Alasan Psikologis Lansia Sulit Melepas Perabot dan Barang Lawas
Ilustrasi gudang, penyimpanan barang di gudang.(SHUTTERSTOCK/TREKANDSHOOT)
08:40
16 April 2026

Alasan Psikologis Lansia Sulit Melepas Perabot dan Barang Lawas

- Banyak generasi milenial dan Z yang sering mengeluhkan kebiasaan orangtua mereka, para boomers, yang terbiasa menyimpan barang-barang usang di dalam rumah.

Misalnya adalah tumpukan thinwall bekas, kantung plastik di celah-celah dapur, atau perabot lawas yang sudah rusak, tetapi dibiarkan menumpuk dan berdebu karena dirasa "masih bisa diperbaiki".

Rasa enggan membuang barang ini kerap memicu perdebatan panjang antara anak dan orangtua. Namun, ada penjelasan psikologis di balik tumpukan barang milik para orangtua.

“Generasi ini tumbuh di era pascaperang yang dibentuk oleh penjatahan dan pembangunan kembali ekonomi,” kata psikolog klinis Daniel Glazer, melansir Upworthy, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Kebiasaan Menumpuk Barang, Wajar atau Tanda Hoarding Disorder?

Mengapa orangtua enggan membuang perabot lawas?

Kebiasaan yang dipengaruhi oleh zaman

Glazer melanjutkan bahwa ketidakmampuan generasi lama untuk melepaskan barang fisik memang sering mendapat banyak kritik dari anak-anak mereka.

Namun, jika kita meluangkan waktu sejenak untuk melihat sisi psikologi mengenai kelekatan mereka pada sebuah obyek, perilaku protektif ini menjadi jauh lebih masuk akal dan bisa dipahami.

“Menyimpan barang adalah kebiasaan adaptif. 'Siapa tahu nanti akan berguna' adalah ungkapan umum dalam rumah tangga, di mana mengganti sesuatu tidak begitu mudah, atau terjangkau,” ucap Glazer.

“Ada juga elemen keamanan emosional yang berasal dari hal-hal yang telah mengelilingi kita selama puluhan tahun peristiwa kehidupan, atau bahkan sepanjang hidup," sambung Co-founder US Therapy Rooms ini.

Baca juga: Pola Pikir yang Bikin Susah Membuang Barang Tak Terpakai di Rumah 

Barang lama sebagai saksi sejarah hidup

Bagi banyak orangtua, menyingkirkan benda-benda lawas yang selama ini memenuhi sudut ruangan bisa menandakan pergolakan mental yang jauh lebih besar ketimbang sekadar urusan kebersihan.

Psikoterapis holistik Esin Pinarli menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, ada kesadaran yang lebih mendalam bahwa hidup ini tidaklah selamanya.

“Melepaskan obyek bisa terasa simbolis, hampir seperti melepaskan bab-bab kehidupan mereka. Jika tidak ada yang menanyakan bab-bab itu lagi, obyek-obyek itu menjadi bukti nyata bahwa pengalaman-pengalaman itu penting," ucap dia.

Baca juga: Belanja Lebih Sadar, Ini 5 Cara Memberi Jeda Sebelum Membeli Barang di Tengah Ekonomi Sulit

Ilustrasi orang tua dengan Alzheimer. Penyakit Alzheimer merupakan gangguan kejiwaan yang akan mencuri masa tua yang bahagia. Ini sering kali dimulai dengan hilangnya ingatan.DGLimages Ilustrasi orang tua dengan Alzheimer. Penyakit Alzheimer merupakan gangguan kejiwaan yang akan mencuri masa tua yang bahagia. Ini sering kali dimulai dengan hilangnya ingatan.

Jadi, lanjut Pinarli, ketika orangtua enggan membuang barang-barang tersebut, ini bukanlah sikap keras kepala.

"Ini tentang ikatan batin, pencarian makna, serta ketakutan akan dilupakan atau terhapusnya bagian dari sejarah hidup mereka," kata dia.

Baca juga: Kisah Ardi yang Sulit Buang Barang Lama, Ada Komik dari Tahun 2004

Cara membantu orangtua membersihkan rumah

Memulai percakapan dengan orangtua secara penuh empati dan pengertian dapat membantu proses menyortir barang berjalan lebih lancar, serta memperdalam hubungan emosional dengan mereka.

1. Tanyakan kisah di balik barang tersebut

Cara pertama yang bisa kamu lakukan adalah memulai obrolan dengan kalimat ramah seperti, "Aku tahu barang-barang ini sangat berarti buat Ibu atau Bapak. Aku penasaran ingin mendengar cerita di baliknya."

Pendekatan ini menggeser fokus utama dari sekadar paksaan membuang barang menjadi sebuah sesi nostalgia yang menghormati nilai kenangan di dalamnya.

“Ketika orangtua merasa dilihat dan dipahami, mereka sering kali lebih terbuka untuk akhirnya melepaskan. Ini memvalidasi bahwa kelekatan itu adalah tentang memori dan identitas, bukan sekadar barang,” jelas Pinarli.

Baca juga: Kebiasaan Menimbun Barang Bisa Turunkan Kualitas Hidup, Ini Kata Psikolog

Ilustrasi merapikan dan memilah barang-barang di rumahShutterstock Ilustrasi merapikan dan memilah barang-barang di rumah

2. Berikan kebebasan untuk memilih

Gunakan kalimat bernada tawaran seperti, "Mana yang kira-kira masih ingin disimpan, dan mana yang sekadar menghabiskan tempat di ruangan ini sekarang?".

Menurut Pinarli, pertanyaan ini memberi mereka otoritas penuh atas harta bendanya sendiri.

Alih-alih mendikte benda apa yang harus dibuang ke tempat sampah, kamu justru mengundang mereka merenungkan secara mandiri benda mana yang masih relevan.

"Daripada memberi tahu mereka apa yang harus dibuang, itu mengundang mereka untuk merefleksikan apa yang masih terasa bermakna, dibandingkan dengan apa yang mungkin tidak lagi bermanfaat. Rasa kendali itu mengurangi sikap defensif," terang Pinarli.

Baca juga: Beres-beres Rumah: Manfaatnya untuk Lingkungan dan Kesehatan Mental

3. Tawarkan bantuan untuk menyortir barang

Selanjutnya, tawarkan bantuan untuk menyortir barang. Katakan bahwa kamu bersedia membantu agar barang-barang yang penting tetap terjaga rapi. Pendekatan psikologis ini membingkai kegiatan bersih-bersih sebagai proses yang saling mendukung.

"Pendekatan ini meyakinkan mereka bahwa kenangan dan warisan mereka tidak akan diabaikan atau dihapus," pungkas Pinarli.

Tag:  #alasan #psikologis #lansia #sulit #melepas #perabot #barang #lawas

KOMENTAR