Apakah Ada Efek Jangka Panjang Balita Hipotermia di Gunung?
Salah satu lokasi perkemahan para pendaki di atas Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2015).(KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo)
10:05
15 April 2026

Apakah Ada Efek Jangka Panjang Balita Hipotermia di Gunung?

- Anak-anak, terlebih bayi, merupakan kelompok yang rentan mengalami hipotermia saat berada di lingkungan dengan suhu dingin seperti di gunung. Kondisi yang termasuk dalam kedaruratan medis ini perlu mendapatkan penanganan segera agar efeknya tidak fatal.

Hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara drastis di bawah 35 derajat Celcius merupakan salah satu kegawatdaruratan medis untuk anak-anak.

Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua, mengatakan, hipotermia tidak selalu berdampak jangka panjang pada kesehatan. 

Menurut dr. Arifin, jika anak mengalami hipotermia ringan dan sedang, kondisi ini tidak akan memberikan dampak jangka panjang.

Dengan catatan, orangtua bisa mengenali gejala dengan cepat, suhu tubuhnya dibuat menjadi lebih hangat, sehingga anak tidak mengalami gejala yang lebih serius.

"Asalkan anak tidak mengalami henti napas, enggak henti jantung, dan tidak terjadi kekurangan oksigen yang jangka panjang di otaknya," ucapnya saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Bahaya Bawa Bayi 1 Tahun Naik Gunung, Bukan Cuma Hipotermia

ILUSTRASI - Tas gunungrottonara/Pixabay ILUSTRASI - Tas gunung

Penanganan tepat tentukan keselamatan saraf

Secara medis, sistem organ balita memiliki daya resiliensi yang cukup baik jika paparan suhu udara dingin segera dihentikan dengan metode pemulihan yang tepat dan cepat di lapangan.

"Bahkan dalam kasus hipotermia yang berat pun, dari laporan kasus, itu bisa normal lagi kalau misalnya rewarming-nya bagus. Dan ada istilah bahwa accidental hypothermic (hipotermia tak disengaja) bisa jadi efek neurologikal-nya bagus kalau memang tatalaksananya sesuai," papar dr. Arifin.

Baca juga: Video Viral Bayi Diduga Hipotermia di Gunung Ungaran, Petugas Jelaskan Kronologinya

Ancaman nyata dari kekurangan oksigen

Risiko kecacatan permanen di masa depan baru akan muncul jika kondisi balita sudah mencapai tahapan kritis yang mengganggu sirkulasi darah dan ritme pernapasan.

Kedinginan ekstrem yang dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan organ vital, terutama otak, mengalami kekurangan pasokan oksigen atau asfiksia.

"Kalau hipotermianya berat, disertai dengan asfiksia, sesak napas yang berkepanjangan, ada syok di mana sirkulasinya sangat bermasalah dan tidak sampai ke otak, ada henti jantung, atau keterlambatan penanganan jangka panjang, ini jadi masalah," tegas dr. Arifin.

Ia menekankan bahwa kerusakan otak tersebut tidak dipicu secara langsung oleh paparan udara dingin itu sendiri, melainkan oleh kondisi hipoksia akibat jantung yang tak lagi mampu memompa darah secara optimal.

"Bukan karena dinginnya, tetapi karena cedera otak yang terjadi akibat kurangnya oksigen dan gangguan sirkulasi tubuh. Nah, komplikasi jangka panjangnya bisa gangguan neurologis dan kelainan dari neurokognitif," sambung dr. Arifin.

Baca juga: Kenali Apa Itu Hipoksia, Penyebab, Gejala, dan Komplikasinya

Menguras cadangan gula darah anak

Selain disfungsi sirkulasi oksigen, hipotermia di rute pendakian juga berpotensi menguras habis cadangan energi balita.

Saat melawan suhu gunung, organ tubuh dipaksa bekerja ekstra keras, sehingga membakar kalori dan gula darah yang jauh lebih masif.

"Saat anak kedinginan, tubuhnya bekerja lebih keras untuk tetap hangat. Nah, untuk menghasilkan panas dalam tubuhnya, dia perlu bakar energi yang lebih banyak. Kalau cadangan energinya sedikit, maka gula darah bisa ikut turun," terang dr. Arifin.

Ia menganalogikan tubuh anak layaknya sebuah mesin kecil yang rentan kehabisan bahan bakar saat dipaksa menyala di lingkungan yang tidak bersahabat.

Menurunnya kadar gula darah alias hipoglikemia ini semakin memperburuk tingkat kesadaran balita, yang sering kali menjadi titik kritis sebelum saraf otak mengalami cedera.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Bumil Makan Kacang Hijau Bikin Rambut Bayi Lebat?

Keterlambatan evakuasi memperburuk keadaan

Tantangan terberat saat balita terserang hipotermia di tengah proses pendakian adalah lokasi evakuasi yang jauh dari fasilitas medis memadai.

Dokter Arifin mengungkap, waktu emas untuk meresusitasi jantung dan memulihkan sirkulasi ke otak, sering kali terbuang habis selama perjalanan turun gunung yang rumit.

"Kalau terjadi sesuatu di atas itu evakuasinya akan rumit. Jadi, risiko untuk keterlambatan pertolongan itu juga jadi concern kalau kita mengajak anak untuk mendaki gunung," ungkap dia.

Situasi tak terduga inilah yang berpotensi mengubah hipotermia menjadi pemicu cacat otak atau gangguan kognitif jangka panjang, jika intervensi medis sudah terlambat diupayakan.

"Jadi, untuk anak usia setahun, masalah terbesarnya bukan kuat apa enggak dia naik, tapi persiapannya. Support system-nya cukup kuat enggak kalau misalkan terjadi sesuatu dalam proses pendakian itu," pnugkas dr. Arifin.

Baca juga: Mendaki Gunung Andong via Temu Kidul yang Lagi Ramai, Seperti Ini Kondisi Jalurnya

Tag:  #apakah #efek #jangka #panjang #balita #hipotermia #gunung

KOMENTAR