Bukan Cuma Pintar, Ini Kunci Anak Tumbuh Tangguh yang Sering Lupa Diajarkan Orangtua
- Saat ini, banyak orangtua berlomba-lomba mendidik buah hatinya agar meraih nilai tinggi, berperilaku sempurna, dan mencetak deretan prestasi.
Tujuannya agar sang anak tumbuh menjadi sosok yang sukses dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di masa depan.
Namun, berbagai riset membuktikan, ketahanan mental dan rasa percaya diri tumbuh subur dari satu kemampuan yang sering lupa diajarkan oleh orangtua, yakni merasa aman dalam menjadi diri sendiri.
Baca juga: 3 Cara Membangun Resiliensi pada Anak, agar Bermental Tangguh dan Tak Mudah Menyerah
"Dalam pekerjaan saya mempelajari lebih dari 200 anak, saya menemukan bahwa di balik pembangkangan dan masalah perilaku, hampir selalu ada anak yang tidak merasa nyaman mengekspresikan apa yang mereka rasakan dan butuhkan," kata certified conscious parenting coach, Reem Raouda, dalam tulisannya di CNBC Make It, Minggu (5/4/2026).
Dengan kata lain, seberapa aman perasaan anak saat berada di dekatmu hari ini, akan sangat membentuk karakternya saat ia dewasa kelak. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi kembali pola pengasuhan.
Berikut cara membuat anak merasa aman menjadi diri sendiri.
Cara membangun keamanan emosional anak
1. Biarkan anak menikmati emosinya
Kebanyakan orangtua memiliki refleks untuk buru-buru menenangkan atau memperbaiki situasi yang tidak nyaman.
Saat si kecil menangis, kamu mungkin spontan berkata "Kamu tidak apa-apa". Begitu pula saat ia marah, kamu langsung menyuruhnya untuk tenang. Kamu cenderung mencari jalan keluar tercepat dari momen emosional tersebut.
Ilustrasi anak menangis. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.
"Akibatnya, anak-anak belajar untuk memutuskan hubungan dari diri mereka sendiri lebih cepat dan lebih cepat. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan adalah orangtua yang dapat bertahan dalam perasaan itu bersama mereka lebih lama dari yang terasa nyaman," ungkap Raouda.
Baca juga: Cara Mengajari Anak Menghadapi Ketidakpastian Menurut Ahli, Jadi Lebih Tangguh
Tahanlah dorongan untuk sekadar mengisi keheningan dengan kata penenang. Coba katakan bahwa kamu melihatnya sedang bersedih, tegaskan bahwa kamu selalu ada untuknya, dan berikan ia waktu.
Menurut Raouda, tindakan sederhana ini mengajarkan bahwa emosi negatif itu wajar dan aman untuk dilalui.
2. Beri ruang untuk memaknai dunia batinnya
Tanpa disadari, orangtua sering mengesampingkan perasaan anaknya secara sepihak.
Kalimat seperti, "Kamu baru saja makan, masa sudah lapar lagi?" atau "Dia itu temanmu, kamu tidak boleh membencinya," sering terlontar begitu saja.
Meski niatmu baik, respons ini membuat anak tidak memercayai instingnya dan membiarkan orang lain mendefinisikan pengalaman batinnya.
"Penelitian tentang validasi emosional menunjukkan, anak-anak yang perasaannya secara konsisten dikesampingkan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan memercayai penilaian mereka sendiri," kata Raouda.
Ilustrasi orangtua bersama anak. Psikiater menjelaskan bahwa pola komunikasi dan cara orang tua memperlakukan anak sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan yang sehat saat dewasa.
Alternatifnya, bertanyalah tentang apa yang sebenarnya ia rasakan atau pikirkan. Setelah itu, diamlah dan biarkan ia mengambil alih pemahaman atas pengalamannya sendiri.
3. Pahami perbedaan berkembang dan beradaptasi
Raouda mengungkap, anak yang paling penurut terkadang justru menjadi individu yang paling tidak aman secara emosional.
Mereka telah belajar sejak dini bahwa bersikap patuh dan menjaga kedamaian adalah cara termudah agar tetap dicintai. Mereka rela menekan perasaannya hanya demi memberikan apa yang kamu butuhkan.
Sebaliknya, anak yang berani berargumen, melawan, dan mengekspresikan rasa frustasinya secara terbuka, sering kali merupakan sosok yang merasa paling aman di dekatmu. Mereka tahu bahwa cinta orangtuanya tidak bersyarat.
Baca juga: Laki-laki Sering Dianggap Lebih Tangguh daripada Perempuan, Benarkah Demikian?
4. Berhenti menilai dan mulailah memerhatikan
Kalimat pujian dangkal seperti "Kerja bagus" atau kritik semacam "Itu mengecewakan" mungkin terkesan wajar. Namun, frasa tersebut bisa menyiratkan pesan keliru bahwa sang anak selalu diukur.
Alih-alih memberikan penilaian seperti itu, cobalah mendeskripsikan proses yang kamu lihat dan tunjukkan rasa ingin tahumu terhadap usahanya.
Pendekatan tanpa penghakiman ini akan menciptakan ruang yang jauh lebih aman bagi mental anak.
Ilustrasi orangtua dan anak.
5. Tidak semua momen membutuhkan respons
Keinginan untuk selalu mengarahkan atau mengoreksi perilaku anak biasanya didorong oleh rasa cinta.
Namun, jika setiap gejolak emosi selalu langsung direspons, anak tidak akan memiliki ruang untuk memproses perasaannya secara mandiri.
"Mereka belajar mencari jawaban ke luar, dan seiring berjalannya waktu, berhenti mendengar pikiran mereka sendiri. Tahan keinginan untuk membimbing setiap momen, dan cobalah untuk hadir tanpa agenda tertentu," tutur Raouda.
Baca juga: Mitos Sindrom Anak Tunggal yang Tak Terbukti, Ini Cara Mengasuhnya agar Tangguh dan Mandiri
Kelola emosimu sendiri lebih dulu
Mengajarkan keamanan emosional harus dilakukan secara tulus. Anak sangat peka dan bisa merasakan perbedaan antara orangtua yang hanya berpura-pura tenang, dengan mereka yang benar-benar stabil secara mental.
Oleh karena itu, Raouda menyarankan agar kamu harus menyadari reaksimu sendiri.
"Sebelum merespons anak di momen sulit, tariklah napas dalam-dalam dan tanyakan pada dirimu sendiri: apakah kamu sedang bereaksi terhadap perasaannya, atau justru memproyeksikan emosimu sendiri?" pungkas dia.
Tag: #bukan #cuma #pintar #kunci #anak #tumbuh #tangguh #yang #sering #lupa #diajarkan #orangtua