Ahli Ungkap Masalah Tumbuh Kembang Tersering akibat Gawai
Ilustrasi anak bermain gawai. (Freepik. )
20:50
12 April 2026

Ahli Ungkap Masalah Tumbuh Kembang Tersering akibat Gawai

- Pesatnya perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada pola tumbuh kembang anak. 

Di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, penggunaan gawai yang tidak terkontrol justru memunculkan berbagai persoalan baru yang kini semakin sering ditemui.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K) mengungkapkan, salah satu masalah utama yang muncul adalah terganggunya stimulasi perkembangan anak akibat minimnya interaksi langsung.

“Penggunaan gawai pada anak, terutama jika tidak didampingi, itu menghamabt stimulasi dari interaksi dua arah yang seharusnya didapatkan anak,” jelas Prof. Mei saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (11/4/2026).

Baca juga: Pakar UGM Ungkap Celah Kebocoran Data dalam Pembatasan Medsos Anak

Menurutnya, interaksi dua arah memiliki peran penting dalam mengoptimalkan fungsi indra anak sejak dini.

“Kalau interaksi dua arah, seharusnya semua indra terpakai, tak hanya mendengar tapi mengekspresikan apa yang ia rasa dan sesori lainnya,” lanjutnya.

Gangguan bahasa ekspresif pada anak paling banyak

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K).Dok. Pribadi Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K).

Salah satu dampak yang paling sering terlihat adalah gangguan bahasa, khususnya dalam kemampuan berbicara. 

Anak yang terlalu sering terpapar gawai cenderung mengalami hambatan dalam mengekspresikan diri secara verbal.

“Yang sering terjadi ketika anak terlalu banyak main gawai yaitu gangguan bahasa ekspresif. Anak paham perintah, tapi enggak bisa menyampaikan atau berbicara dengan normal,” ujar Prof. Mei.

Baca juga: Waspadai Speech Delay pada Anak, Ini Penyebab dan Tandanya Menurut Psikolog

Kondisi ini membuat anak terlihat seolah memahami lingkungan sekitar, tetapi kesulitan untuk merespons atau berkomunikasi secara efektif. 

Jika tidak ditangani sejak dini, hal ini dapat memengaruhi kemampuan sosial dan akademik anak di masa depan.

Masalah perilaku dan emosi anak jadi kedua terbanyak

Selain gangguan bahasa, penggunaan gawai berlebihan juga berdampak pada perubahan perilaku anak. 

Prof. Mei menjelaskan, anak bisa menjadi lebih mudah marah dan sulit mengontrol emosi.

“Kemudian, ada juga masalah perilaku anak yang jadi mudah amrah, dan masalah tidur juga cukup banyak dialami di tengah pesatnya teknologi digital,” katanya.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele Catatan Tumbuh Kembang Anak, Bisa Jadi Kunci Deteksi Dini Autisme

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada anak secara individu, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya. 

Anak yang kesulitan mengelola emosi cenderung mengalami hambatan dalam bersosialisasi, baik di rumah maupun di sekolah.

Anak menjadi kurang bersosialisasi

Paparan gawai yang berlebihan juga membuat anak cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya. 

Interaksi dengan teman sebaya maupun keluarga menjadi berkurang, sehingga kemampuan bersosialisasi tidak berkembang optimal.

“Anak akhirnya cuma cuek dengan lingkungannya, tidak mau berinteraksi, tidak bisa berkawan dengan yang lainnya. Ini cukup banyak,” tutur Prof. Mei.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk belajar berinteraksi, berbagi, dan memahami emosi orang lain.

Baca juga: Bukan Cuma Pintar, Ini 5 Ciri Anak Tangguh yang Bisa Diajarkan Orangtua

Munculnya istilah virtual autism

Fenomena lain yang kini mulai banyak dibicarakan adalah munculnya istilah virtual autism. 

Kondisi ini menggambarkan gejala yang menyerupai autisme, tetapi dipicu oleh penggunaan gawai secara berlebihan, bukan gangguan perkembangan saraf.

“Termasuk sekarang ada istilah virtual autism, dengan gejala seperti autis tetapi sebetulnya dia bukan autis. Masalah perilaku ini disebabkan karena penggunaan gawai berlebih,” terang Prof. Mei.

Ia menekankan, kondisi ini dapat dicegah jika orangtua memberikan pendampingan yang tepat dalam penggunaan gawai. 

Interaksi langsung, stimulasi yang sesuai, serta pembatasan waktu layar menjadi kunci penting untuk menjaga tumbuh kembang anak tetap optimal di tengah era digital.

Baca juga: Mendikdasmen Sebut Larangan Medsos Cegah Anak Kecanduan Gawai, Bagaimana jika Telanjur?

Tag:  #ahli #ungkap #masalah #tumbuh #kembang #tersering #akibat #gawai

KOMENTAR