gejalanya
Akibatnya, kata Mian, seseorang mungkin tidur lebih banyak ada siang hari dan terjaga pada malam hari. Perubahan ini sering dikaitkan dengan kebingungan dan perubahan perilaku.
“Hal ini terjadi karena degenerasi saraf mempengaruhi jam internal otak,” tutur dia.
Adapun, orang yang mengalaminya bisa terbangun berulang kali dengan perasaan disorientasi pada malam hari atau sundowning.
3. Mengigau
Kondisi ini dikenal sebagai Gangguan Perilaku Tidur (Sleep Behaviour DIsorder) REM.
Mian mengatakan, memperagakan mimpi secara fisik, alias mengigau, berpotensi menjadi tanda awal demensia tertentu, khususnya demensia tubuh Lewy dan Parkinson.
Penderitanya bisa berteriak, mengumpat, meninju, hingga melompat dari tempat tidur. Ini sering kali merupakan respons terhadap mimpi yang menakutkan.
Ilustrasi mengigau.
“Ini terjadi bertahun-tahun sebelum gejala ingatan muncul, karena daerah batang otak yang mengontrol kelumpuhan otot saat bermimpi terkena dampaknya sejak dini,” tambah Mian.
4. Sering Berkeliaran di Malam Hari
Bangun dan berkeliling rumah pada malam hari dalam keadaan bingung bisa menjadi gejala demensia. Saat ini terjadi, ritme sirkadianmu terganggu dan tubuh merasa gelisah. Pikiran mungkin lebih aktif, sehingga menyebabkan kurangnya waktu istirahat.
"Kondisi ini mengurangi kemampuan otak untuk membersihkan limbah protein dalam semalam, yang seiring waktu dapat berkontribusi pada penurunan kognitif,” papar Khan.
Tentu saja, masalah tidur bukan berarti seseorang pasti menderita demensia. Jika kamu mengalami gangguan tidur berkelanjutan dan dibarengi perubahan ingatan, segera periksa ke ahli saraf.
Sebaliknya, jika hanya ada gangguan tidur tanpa efek lain, berkonsultasi dengan spesialis tidur adalah cara terbaik untuk mengatasi keluhanmu.
Baca juga: Rutin Mendengarkan Musik Bantu Kurangi Risiko Demensia pada Lansia
Tag: #waspada #gangguan #tidur #bisa #jadi #tanda #awal #demensia