15 Juta Pasien Diabetes Tipe 2 di Indonesia Tak Terdeteksi
Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes melitus yang paling umum terjadi seiring bertambahnya usia. Ciri-cirinya seperti mudah haus dan lapar.(Shutterstock/Vitalii Vodolazskyi)
10:10
18 April 2026

15 Juta Pasien Diabetes Tipe 2 di Indonesia Tak Terdeteksi

- Saat ini, diabetes melitus di Indonesia diibaratkan sebagai fenomena gunung es yang mengkhawatirkan.

Angka antrean pasien di fasilitas kesehatan setiap harinya rupanya belum mencerminkan jumlah penderita yang sesungguhnya ada di tengah masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, perkiraan total penderita diabetes melitus menembus angka 30 juta jiwa.

Sayangnya, separuh dari perkiraan populasi tersebut masih beraktivitas dengan normal tanpa menyadari kondisi kesehatannya.

Baca juga: Bahaya Obat Diabetes Dipakai Tanpa Resep untuk Diet Instan

"Yang kami temukan melalui CKG (Cek Kesehatan Gratis) itu baru sekitar 15 juta (yang terdeteksi)," kata Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Jutaan warga belum terdiagnosis secara medis, sehingga kadar gula darah mereka terus merusak fungsi organ vital tanpa adanya intervensi pengobatan yang memadai sedari dini.

Fenomena gunung es kasus diabetes tipe 2

Ketakutan mengetahui kondisi medis

Hambatan terbesar dalam melacak belasan juta penderita yang belum terdiagnosis sering kali berasal dari kondisi psikologis masyarakat.

Terdapat kecenderungan menghindar dari pemeriksaan medis, karena cemas akan hasil diagnosis yang mungkin mengharuskan mereka mengubah total kebiasaan makan sehari-hari.

Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

"Malah kadang suka ada fenomena ada kesempatan untuk Cek Kesehatan Gratis misalnya, atau MCU (medical check up) di perusahaannya, malah takut orangnya. Takut ketahuan," ujar Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM.

Ketakutan akan hilangnya kebebasan mengonsumsi makanan enak membuat banyak orang memilih untuk menutup mata.

Di sisi lain, stigma mengenai fungsi layanan fasilitas kesehatan di tingkat pertama juga membuat masyarakat enggan datang jika belum merasakan sakit parah.

"Biasanya kalau datang ke Puskesmas masyarakat tuh merasanya, 'Saya sakit' gitu ya kan. 'Kalau saya sehat, ngapain saya ke Puskesmas?'," tutur dr. Nadia.

Ancaman fatal akibat terlambat penanganan

Absennya keluhan fisik yang signifikan pada tahap awal membuat penyakit kelainan metabolik ini sering dibiarkan merusak tubuh dari dalam.

Padahal, perilaku abai terhadap riwayat kesehatan ini berakibat sangat fatal ketika pasien akhirnya jatuh ke fase komplikasi tingkat lanjut.

"Kalau pengendalian gula darahnya tidak maksimal, otomatis kerusakan yang terjadi pembuluh darah ginjal menjadi lebih cepat terjadi," ucap Prof. Yunir.

Keterlambatan diagnosis pada belasan juta pasien ini berdampak langsung pada lonjakan klaim beban pembiayaan organ ginjal di tingkat nasional.

Dokter Nadia mengungkapkan bahwa angka pasien cuci darah terus meningkat pesat akibat kerusakan pembuluh darah mikrovaskuler yang tidak tertangani.

Baca juga: Terlalu Banyak Makan Daging Merah Bisa Meningkatkan Risiko Diabetes, Ini Kata Ahli

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jumat (17/4/2026).

"Pembiayaan gagal ginjal itu dari 2019 ke 2025 itu meningkat 478 persen," tutur dia.

Memaksimalkan fasilitas skrining gratis

Saat ini, pemerintah tengah berupaya keras melacak sisa populasi penderita diabetes yang belum tersentuh penanganan medis.

Akses pengecekan kesehatan laboratorium dasar yang selama ini dianggap mahal mulai dipermudah agar masyarakat mau memeriksakan diri secara proaktif, salah satunya melalui program CKG.

Kolaborasi lintas sektor juga terus diupayakan untuk membawa fasilitas skrining sedekat mungkin dengan tempat berkumpulnya masyarakat awam. Pengecekan gula darah juga kini mulai diintegrasikan dengan berbagai aktivitas publik di akhir pekan.

"Nah, ini yang kami mau coba jaring juga dengan Kemenkes, kalau ada Car Free Day mungkin di pojok-pojok tuh mau ngecek gula darah sewaktu namanya," papar Prof. Yunir.

Baca juga: 3 Cara Mencegah Diabetes pada Remaja

Langkah deteksi dini ini diharapkan mampu memutus rantai perburukan penyakit pada pasien yang selama ini merasa sehat.

Baik dr. Nadia maupun Prof. Yunir sepakat bahwa edukasi masif masih harus terus digencarkan agar masyarakat mau mengubah pola pikir mereka terkait pencegahan penyakit.

"Yuk kita ajak masyarakat, kita edukasi masyarakat, untuk kemudian mereka bisa menjaga kesehatan diri mereka sendiri," kata dr. Nadia.

Tag:  #juta #pasien #diabetes #tipe #indonesia #terdeteksi

KOMENTAR